google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pelatihan Public Speaking Diserbu Warga, Pemkot Malang Siapkan Mitra Komunikasi Publik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan media sosial, kemampuan berkomunikasi kini tidak lagi menjadi sekadar keterampilan tambahan. Kemampuan menyampaikan gagasan secara tepat, efektif, dan meyakinkan justru menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat modern.

Kesadaran itulah yang mendorong Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang menggelar Pelatihan Public Speaking di Hall A Mini Block Office Kota Malang lantai 4, Kamis (16/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 160 peserta yang mayoritas merupakan perempuan dari berbagai kalangan masyarakat.

Kepala Diskominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, menuturkan pelatihan ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Malang meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang komunikasi publik, sekaligus membangun kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menyampaikan informasi yang positif serta konstruktif.

Ia mengatakan pelatihan public speaking merupakan bagian dari rangkaian program peningkatan literasi komunikasi yang diselenggarakan sepanjang tahun 2026. Menurutnya, terdapat enam jenis pelatihan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Diskominfo Kota Malang melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

“Pada tahun 2026 ini kami menyelenggarakan enam pelatihan, yaitu pelatihan Master of Ceremony (MC) dan keprotokolan, public speaking, jurnalistik warga, pengelolaan media sosial, desain grafis, serta dasar-dasar fotografi,” ujarnya.

Diskominfo Siapkan SDM Komunikasi yang Adaptif

Nur Widianto menjelaskan, seluruh kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Pemerintah Kota Malang, khususnya melalui subkegiatan diseminasi informasi. Ia menilai kemampuan komunikasi kini memiliki nilai strategis yang semakin tinggi. Bahkan, kompetensi seperti public speaking, MC, hingga keprotokolan telah berkembang menjadi profesi yang memiliki peluang karier tersendiri.

“Karena itu, pemerintah daerah berupaya memberikan ruang pembelajaran kepada masyarakat agar mampu meningkatkan kapasitas dan daya saing di tengah perubahan zaman. Kemampuan public speaking, menjadi MC, maupun memahami keprotokolan saat ini memiliki nilai yang sangat penting. Bahkan dapat menjadi profesi tersendiri yang menjanjikan,” jelas Nur Widianto.

Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan tersebut sebagai bekal pengetahuan yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan sosial masing-masing. Selain itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan serta meminta maaf apabila masih terdapat kekurangan selama penyelenggaraan pelatihan.

Ali Muthohirin: Satu Informasi Bisa Menjangkau Dunia dalam Hitungan Detik

Pelatihan tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin. Dalam arahannya, Ali menekankan bahwa kemampuan komunikasi menjadi salah satu kompetensi paling penting di era digital.

Menurutnya, teknologi informasi telah mengubah pola penyebaran informasi secara drastis. Jika dahulu sebuah informasi hanya diketahui oleh lingkungan sekitar, kini satu pesan dapat menyebar ke berbagai daerah bahkan ke seluruh dunia hanya dalam hitungan detik melalui telepon genggam dan media sosial.

“Hari ini komunikasi menjadi kebutuhan bagi kita semua. Apa yang kita sampaikan tidak hanya diketahui tetangga atau lingkungan sekitar, tetapi bisa tersebar ke mana-mana hanya dalam waktu yang sangat singkat,” ujarnya.

Ali menjelaskan, komunikasi pada hakikatnya adalah proses mentransfer pengetahuan, menyampaikan ide, dan memastikan pesan dapat diterima dengan baik oleh audiens yang dituju.

“Karena itu, kemampuan berbicara di ruang publik tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Diperlukan pemahaman mengenai teknik, strategi, hingga kemampuan membaca karakter audiens,” serunya.

Menyesuaikan Cara Bicara dengan Audiens

Dalam paparannya, Ali menekankan pentingnya menyesuaikan gaya komunikasi dengan siapa pesan tersebut disampaikan. Menurutnya, seorang dosen akan menggunakan pendekatan berbeda ketika berbicara kepada mahasiswa dibandingkan saat berkomunikasi dengan masyarakat umum. Begitu pula dalam kehidupan keluarga.

“Cara berbicara kepada pasangan tentu berbeda dengan cara berbicara kepada anak. Komunikasi yang efektif selalu menyesuaikan siapa audiensnya,” jelas Ali.

Ia mengatakan kemampuan tersebut perlu terus diasah karena karakter masyarakat saat ini terus berubah seiring perkembangan teknologi dan informasi. Hal yang sama juga terjadi dalam pola pengasuhan anak. Jika dahulu pendekatan komunikasi cenderung lebih keras, kini banyak penelitian menunjukkan bahwa generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan dialogis.

“Anak-anak sekarang tumbuh bersama internet dan media sosial. Kalau kita tidak memahami cara berkomunikasi yang sesuai dengan dunia mereka, pesan yang kita sampaikan sering kali tidak diterima dengan baik,” ungkap alumnus IMM UMM iti.

Tantangan Pemerintah di Era Media Sosial

Dalam kesempatan tersebut, Ali juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi pemerintah dalam membangun komunikasi publik. Menurutnya, kerja keras pemerintah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dapat tertutupi oleh satu isu yang viral di media sosial. Fenomena tersebut membuat komunikasi publik menjadi faktor yang sangat menentukan dalam membangun persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

“Saya sering mengatakan bahwa kerja keras pemerintah selama satu tahun bisa saja tidak terlihat hanya karena satu persoalan yang ramai dibicarakan di media sosial,” ungkapnya.

Ia menilai media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik secara cepat. Karena itu, pemerintah dituntut mampu menyampaikan informasi secara tepat, terbuka, dan mudah dipahami masyarakat. Ali mengakui masih banyak program pemerintah yang belum diketahui secara luas oleh warga. Kondisi itu bukan selalu karena programnya tidak berjalan, tetapi sering kali karena komunikasi yang belum optimal.

Pemkot Ajak Warga Jadi Mitra Informasi

Melalui pelatihan tersebut, Pemerintah Kota Malang berharap para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga dapat menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Ali menegaskan pemerintah membuka ruang komunikasi dua arah, termasuk menerima kritik, saran, maupun masukan yang bersifat konstruktif demi perbaikan pelayanan publik.

“Kami ingin membangun komunikasi yang positif dan persuasif. Jika ada kebijakan yang perlu diperbaiki, silakan disampaikan. Kritik dan masukan sangat kami butuhkan,” tekannya.

Menurut Ali, komunikasi yang sehat antara pemerintah dan masyarakat akan membantu meningkatkan pemahaman publik terhadap berbagai program pembangunan yang sedang berjalan.

Pada akhirnya, ia berharap masyarakat tidak lagi mempertanyakan apa yang telah dikerjakan pemerintah daerah, karena seluruh program dapat diketahui, dipahami, dan dirasakan manfaatnya melalui komunikasi yang baik.

“Harapan kami, masyarakat bisa mengetahui berbagai program pembangunan yang telah dijalankan dan ikut menjadi bagian dari penyebaran informasi yang benar,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *