google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tragedi Remaja Berprestasi: Gagal Kuliah, Nyawa Jadi Taruhan

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Toba, iKoneksi.com – Kabar duka datang dari Kabupaten Toba. Seorang remaja berinisial KS (19), yang dikenal cerdas dan berprestasi, mengakhiri hidupnya setelah impian melanjutkan kuliah kandas akibat tidak mendapat restu dari orang tua. KS yang merupakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Kecamatan Parmaksian, sebelumnya dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan diterima di Politeknik Negeri Manado, Sulawesi Utara, jurusan Elektro. Namun, harapannya untuk menimba ilmu lebih tinggi terhenti karena kekhawatiran keluarganya.

Remaja Pendiam dan Berprestasi

KS dikenal sebagai sosok pendiam, rajin belajar, dan selalu masuk dalam tiga besar di sekolahnya. Rekan-rekan sekolah dan para tetangganya pun mengakui bahwa KS bukanlah remaja yang gemar bergaul, melainkan lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku-bukunya.

“Dia selalu fokus pada pelajaran, jarang berkumpul dengan teman-teman saat istirahat. Bisa dibilang dia sangat serius dalam menimba ilmu,” ujar salah satu temannya yang enggan disebutkan namanya.

Beberapa tetangga juga mengungkapkan kebanggaan mereka terhadap KS. Selain pintar, dia juga dikenal sebagai anak yang penurut dan tidak suka berkeliaran di luar rumah seperti kebanyakan remaja lainnya.

“Anak itu luar biasa, sangat rajin. Sepulang sekolah dia langsung pulang ke rumah dan mengulang pelajaran,” kata salah seorang warga bermarga Manurung.

Orang Tua Tak Merestui karena Jarak

KS merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Menurut keterangan warga setempat, bukan faktor ekonomi yang menjadi alasan orang tua KS tidak mengizinkannya kuliah, melainkan jarak yang terlalu jauh. Keputusan ini didasarkan pada kekhawatiran ayah KS yang telah berpisah dengan istrinya dan hanya tinggal berdua dengan sang anak.

“Kalau dia kuliah di Manado, ayahnya akan kesepian karena tidak ada lagi yang menemani di rumah,” ungkap seorang warga bermarga Sianturi.

Selain itu, KS yang dikenal sebagai pribadi tertutup dan kurang pergaulan juga menjadi perhatian keluarganya. Mereka khawatir KS akan kesulitan beradaptasi di tempat yang jauh tanpa ada orang yang mengawasi.

Tragis, Nyawa Jadi Taruhan

Merasa tertekan karena tidak mendapatkan restu, KS diduga mengalami depresi. Pada Rabu (19/3/2025), sekitar pukul 13.00 WIB, KS terlihat duduk sendirian di tepi sungai Desa Lumban Manurung. Ayahnya sempat membujuknya pulang sambil menjelaskan kondisi keluarga, tetapi KS tetap bertahan di tempat tersebut.

Setelah ayahnya pergi membeli token listrik, KS menghilang. Sang ayah yang kembali ke lokasi tidak menemukan keberadaan anaknya. Warga pun ikut mencari hingga akhirnya, dua hari kemudian, jasad KS ditemukan di sungai Desa Bius Barat, Kecamatan Parmaksian, pada Jumat (21/3/2025). Menurut Kapolsek Porsea, AKP Daniel Aritonang, korban diduga tenggelam di sungai dengan kedalaman sekitar tiga meter.

“Informasi yang didapat, korban lulus SNBP di Manado tahun ini,” ungkap Daniel.

Penyesalan yang Terlambat

Pihak keluarga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi dan menerima kenyataan bahwa KS meninggal karena tenggelam. Jasadnya pun telah dibawa ke rumah duka pada pukul 11.00 WIB.

“Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak orang tekanan mental pada anak muda tidak boleh diremehkan. Impian yang hancur, keterbatasan komunikasi, dan kurangnya dukungan bisa berdampak fatal. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi para orang tua untuk lebih memahami dan mendukung cita-cita anak mereka sebelum semuanya terlambat,” tutup Daniel. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *