google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Jalan Menuju Surga di Malang, Lahir dari Jimpitan Beras dan Gotong Royong Warga

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Di tengah padatnya kawasan permukiman Kota Malang, terdapat sebuah jalan yang namanya mampu mengundang rasa penasaran siapa saja yang melintas. Namanya unik, bahkan terdengar tidak biasa: Jalan Menuju Surga.

Jalan selebar sekitar dua meter tersebut berada di RW 09, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing. Membentang sepanjang kurang lebih 250 meter dari timur ke barat, jalan itu kini menjadi jalur alternatif yang menghubungkan kawasan Gandongan dengan Jalan Simpang Laksda Adi Sucipto.

Namun di balik nama yang unik tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan gotong royong warga yang berlangsung selama bertahun-tahun tanpa bantuan anggaran pemerintah.

Berawal dari Sawah dan Akses yang Sering Terhambat

Sebelum jalan itu ada, kawasan tersebut hanyalah hamparan sawah dan jalur irigasi. Warga Gandongan selama puluhan tahun hanya memiliki satu akses keluar masuk kampung melalui kawasan Locari.

Kondisi itu kerap menyulitkan warga, terutama saat jalan utama tertutup kegiatan hajatan, pemasangan tenda, atau acara peringatan hari besar.

Kesulitan juga dirasakan ketika ada warga yang meninggal dunia. Prosesi menuju pemakaman harus memutar cukup jauh karena tidak tersedia jalur alternatif yang memadai.

Keinginan memiliki akses tembusan mulai menguat pada 2018, ketika pembangunan tembok perumahan di sisi timur kampung membuka peluang terciptanya jalur baru.

Sebagian lahan yang dilintasi merupakan tanah pemerintah, sementara sebagian lainnya adalah sawah milik warga setempat yang secara sukarela mengizinkan sebagian lahannya digunakan untuk kepentingan bersama.

Jimpitan Beras Jadi Modal Pembangunan

Karena status lahan bukan jalan umum, warga menyadari pembangunan tidak mungkin mengandalkan bantuan pemerintah. Musyawarah pun digelar oleh pengurus RT bersama tokoh masyarakat untuk mencari solusi.

Hasilnya, warga sepakat menggalang dana melalui program jimpitan beras, tradisi gotong royong yang sudah lama dikenal di masyarakat Jawa.

Setiap pekan, warga RT 09 dan RT 10 menyumbangkan beras sesuai kemampuan masing-masing. Beras yang terkumpul kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli material pembangunan jalan.

Program tersebut berjalan hampir dua tahun

Semakin lama, dukungan warga semakin besar karena mereka melihat manfaat jalan tersebut bagi mobilitas masyarakat. Jalan yang semula hanya berupa rencana perlahan mulai terwujud berkat kebersamaan warga.

Dibangun Tanpa Upah, Hanya Bermodal Semangat Kebersamaan

Tidak hanya biaya yang ditanggung secara mandiri, proses pembangunan juga dilakukan sepenuhnya melalui kerja bakti warga. Setiap akhir pekan, warga bergotong royong mengerjakan pembangunan jalan tanpa menerima upah. Mereka hanya mengandalkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebagian warga menyumbangkan tenaga, sementara lainnya menyediakan konsumsi, minuman, hingga makanan ringan bagi para pekerja. Semangat guyub itulah yang akhirnya membuat pembangunan jalan dapat diselesaikan pada tahun 2020. Sejak saat itu, jalan tersebut mulai digunakan sebagai akses alternatif bagi pengendara sepeda motor maupun warga yang hendak menuju jalan utama dengan jarak yang lebih dekat.

Mengapa Disebut Jalan Menuju Surga?

Warga setempat sebenarnya lebih sering menyebut jalur tersebut sebagai “jalan tembusan”. Namun masyarakat luar justru mengenalnya sebagai Jalan Menuju Surga, nama yang kemudian melekat hingga sekarang dan bahkan muncul di Google Maps.

Nama tersebut lahir karena jalan itu dibangun sepenuhnya dari swadaya masyarakat tanpa meminta bantuan pemerintah. Bagi warga, pembangunan jalan tersebut merupakan bentuk amal bersama yang manfaatnya dirasakan banyak orang.

“Jalan ini dibangun dari urunan warga untuk kepentingan bersama. Semua dilakukan dengan gotong royong,” demikian filosofi yang berkembang di tengah masyarakat.

Kini Jadi Jalur Favorit, Perawatan Masih Swadaya

Meski pembangunan fisik telah selesai, tantangan berikutnya adalah pemeliharaan. Karena belum berstatus jalan umum, seluruh biaya perawatan masih ditanggung secara mandiri oleh warga. Mulai dari penerangan jalan hingga perbaikan paving dilakukan melalui iuran bersama yang dikelola tingkat RW.

Meski demikian, warga tetap mempertahankan komitmen untuk menjaga jalan tersebut karena manfaatnya sudah dirasakan masyarakat luas, tidak hanya warga Pandanwangi tetapi juga pengguna jalan dari berbagai kawasan sekitar. Jalan Menuju Surga kini bukan sekadar akses penghubung. Ia menjadi simbol bahwa gotong royong masih hidup dan mampu menghadirkan solusi nyata ketika masyarakat bergerak bersama.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *