google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Disporapar Kota Malang Susun Masterplan Wisata Baru, Kampung Tematik Dievaluasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kota Malang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu poros wisata Jawa Timur, menghadapi tantangan serius. Deretan kampung tematik yang pernah menjadi ikon wisata kota kini menunjukkan tanda-tanda penurunan pesona. Beberapa bahkan tidak lagi beroperasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut, sehingga penyusunan masterplan wisata menjadi langkah mendesak yang harus segera dieksekusi.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, mengatakan sejumlah destinasi yang masih berjalan dengan baik antara lain Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema, Kajoetangan Heritage, dan Kampung Sanan Tempe.

Namun ia menegaskan, keberlanjutan pengelolaan destinasi lokal ini tidak bisa hanya mengandalkan kreativitas masyarakat tanpa pendampingan dan regulasi. Dibutuhkan pembinaan rutin, peningkatan kapasitas pengelola, serta penguatan potensi lokal agar sebuah destinasi tidak kehilangan karakter khasnya.

Tantangan Nyata Wisata Kampung Tematik

Dalam satu dekade terakhir, kampung tematik menjadi ciri khas wisata Kota Malang. Konsep ini sempat mencuri perhatian nasional, bahkan mendatangkan wisatawan mancanegara. Namun, seiring waktu, tantangan baru muncul:

• pengelolaan yang tidak konsisten,
• minimnya pembaruan fasilitas,
• tidak adanya regulasi terpadu,
• dan persaingan destinasi wisata di kota/kabupaten sekitar.

“Beberapa kampung tematik mulai kehilangan peminat karena tidak ada pembaruan konsep. Ada pula destinasi yang harus berhenti beroperasi sepenuhnya. Situasi ini, menurut Baihaqi, harus dijawab dengan strategi baru yang terukur dan berkelanjutan,” tutur Baihaqi.

Kebutuhan Mendesak Masterplan Pariwisata

Baihaqi menjelaskan bahwa Kota Malang memiliki karakter khas wilayah perkotaan dengan ruang terbatas, sehingga penataan wisata tak boleh dilakukan secara sporadis.
Ia menekankan bahwa masterplan wisata akan menjadi panduan besar dalam merapikan berbagai aspek, mulai dari:

  1. Kantong parkir di sekitar destinasi agar tidak menimbulkan kemacetan.
  2. Penataan pedagang kaki lima (PKL) untuk menjaga kenyamanan pengunjung.
  3. Penguatan regulasi zonasi wisata agar tidak terjadi benturan fungsi ruang kota.

“Kajian Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) sebenarnya sudah pernah dilakukan pada 2019. Namun pandemi Covid-19 menghentikan seluruh proses. Tahun 2026, RIPPDA dijadwalkan kembali digarap dan menjadi fondasi resmi arah pembangunan wisata Kota Malang,” ucap Baihaqi.

Pengelolaan Tetap Berjalan Meski Masterplan Belum Selesai

Meski menunggu RIPPDA, Disporapar memastikan bahwa penguatan destinasi tetap berlanjut.
Ini dilakukan melalui:

  • penggunaan dana APBD,
  • pelatihan pengelola destinasi,
  • peningkatan fasilitas, dan
  • kerja sama CSR dengan berbagai perusahaan.

Baihaqi memberi contoh bagaimana dukungan CSR turut berperan dalam menunjang revitalisasi sejumlah destinasi seperti Kajoetangan Heritage, Kampung Warna-Warni Jodipan, dan Kampung Topeng. Pendekatan kolaboratif seperti ini dianggap mampu mengurangi beban APBD sekaligus mempercepat perbaikan fasilitas.

Respons DPRD Kota Malang

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyambut baik rencana Pemkot. Ia menyebut penyusunan RIPPDA merupakan agenda penting yang sudah dijadwalkan kembali pada 2026. Menurutnya, dokumentasi resmi seluruh destinasi sangat penting agar arah pengembangan wisata tidak berjalan tanpa basis data dan evaluasi.

Amithya menegaskan bahwa DPRD terus berkoordinasi dengan Disporapar, terutama dalam penguatan Kajoetangan Heritage salah satu destinasi yang kini menjadi favorit wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Baginya, pengelolaan yang berkelanjutan adalah kunci untuk mengembalikan Malang sebagai kota wisata yang solid, modern, dan berdaya tarik tinggi.

Harapan Baru untuk Masa Depan Wisata Kota Malang

Menurut Amithya melihat kondisi beberapa destinasi yang meredup, penyusunan masterplan bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi juga fondasi yang menentukan masa depan wajah wisata Kota Malang. Dengan regulasi baru, rencana pengembangan terukur, penataan ruang lebih baik, dan pembinaan masyarakat, Kota Malang berpeluang mengembalikan kejayaan kampung tematik sekaligus membuka peluang destinasi urban baru.

“Kota ini memiliki potensi besar mulai dari kekayaan budaya, lanskap kota yang fotogenik, hingga kreativitas warganya yang telah terbukti. Tantangannya kini adalah bagaimana potensi itu dirawat dan dikembangkan agar tidak sekadar menjadi tren sesaat, tetapi mampu tumbuh menjadi industri wisata kota yang berkelanjutan,” ungkap Mia sapaan akrabnya.

Dengan langkah terarah melalui RIPPDA dan masterplan pariwisata baru, Kota Malang bergerak menuju pembaruan.

“Saat kampung tematik mulai kehilangan pesona, inilah momentum untuk menata kembali seluruh wajah wisata agar lebih hidup, tertib, dan menarik bagi generasi mendatang,” pungkas Mia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *