google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Lapasila Universitas Negeri Malang Hadirkan Santiaji Nasional Bertema Unik dan Relevan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Upaya membumikan nilai-nilai Pancasila terus digelorakan oleh kalangan akademisi. Salah satu yang mengambil langkah nyata adalah UPT Laboratorium Pancasila (LAPASILA) Universitas Negeri Malang (UM) dengan menggelar Santiaji Nasional Pancasila bertema Meretas Makna Pancasila di Layar Lebar: Film sebagai Medium Representasi Nilai Bangsa. Kegiatan tersebut dilangsungkan pada Jumat, (16/5/2025), bertempat di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20 Lantai 9, UM.

Acara yang dikemas dalam format dialog terbuka ini menghadirkan dua narasumber utama: Akhirul Aminulloh, Kepala LAPASILA UM yang juga dosen Ilmu Komunikasi UM, serta Nurman Hakim, sutradara kawakan sekaligus dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Keduanya memberikan perspektif yang segar dan mendalam mengenai bagaimana film dapat menjadi ruang kontestasi ideologis dan kultural, termasuk dalam menyampaikan nilai-nilai luhur Pancasila.

Film: Medium yang Hidup untuk Menyuarakan Nilai Bangsa

Dalam paparannya, Akhirul menekankan saat ini Pancasila tidak cukup hanya dipelajari dalam buku teks atau ceramah formal. Lebih dari itu, nilai-nilai Pancasila perlu dihidupkan dalam ruang budaya populer yang lebih akrab dengan generasi muda, salah satunya melalui film.

“Film bukan sekadar hiburan. Ia adalah representasi kebudayaan, ruang dialog, bahkan arena perebutan makna ideologi,” kata Akhirul.

Ia menambahkan lewat narasi visual, nilai-nilai seperti keadilan sosial, persatuan, hingga kemanusiaan yang adil dan beradab bisa dibawa ke ranah diskusi publik yang lebih luas.

Akhirul menyebut, penting bagi sineas dan akademisi untuk membangun kesadaran kritis dalam melihat film sebagai alat transformasi nilai.

“Dalam konteks ini, Pancasila tak lagi menjadi jargon politik semata, melainkan semangat hidup yang bisa diakses melalui kisah-kisah visual yang relevan dengan realitas masyarakat,” jelas Akhirul.

Nurman Hakim: Film Harus Jujur dan Berakar pada Rakyat

Sementara itu, Nurman Hakim, yang dikenal lewat karya-karyanya yang bernuansa spiritual dan sosial, menjelaskan bahwa keberhasilan film dalam merepresentasikan Pancasila bukan ditentukan oleh seberapa sering simbol negara ditampilkan, tetapi oleh seberapa dalam film tersebut menggali realitas hidup masyarakat Indonesia.

“Pancasila hidup dalam keseharian rakyat. Kalau film jujur menampilkan kehidupan masyarakat dengan segala keragamannya, maka di sanalah Pancasila bekerja,” kata Nurman.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah bagaimana dunia perfilman tidak terjebak dalam romantisme atau dogmatisme ideologi, tetapi mampu menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai ruh yang menyatu dengan cerita dan karakter.

“Dalam konteks ini, sutradara dan penulis naskah memegang peranan strategis untuk merancang narasi yang menyentuh akar permasalahan bangsa tanpa kehilangan nilai artistik,” tegas Nurman.

Respon Antusias dari Mahasiswa dan Sivitas Akademika

Santiaji Nasional ini disambut antusias oleh ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa lintas jurusan, dosen, serta pemerhati kebudayaan. Dialog berjalan hangat dan dinamis. Beberapa mahasiswa menanyakan bagaimana praktik konkret dari ide meretas Pancasila di dunia perfilman, serta peluang kolaborasi antara kampus dan sineas dalam menghasilkan karya visual yang berbobot secara ideologis.

Dalam sesi penutup, Akhirul menyampaikan LAPASILA UM akan terus menjembatani diskusi-diskusi kritis semacam ini.

Menghidupkan Pancasila Melalui Imajinasi Visual

Santiaji Nasional Pancasila ini ditegaskan Akhirul membuktikan pembicaraan tentang ideologi bangsa tidak harus kaku atau membosankan. Ketika dikemas dalam konteks budaya populer seperti film, nilai-nilai Pancasila bisa menjadi lebih membumi dan menyentuh ruang kesadaran yang lebih luas, terutama generasi muda yang hidup dalam dunia visual.

“Universitas Negeri Malang, melalui LAPASILA, telah menunjukkan bagaimana institusi pendidikan tinggi bisa menjadi ruang kreatif dan reflektif dalam merawat semangat kebangsaan. Dalam dunia yang terus bergerak dan berubah, Pancasila membutuhkan medium baru agar tetap hidup dan bermakna dan layar lebar adalah salah satunya,” pungkas Akhirul. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *