google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Gerakan Selamatkan Gumuk: FIB Unej dan SINTAS Satukan Aksi Nyata

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Jember, iKoneksi.com — Sebuah gerakan kolaboratif yang menggetarkan hati lahir dari tanah Jember. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) bersama Asosiasi Sejarah Lintas Batas (SINTAS) resmi menginisiasi langkah konkret untuk menyelamatkan gumuk lanskap alam khas Jember yang kian terancam oleh penambangan dan alih fungsi lahan.

Melalui kegiatan bertajuk “Gumuk: Sejarah, Ekologi, dan Memori”, yang berlangsung selama tiga hari, 7–9 Oktober 2025, lebih dari 70 peserta dari kalangan akademisi, aktivis, komunitas lokal, mahasiswa, hingga perwakilan pemerintah daerah duduk bersama. Mereka tak sekadar berdiskusi, tetapi menyusun peta jalan penyelamatan gumuk yang berpijak pada sejarah, ekologi, dan kesadaran kolektif masyarakat.

Kegiatan ini menandai langkah awal implementasi kerja sama jangka panjang antara FIB Unej dan SINTAS yang berfokus pada pengarusutamaan isu sejarah lingkungan di Indonesia.

SINTASTalk: Dari Museum Mandek hingga Placemaking

Acara dibuka dengan sesi SINTASTalk, yang langsung menyalakan semangat peserta. Budayawan Dr. Eko Suwargono membuka diskusi dengan menyuarakan kebuntuan 15 tahun pendirian museum Jember yang hingga kini belum terealisasi sebagai benteng pelindung situs purbakala dan warisan lokal.

Menyambung hal itu, Diana Trisnawati, Co-Founder SINTAS, memperkenalkan konsep placemaking sebagai solusi alternatif. Menurutnya, pelestarian lingkungan dan sejarah tak harus menunggu kebijakan dari atas, tetapi bisa tumbuh dari bawah (bottom-up), dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

“Placemaking memungkinkan warga memberi makna ulang pada ruangnya sendiri. Mereka bukan hanya penerima kebijakan, tapi penggerak utama dalam melindungi situs warisan, termasuk gumuk,” kata Diana dengan tegas.

Konsep ini menjadi fondasi gerakan baru yang memadukan riset akademik dengan partisipasi warga sebuah pendekatan yang membumi namun berorientasi masa depan.

Diskusi Meletupkan Ide dan Kritik

Sesi roundtable discussion menjadi ruang paling hidup dari keseluruhan acara. Hampir 70 peserta menumpahkan keresahan, ide, hingga strategi untuk menyelamatkan gumuk. Komunitas Ajegeh Gumuk memamerkan basis data digital mereka di ajegehgumuk.com, yang kini menjadi arsip publik terbuka tentang gumuk di Jember.

Kisah inspiratif datang dari Mapensa Faperta Unej, kelompok mahasiswa pertanian yang membeli sebidang gumuk untuk dikelola secara mandiri sebuah tindakan nyata di tengah minimnya kebijakan pelestarian.

Namun nada getir datang dari R.Z. Hakim (Sudut Kalisat) yang mengungkap ironi besar yaitu batuan gumuk Jember yang seharusnya dilestarikan malah dikirim hingga ke luar negeri.

“Sebagian batuan gumuk kita jadi bagian dari rel kereta dan taman di Disneyland Jepang, sementara di tanah asalnya justru habis ditambang,” ujarnya getir.

Pernyataan ini menjadi pukulan reflektif bagi seluruh peserta bahwa eksploitasi tanpa batas telah menggerus bukan hanya bentang alam, tapi juga identitas ekologis Jember.

Akademisi Bergerak: Sejarah dan Ekologi dalam Satu Napas

Diana membeberkan diskusi mengalir dengan perspektif lintas disiplin. Dosen dari berbagai bidang Ilmu Sejarah, Sastra, Hukum, hingga Pertanian Unej menegaskan gumuk tak bisa hanya dilihat sebagai objek hukum atau geologi, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan budaya dan ekonomi masyarakat.

“Gagasan inovatif bermunculan: penulisan cerita anak tentang gumuk, pengembangan komik edukatif, pendekatan ekobiografi sejarah, hingga penyusunan naskah akademik tandingan versi masyarakat sipil untuk menantang kebijakan yang eksploitatif,” jelas Diana.

Diskusi yang awalnya akademik berubah menjadi forum lintas batas yang memadukan sains, sastra, dan aktivisme lingkungan persis seperti nama penggagasnya: SINTAS, Sejarah Lintas Batas.

Menyusuri Gumuk: Dari Teori ke Kenyataan

Hari kedua kegiatan diisi dengan ekskursi lapangan ke Kalisat. Para peserta menyaksikan langsung perbandingan antara gumuk yang masih utuh dengan yang telah luluh lantak oleh penambangan. Warga lokal dan komunitas menjadi pemandu, membuka mata peserta terhadap kenyataan pahit di lapangan.

“Bagi sejarawan dan peneliti muda, pengalaman ini menjadi bahan penting untuk merekonstruksi narasi sejarah dan ekologis gumuk. Tak hanya memahami, mereka kini merasakan langsung bagaimana lanskap yang dulu menjadi pelindung alami kini berubah menjadi bekas galian tak bertepi,” terang Diana.

Lokakarya dan Deklarasi Kolektif

Kegiatan ditutup dengan lokakarya perumusan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pada hari ketiga. Setiap peserta diminta berkomitmen terhadap langkah konkret dari kontribusi tulisan ilmiah dan publikasi populer, kampanye media sosial, hingga pembuatan direktori gumuk daring.

“Forum juga menyepakati pembentukan tim kecil lintas lembaga untuk menyusun peta pelestarian gumuk Jember dan membangun jaringan nasional peduli lanskap alam. Gerakan ini bukan akhir, melainkan titik awal sebuah deklarasi kolektif. FIB Unej dan SINTAS berkomitmen menjadikan gumuk sebagai simbol gerakan sejarah lingkungan Indonesia ruang di mana manusia, alam, dan memori berpadu dalam kesadaran yang sama yaitu melestarikan bumi tempat berpijak,” tukasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *