google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Harga Cabai di Kota Malang Berat Sebelah, Kadispangtan Soroti Rantai Distribusi hingga Pasar

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Lonjakan harga cabai di pasar kembali menjadi sorotan. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menemukan adanya selisih harga mencolok antara tingkat petani dan pasar yang mencapai dua kali lipat.

Temuan ini muncul saat meninjau langsung lahan cabai milik Damanhuri, anggota Kelompok Tani Sido Makmur 1 di kawasan Jalan KH Malik Dalam. Di tingkat petani, harga cabai hanya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.

Namun di pasar, harga cabai masih bertahan di atas Rp 100.000 per kilogram. Kondisi ini memicu pertanyaan besar terkait rantai distribusi yang dinilai belum efisien.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, turut menyoroti persoalan tersebut sebagai isu krusial dalam stabilitas pangan dan pengendalian inflasi daerah.

Produksi Melimpah, Harga Tetap Tinggi

Ironisnya, tingginya harga cabai di pasar tidak sejalan dengan kondisi produksi di lapangan. Dari lahan seluas 7.000 meter persegi, Damanhuri mampu memanen cabai hingga 15 kali dalam empat bulan. Slamet mengungkapkan setiap kali panen, hasilnya mencapai 5 hingga 6 kuintal. Produktivitas ini dinilai cukup besar dan seharusnya mampu menekan harga di pasar.

Slamet menegaskan, kondisi ini menunjukkan adanya celah dalam sistem distribusi. Pasokan melimpah tidak otomatis berbanding lurus dengan harga yang terjangkau di tingkat konsumen.

“Produksi kita cukup baik. Artinya, persoalan bukan pada ketersediaan, tetapi pada distribusi dan rantai pasoknya,” tekan Slamet.

Distribusi Jadi Kunci, Pemerintah Siap Telusuri

Pemerintah Kota Malang memastikan akan menelusuri penyebab tingginya selisih harga tersebut. Penelusuran dilakukan mulai dari tingkat petani, distributor, hingga pedagang di pasar. Slamet menekankan pentingnya transparansi rantai distribusi agar margin harga tetap dalam batas wajar. Keuntungan di setiap lini dinilai sah, namun tidak boleh berlebihan hingga membebani masyarakat.

“Kalau margin terlalu tinggi, tentu harus kita evaluasi. Kita ingin harga tetap adil, baik untuk petani maupun konsumen,” ujarnya.

“Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi, mengingat komoditas cabai kerap menjadi penyumbang utama kenaikan harga pangan,” sambungnya.

Petani Untung, Konsumen Tertekan

Di sisi petani, kondisi harga saat ini sebenarnya menguntungkan. Damanhuri mengaku harga cabai di tingkat petani masih memberikan margin keuntungan dibanding biaya produksi.

“Harga sekarang bagus, masih untung untuk petani,” sebutnya.

Namun di sisi lain, tingginya harga di pasar justru membebani konsumen. Situasi ini menciptakan ketimpangan yang perlu segera diselesaikan. Slamet menegaskan, pemerintah akan mencari titik keseimbangan agar petani tetap sejahtera tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

“Tujuan akhirnya sederhana, petani untung, masyarakat juga tidak terbebani. Itu yang sedang kita kejar,” tutup Slamet.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *