google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

PTPP Buka Suara soal Aisyah Zakkiyah Asisten Rafi Ahmad Jadi Komisaris, Sorotan Publik Menguat

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – PT PP (Persero) Tbk (PTPP) akhirnya angkat bicara terkait pengangkatan Aisyah Zakkiyah sebagai anggota Dewan Komisaris yang belakangan menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menegaskan bahwa penunjukan komisaris sepenuhnya merupakan kewenangan pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Karena itu, perusahaan hanya menjalankan keputusan yang telah ditetapkan sesuai aturan yang berlaku.

“Terkait pengangkatan Ibu Aisyah Zakkiyah sebagai Komisaris, dapat kami sampaikan bahwa pengangkatan anggota Dewan Komisaris merupakan kewenangan RUPS,” ujar Joko Raharjo, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, keputusan tersebut berasal dari usulan Pemegang Saham Seri A Dwiwarna melalui Kementerian BUMN bersama pemegang saham pengendali, yakni Danantara Indonesia.

PTPP Tegaskan Jalankan Keputusan RUPS

PTPP menegaskan seluruh keputusan yang dihasilkan dalam RUPS dijalankan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan serta Anggaran Dasar Perseroan. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul munculnya berbagai tanggapan publik yang mempertanyakan latar belakang profesional Aisyah Zakkiyah dan relevansinya dengan sektor konstruksi yang menjadi bisnis utama PTPP.

Meski demikian, perusahaan tidak memberikan komentar lebih jauh terkait polemik yang berkembang. PTPP menegaskan fokusnya adalah melaksanakan hasil keputusan pemegang saham.

Profil Aisyah Zakkiyah Jadi Sorotan

Nama Aisyah Zakkiyah masuk dalam jajaran Dewan Komisaris PTPP setelah ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada 19 Mei 2026. Dalam perombakan tersebut, Aisyah menggantikan Ernadhi Sudarmanto yang sebelumnya menjabat sebagai komisaris.

Berdasarkan profil perusahaan, Aisyah merupakan lulusan Kimia Terapan dan Biokimia dari Gunma University, Jepang, pada 2015. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Komunikasi Internasional di Macquarie University, Sydney, Australia, dan lulus pada 2018. Sebelum bergabung di pemerintahan, Aisyah berkarier di sektor teknologi informasi dan korporasi swasta. Ia pernah menjabat sebagai Sales Division Team Leader PT Toyota Tsusho Systems Indonesia pada 2023–2024 dan Director and Strategic Planner PT Lumintoo Sukses Incomso pada periode 2024–2025.

Dari Jubir Menteri PU ke Kursi Komisaris BUMN

Karier Aisyah kemudian berlanjut di pemerintahan. Pada 2025, ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Komunikasi sekaligus Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum. Latar belakang tersebut memunculkan perdebatan di ruang publik setelah dirinya ditunjuk sebagai komisaris salah satu BUMN konstruksi terbesar di Indonesia.

Sejumlah unggahan di media sosial mempertanyakan pengalaman Aisyah yang dinilai lebih banyak berada di bidang komunikasi dibandingkan sektor konstruksi. Tak hanya itu, beredar pula klaim yang mengaitkan Aisyah dengan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo. Namun hingga kini belum terdapat keterangan resmi yang membuktikan adanya hubungan keluarga sebagaimana yang beredar di media sosial.

Pengangkatan Komisaris BUMN Kembali Jadi Perhatian

Fenomena sorotan publik terhadap pengangkatan komisaris bukan kali pertama terjadi di lingkungan BUMN. Sebelumnya, nama Mufli Budi Ananda juga sempat menjadi perhatian setelah menduduki posisi Komisaris PT Krakatau Posco, perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Posco.

Perdebatan mengenai latar belakang, kompetensi, serta mekanisme penunjukan komisaris di perusahaan negara kembali mengemuka dan menjadi perhatian publik. Di tengah sorotan tersebut, PTPP menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan komisaris telah dilakukan melalui mekanisme resmi dan sesuai ketentuan yang berlaku.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *