google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Menyusuri Sejarah dan Daya Tarik Unik Pasar Comboran Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kota Malang tak hanya dikenal karena keindahan alamnya dan dinginnya hawa pegunungan. Di balik geliat kota yang semakin modern, tersimpan satu kawasan yang sarat sejarah dan penuh cerita: Pasar Comboran. Terletak di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, pasar ini menjadi saksi bisu pergerakan waktu, dari jalur trem kolonial hingga menjadi pasar loak terbesar di Jawa Timur pada awal tahun 2000-an.

Dari Jalur Trem ke Pasar Loak

Jika kita menelusuri sejarahnya, kawasan Comboran di awal 1900-an bukanlah pasar seperti sekarang. Kawasan ini dulunya adalah lintasan trem moda transportasi mirip kereta api namun dengan gerbong lebih sedikit dan rute yang lebih pendek. Trem menjadi andalan warga kota saat itu, menghubungkan pusat-pusat aktivitas di masa kolonial.

Transformasi kawasan ini menjadi pusat penjualan barang bekas dimulai pada masa pendudukan Jepang. Banyak warga pribumi yang saat itu menjadi pembantu rumah tangga bagi keluarga Belanda mendapatkan barang-barang peninggalan tuannya yang pergi atau ditinggalkan begitu saja. Barang-barang inilah yang kemudian dijual dan menjadi cikal bakal perdagangan loak di Comboran. Aktivitas jual beli terus berkembang hingga kawasan ini resmi dikenal sebagai Pasar Comboran.

Pasar Loak Terbesar di Jawa Timur

Comboran tak hanya sekadar pasar barang bekas. Ia sempat menyandang predikat pasar loak terbesar di Jawa Timur pada awal 2000-an. Seiring waktu, reputasinya tetap kokoh sebagai pusat pencarian barang langka, antik, atau murah meriah. Dibuka setiap hari dari pukul 05.00 hingga 17.00 WIB, pasar ini tetap menjadi favorit para pemburu barang second yang tak ingin menguras dompet.

Barang yang dijual pun sangat beragam. Mulai dari baut, mur, mesin mobil, onderdil motor, alat-alat elektronik, hingga barang-barang vintage seperti piringan hitam dan radio tua. Pengunjung harus cermat dan sabar, karena sering kali butuh waktu untuk menemukan barang berkualitas di antara ratusan lapak.

Tak Hanya Barang, Kuliner Juga Menggoda

Satu lagi daya tarik utama Comboran: kulinernya. Di tengah hiruk-pikuk jual beli, ada sajian legendaris yang menanti. Orem-Orem Comboran misalnya, menyajikan ketupat dengan kuah santan yang gurih dan potongan tempe khas Malang. Jangan lupakan juga Heci Ayam Abah Tar, gorengan dengan tekstur renyah dan isian ayam yang kaya rasa. Kombinasi belanja dan wisata kuliner di Comboran menciptakan pengalaman yang otentik dan tak terlupakan.

Pasar yang Terbagi Berdasarkan Spesialisasi

Menariknya, Pasar Comboran terbentang di beberapa ruas jalan utama dengan fungsi yang berbeda. Jalan Halmahera dan Prof. Dr. Moh. Yamin khusus untuk penjualan mesin mobil. Jalan Irian Jaya menjadi surga suku cadang motor. Sementara Jalan Sartono penuh dengan lapak-lapak sepatu plastik, alat listrik, hingga kerajinan kulit.

Meski terkesan semrawut, pembagian ini justru memudahkan pengunjung untuk mencari barang yang dibutuhkan. Namun, satu hal yang pasti: siapa pun yang datang ke Comboran, disarankan untuk jeli memilih dan tidak malu menawar.

Comboran, Simbol Ketangguhan Ekonomi Warga

Pasar Comboran bukan sekadar tempat belanja, tetapi simbol ketangguhan ekonomi rakyat. Ia tumbuh dari reruntuhan kolonialisme, melewati masa transisi, dan bertahan di tengah gempuran pusat perbelanjaan modern. Di sinilah semangat warga Malang untuk tetap hidup dan berdaya terlihat nyata.

Menyusuri Comboran adalah menyusuri sejarah dan dinamika ekonomi rakyat. Pasar ini bukan hanya tentang barang murah, tapi juga tentang cerita, perjuangan, dan kenangan yang terus hidup dari masa ke masa. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *