google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ketika Nilai Kebangsaan Disemai di Balai RW Sukun, Kota Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan meningkatnya individualisme di masyarakat, nilai-nilai kepedulian dan solidaritas sosial terus digaungkan oleh para pemangku kebijakan. Salah satunya datang dari Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur, Saifuddin Zuhri, yang mengadakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas agar Masyarakat Berdaya dan Tangguh dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.”

Acara ini digelar di Balai RW 8, Jalan Melawis Timur, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada Ahad (9/11/2025), dan dihadiri puluhan peserta dari unsur masyarakat, tokoh warga, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan di wilayah tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang hangat dan reflektif mengenai pentingnya membangun kembali kesadaran kebersamaan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara tersebut menghadirkan dua narasumber utama yang memberikan pandangan mendalam terkait topik yang diangkat. Narasumber pertama, Anggota DPRD Kota Malang, Achmad Zakaria, membuka sesi dengan menyoroti pentingnya membangun masyarakat yang berdaya secara ekonomi dan sosial. Ia menilai, dalam menghadapi tantangan era digital dan globalisasi, masyarakat harus memiliki solidaritas yang kuat agar tidak terjebak dalam ketimpangan sosial.

“Solidaritas itu adalah jembatan menuju kesejahteraan. Ketika masyarakat saling mendukung, maka kekuatan itu akan tumbuh dari bawah. Pemerintah bisa memberikan program, tapi masyarakatlah yang menjadi motor penggerak agar kemandirian dan ketangguhan itu bisa tercapai,” terang Achmad Zakaria dalam paparannya.

Ia juga menambahkan, rasa kepedulian sosial yang kuat akan mendorong terbentuknya sistem sosial yang sehat dan produktif. Dalam konteks lokal, Achmad berharap kegiatan semacam ini dapat memperkuat sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

Sementara itu, narasumber kedua, Marhaen, memberikan pandangan yang lebih filosofis terkait makna kepedulian dan solidaritas. Ia menekankan bahwa kedua nilai tersebut tidak boleh berhenti pada hubungan personal atau antarwarga saja, melainkan harus ditingkatkan ke level kebangsaan.

“Kepedulian dan solidaritas bukan sekadar hubungan personal antarindividu atau komunitas. Nilai-nilai ini harus ditingkatkan statusnya menjadi kepedulian dan solidaritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkap Marhaen dengan tegas.

Menurutnya, masyarakat yang benar-benar tangguh adalah masyarakat yang mampu menjadikan kepedulian sosial sebagai energi kolektif untuk menjaga keutuhan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam sila kelima Pancasila.

“Dengan begitu, masyarakat yang tangguh dan berdaya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa niscaya. Cita-cita para pendiri bangsa, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bisa segera terwujud,” sebutnya.

Marhaen juga mengingatkan di tengah arus perubahan sosial yang cepat, terutama akibat perkembangan teknologi dan informasi, bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya. Nilai gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa harus terus dihidupkan agar tidak tergantikan oleh sikap individualis yang bisa memecah belah masyarakat.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung interaktif. Para peserta antusias memberikan tanggapan dan berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka mengimplementasikan nilai solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa peserta juga menyampaikan aspirasi agar kegiatan serupa diperbanyak, karena dinilai mampu menumbuhkan kembali kesadaran sosial di tingkat akar rumput.

Selain menjadi ajang edukasi, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Saifuddin Zuhri dalam mendekatkan nilai-nilai kebangsaan dengan masyarakat. Ia percaya bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bisa dilakukan melalui infrastruktur atau kebijakan ekonomi, tetapi juga melalui pembangunan karakter dan semangat kebersamaan di masyarakat.

Menutup kegiatan tersebut, Marhaen menegaskan kepedulian sosial adalah kekuatan moral bangsa yang tak tergantikan.

“Bangsa ini berdiri karena semangat gotong royong. Jika semangat itu padam, maka rapuhlah sendi kehidupan berbangsa. Mari kita rawat kepedulian dan solidaritas sebagai wujud cinta tanah air yang sesungguhnya,” pesannya.

“Kegiatan sosialisasi ini pun menegaskan bahwa semangat kepedulian dan solidaritas sosial bukan hanya milik generasi terdahulu, melainkan harus diwariskan dan dihidupkan kembali oleh generasi masa kini untuk menjaga Indonesia tetap kuat, bersatu, dan berdaulat,” tukas Marhaen.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *