Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Kasus HIV Kota Malang 2026: 186 Positif dari 10.873 Pemeriksaan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Upaya mendeteksi HIV di Kota Malang masih menghadapi tantangan. Hingga Mei 2026, sebanyak 10.873 orang telah menjalani pemeriksaan, dan dari jumlah tersebut 186 orang terdeteksi positif HIV.

Data Dinas Kesehatan Kota Malang tersebut menunjukkan bahwa temuan kasus masih muncul di tengah upaya memperluas pemeriksaan kepada berbagai kelompok masyarakat. Dari 186 kasus yang ditemukan, sekitar 52–53 persen atau sekitar 100 orang berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL). Kasus lainnya ditemukan pada sejumlah kelompok sasaran pemeriksaan, antara lain ibu hamil, pasangan orang dengan HIV (ODHIV), pelanggan pekerja seks, wanita pekerja seks, calon pengantin, serta kelompok masyarakat lainnya.

Gunung Es HIV Jadi Perhatian

Besarnya angka pemeriksaan menjadi bagian penting dalam membaca persoalan HIV. Sebab, kasus yang tercatat merupakan kasus yang ditemukan melalui layanan pemeriksaan, sementara masyarakat yang belum menjalani tes belum diketahui statusnya.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki kepakaran dalam Pekerjaan Sosial Medis dan HIV/AIDS, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., menyebut persoalan HIV masih menghadapi fenomena gunung es. Menurut Rinikso, salah satu fenomena yang menarik perhatian saat ini adalah kelompok LSL. Ia juga melihat adanya perubahan karakteristik kasus HIV dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau dulu Kota Malang ini didominasi oleh penggunaan jarum suntik (penasun), tetapi sekarang sudah bergeser karena sudah jarang yang memakai,” kata Rinikso.

Deteksi Dini Tak Bisa Ditunda

Perubahan pola tersebut membuat penanggulangan HIV tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan terhadap orang yang sudah terdeteksi positif. Deteksi dini menjadi kunci untuk mengetahui status kesehatan seseorang sekaligus mencegah kemungkinan penularan lebih lanjut.

Rinikso menilai persoalan HIV juga tidak bisa sepenuhnya diselesaikan melalui pendekatan medis. Faktor perilaku dan lingkungan sosial harus menjadi bagian dari strategi penanggulangan.

“HIV di Indonesia selalu saya kritik karena penanganannya medical centris. Padahal ini bukan hanya soal medis, tetapi juga soal perilaku,” ujarnya.

Ia sekaligus mengingatkan agar upaya menemukan kasus tidak berubah menjadi stigma terhadap kelompok tertentu. Stigma justru berpotensi membuat masyarakat enggan menjalani pemeriksaan dan semakin menyulitkan proses deteksi.

Perluas Pemeriksaan, Jangan Tunggu Kondisi Memburuk

Dengan 186 kasus yang ditemukan dari 10.873 pemeriksaan, pekerjaan rumah penanggulangan HIV di Kota Malang tidak berhenti pada pencatatan jumlah kasus. Tantangan berikutnya adalah memperluas akses pemeriksaan dan mendorong masyarakat, terutama kelompok yang memiliki risiko, untuk mengetahui status HIV secara sukarela.

Deteksi yang lebih luas dinilai penting agar kasus tidak baru diketahui ketika kondisi kesehatan telah memburuk. Pada saat bersamaan, layanan pendampingan dan pengobatan perlu berjalan beriringan dengan pencegahan. Data tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa penanganan HIV membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: tes dan deteksi dini, pengobatan, edukasi, perubahan perilaku, sekaligus perlindungan dari stigma.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *