google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kadinkes Kota Malang Targetkan Nol Stunting Baru pada 2026

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menargetkan tidak ada kasus stunting baru (new zero stunting) pada 2026. Target ambisius ini disusun berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita melalui sistem pencatatan elektronik berbasis masyarakat.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan bahwa pemantauan status gizi dilakukan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang digelar Kementerian Kesehatan, serta melalui sistem elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat yang dikelola daerah.

“Kalau di daerah, kami menggunakan pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat secara elektronik. Dari data itu, saat ini tercatat sekitar 8,05 persen balita masuk kategori stunting dari sekitar 36 ribu balita yang diperiksa,” kata Husnul kepada iKoneksi.com, Jumat (30/1/2026).

Meski angka tersebut masih menunggu rilis resmi SSGI dari Kementerian Kesehatan, Dinkes Kota Malang telah menyiapkan strategi intervensi berbasis data untuk menekan prevalensi stunting sekaligus mencegah munculnya kasus baru.

Menurut Husnul, pendekatan penanganan stunting dilakukan melalui dua jalur utama. Pertama, mencegah calon stunting agar tidak berkembang menjadi stunting. Kedua, mengeluarkan balita yang sudah stunting dari kondisi tersebut melalui intervensi terukur.

“Target kami dua. Yang sudah stunting kita kurangi, yang calon stunting kita cegah supaya tidak menjadi stunting,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kelompok calon stunting yang menjadi perhatian utama meliputi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, bayi dengan berat badan lahir rendah, serta remaja putri dengan kadar hemoglobin (HB) rendah saat dilakukan skrining kesehatan.

Kelompok-kelompok tersebut dinilai Husnul berisiko tinggi melahirkan generasi stunting apabila tidak dilakukan intervensi sejak dini. Karena itu, Dinkes Kota Malang memperkuat skrining kesehatan remaja putri, pendampingan ibu hamil, serta pemantauan tumbuh kembang bayi sejak lahir.

Sementara untuk balita yang sudah mengalami stunting, Dinkes memprioritaskan intervensi pada anak usia di bawah dua tahun. Menurut Husnul, periode ini menjadi fase paling krusial karena respons perbaikan gizi dan pertumbuhan masih relatif cepat.

“Usia dua tahun ke bawah itu intervensinya lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan usia di atasnya. Karena itu, kami fokuskan penanganan di kelompok usia tersebut,” ucap Husnul.

Husnul menegaskan, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan semata. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pendidikan, sosial, hingga peran keluarga dan masyarakat.

Selain itu, pemanfaatan data elektronik menjadi kunci dalam menentukan kebijakan yang tepat sasaran. Melalui sistem pencatatan digital, Dinkes dapat memetakan wilayah dengan risiko tinggi, memantau perkembangan balita secara berkala, serta mengevaluasi efektivitas program intervensi.

“Data ini penting agar kebijakan kita tepat sasaran. Intervensinya jelas, sasarannya jelas,” sebut Husnul.

Ia menambahkan, hingga saat ini angka 8,05 persen tersebut merupakan hasil pencatatan elektronik di tingkat daerah dan provinsi. Dinkes Kota Malang masih menunggu rilis resmi SSGI nasional sebagai pembanding dan penguatan data.

“Dengan strategi pencegahan dan intervensi dini yang konsisten, Dinkes Kota Malang optimis target nol stunting baru pada 2026 dapat tercapai,” tandas Husnul

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *