Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

FIB UB dan Peking University Kolaborasi Majukan Industri Berbasis Budaya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat jaringan akademiknya di tingkat internasional. Kali ini, FIB UB menerima kunjungan akademik dari Peking University, Tiongkok, dalam upaya mengembangkan kerja sama di bidang industri berbasis budaya. Kunjungan yang berlangsung selama sepekan (3-9 Februari 2025) ini merupakan bagian dari visi Globalizing UB.

Rombongan yang terdiri dari 12 mahasiswa dan dipimpin oleh Prof. Dr. Yong (Hardy) Xiang, Dekan Institute for Cultural Industries, mengikuti berbagai agenda akademik serta eksplorasi budaya di Kota Malang. Kegiatan ini mencakup kuliah tamu, pertemuan dengan Rektor UB, serta observasi langsung ke kampung-kampung tematik di Malang Raya yang menjadi contoh pengembangan industri kreatif berbasis budaya.

Menyelami Kearifan Budaya Malang Raya

Salah satu destinasi utama dalam kunjungan ini adalah Kampung Budaya Polowijen (KBP). Pada Rabu (5/2/2025), rombongan disuguhkan pertunjukan Tari Gambyong dan Tari Topeng Malang yang dibawakan oleh mahasiswa UKM Sansekerta Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani magang kesenian di KBP.

Tak hanya menikmati pertunjukan, mereka juga ikut merasakan pengalaman budaya secara langsung. Para tamu dari Peking University belajar cethik geni di tungku tradisional, mengenal konsep pawon khas Jawa, hingga mencicipi makanan tradisional khas Malang. Selain itu, mereka juga mewarnai topeng Malangan sebagai bagian dari pengenalan karakter topeng khas Malang.

Sebelum mengunjungi KBP, rombongan sempat mampir ke Batik Soendari untuk praktek membatik langsung dan memahami lebih jauh industri kreatif berbasis budaya di Kota Malang. Setelah itu, mereka menuju Kampung Heritage Kajoetangan, menjelajahi rumah-rumah bersejarah, dan menikmati suasana sore khas Kota Malang. Di sana, mereka berdiskusi dengan Ketua Pokdarwis serta sejarawan FX Dominic BB Hera (Sisco) mengenai potensi pengembangan industri berbasis budaya.

FIB UB Siap Bangun Jaringan Industri Budaya Global

Dekan FIB UB, Hamamah, Ph.D., menegaskan kerja sama dengan Peking University merupakan langkah strategis untuk memperluas kontribusi UB dalam pengembangan industri budaya yang berkelanjutan.

“Kami ingin masuk ke dalam jaringan Peking University, termasuk organisasi di bawah UNESCO yang berfokus pada industri budaya. Ini adalah kesempatan emas bagi UB untuk belajar dari pengalaman mereka yang sudah maju dalam bidang ini,” ujar Hamamah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kerja sama ini tidak hanya terbatas pada pertukaran akademik, tetapi juga mencakup pengembangan potensi desa-desa budaya di Malang Raya.

“Kita akan melakukan penelitian bersama dan membina rural area, melibatkan mahasiswa agar mereka bisa memahami praktik industri budaya secara lebih mendalam,” katanya.

Sementara itu, Pemimpin rombongan Peking University, Prof. Hardy Xiang menegaskan Indonesia memiliki potensi besar sebagai mitra strategis bagi Tiongkok dalam industri budaya.

“Indonesia memiliki sumber daya budaya luar biasa. Kolaborasi ini bisa mencakup digitalisasi budaya, industri film, hingga pengembangan platform bersama untuk industri kreatif. Saya yakin hubungan budaya antara kedua negara akan semakin erat di masa depan,” ungkapnya.

Hardy juga menyoroti peluang kerja sama dalam konferensi internasional, publikasi akademik bersama, serta workshop industri budaya bagi mahasiswa dan profesional.

“FIB UB memiliki semangat luar biasa dalam mengembangkan industri budaya. MOU yang telah ditandatangani menjadi langkah awal untuk membangun lebih banyak proyek bersama di masa mendatang,” jelasnya.

Mengangkat Budaya Lokal ke Kancah Global

Dengan adanya kerja sama ini, FIB UB semakin menegaskan posisinya sebagai pusat akademik yang berorientasi global dalam industri budaya. Kolaborasi dengan Peking University diharapkan Hamamah dapat menghasilkan program konkret yang tidak hanya mendukung pertumbuhan industri budaya di Indonesia, tetapi juga mempromosikan kekayaan budaya Indonesia ke dunia internasional.

“Kerja sama ini menjadi bukti nyata bahwa industri budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan secara global,” tandas Hamamah. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *