google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Riset Akademisi ITN Malang: Alih Fungsi Lahan di Kota Batu Picu Ancaman Bencana dan Krisis Pangan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Kota Batu yang selama ini dikenal sebagai kota agrowisata kini menghadapi ancaman serius. Dalam satu dekade terakhir, laju alih fungsi lahan pertanian berlangsung begitu cepat seiring berkembangnya sektor pariwisata, pembangunan vila, hotel, hingga kawasan permukiman baru.

Fenomena tersebut menjadi sorotan Mohammad Reza, akademisi sekaligus dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Melalui riset disertasinya, Reza mengungkap bagaimana komodifikasi lahan pertanian telah mendorong perubahan tata ruang yang mengkhawatirkan dan berpotensi memicu krisis lingkungan di Kota Batu. Dalam penelitian berjudul Model Komodifikasi Lahan Pertanian di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Reza menemukan bahwa lahan pertanian semakin dipandang sebagai komoditas ekonomi semata, bukan lagi sebagai aset strategis untuk menjaga ketahanan pangan dan keseimbangan lingkungan.

Permukiman Merangsek ke Kawasan Rawan Bencana

Menggunakan metode analisis spasial berbasis Cellular Automata-Artificial Neural Network (CA-ANN), Reza menemukan fakta bahwa pertumbuhan kawasan permukiman di Kota Batu telah meluas hingga memasuki wilayah yang tergolong rawan bencana. Menurutnya, ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana dalam beberapa tahun terakhir.

“Ketika pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak berjalan seimbang, konsekuensinya adalah bencana. Dalam 10 tahun terakhir Kota Batu berulang kali mengalami longsor dan banjir akibat perubahan tata guna lahan,” ujar Reza, Kamis (16/7/2026).

“Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran ekspansi sektor pariwisata dan properti telah mengurangi fungsi kawasan resapan air serta mengubah bentang alam yang sebelumnya berperan menjaga stabilitas lingkungan,” sambung dia.

Petani Tersingkir, Hutan Lindung Mulai Tertekan

Reza menegaskan dampak pembangunan tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Reza mengungkapkan, semakin berkurangnya lahan produktif di kawasan bawah membuat banyak petani kehilangan ruang bercocok tanam. Kondisi itu memaksa sebagian petani berpindah ke wilayah yang lebih tinggi, termasuk kawasan yang berdekatan dengan hutan lindung.

“Untuk bertahan hidup, mereka melakukan pola tanam tumpang sari di area yang sebenarnya memiliki fungsi ekologis penting,” ucap dia.

Namun, menurut Reza, pola pemanfaatan lahan di kawasan lereng dan tebing curam justru meningkatkan risiko longsor ketika musim hujan tiba.

“Ketika kawasan atas kehilangan fungsi lindungnya, ancaman bencana tidak hanya dirasakan di lokasi tersebut, tetapi juga berdampak pada wilayah di bawahnya,” jelasnya.

Pemilik Modal Dominan, Posisi Petani Makin Lemah

Melalui pendekatan Social Network Analysis (SNA), penelitian tersebut juga mengungkap adanya ketimpangan relasi kekuasaan dalam pengelolaan lahan di Kota Batu. Mayoritas kepemilikan lahan kini disebut tidak lagi berada di tangan warga lokal, melainkan dikuasai investor dan pemilik modal dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani semakin lemah dalam mempertahankan lahan produktif.

“Di sisi lain, pemerintah daerah dihadapkan pada kebutuhan mendorong pertumbuhan sektor jasa dan pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah serta membuka lapangan kerja,” tutur dia.

Menurut Reza, situasi tersebut membutuhkan kebijakan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan perlindungan terhadap sektor pertanian.

“Jika alih fungsi lahan seperti yang terjadi di Kota Batu tidak segera dikendalikan, jangan heran apabila ketergantungan pangan dari luar negeri semakin tinggi di masa depan,” tegasnya.

Tawarkan Tiga Skenario Penyelamatan Kota Batu

Sebagai solusi, Reza menawarkan tiga skenario kebijakan melalui pendekatan System Dynamics Modeling. Skenario pertama adalah skenario optimistis dengan fokus pada pengendalian pembangunan dan perlindungan lingkungan. Skenario kedua bersifat moderat dengan mengakomodasi pembangunan secara seimbang. Sedangkan skenario ketiga merupakan skenario pesimistis yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan dampak ekologis maupun ketahanan pangan.

Selain itu, ia mendorong pemerintah memberikan insentif nyata bagi petani agar tetap mempertahankan lahan produktif. Bentuknya dapat berupa keringanan pajak, kepastian pupuk dan bibit, bantuan alat pertanian modern, hingga dukungan teknologi pertanian. Reza juga mengusulkan pemanfaatan lahan tidur di kawasan perkotaan melalui konsep vertical farming serta optimalisasi lahan kritis non-lindung bersama Perhutani sebagai alternatif menjaga produktivitas pertanian.

Peringatan untuk Masa Depan Kota Batu

Reza berharap hasil riset tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah di Malang Raya dalam menyusun kebijakan tata ruang yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan sektor wisata dan properti tetap dapat berjalan tanpa harus mengorbankan kawasan tangkapan air maupun lahan pertanian produktif.

“Pembangunan harus memberikan manfaat ekonomi, tetapi jangan sampai menghilangkan daya dukung lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat,” tandas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *