google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Orasi Kebangsaan Lapasila UM: Kampus Bersuara, Kritik Mengalir Tanpa Batas

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang menggelar Refleksi dan Orasi Kebangsaan bertajuk “Merayakan Ruang Akademik, Merawat Republik”, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini berlangsung di Outdoor Learning Space (OLS) Gedung A18, menjadi panggung terbuka bagi sivitas akademika untuk menyuarakan gagasan kritis terhadap kondisi bangsa.

Acara yang digelar sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WIB itu diikuti sedikitnya 10 guru besar dan akademisi lintas disiplin. Mereka membedah isu-isu kebangsaan dari berbagai sudut pandang, mulai dari ideologi, ekonomi, hingga pendidikan.

Kepala UPT Laboratorium Pancasila UM, Akhirul Aminulloh, menekankan kegiatan ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan upaya menghidupkan kembali peran kampus sebagai ruang refleksi kritis.

“Ruang akademik harus dirayakan sebagai tempat berpikir bebas. Kampus punya tanggung jawab moral untuk merespons situasi kebangsaan,” tegasnya.

Mimbar Bebas Tanpa Intervensi, Mahasiswa Ikut Kritik Kampus

Yang menarik, forum ini dibuka tanpa sekat. Mimbar orasi diberikan secara bebas kepada guru besar, dosen, hingga mahasiswa tanpa intervensi. Berbagai isu mengemuka secara terbuka, mulai dari pentingnya menjaga nilai Pancasila, kondisi ekonomi nasional, hingga kritik terhadap arah kebijakan pendidikan.

“Tak hanya pemerintah, kritik juga diarahkan ke internal kampus. Mahasiswa dan perwakilan BEM secara lugas menyampaikan evaluasi terhadap sistem pendidikan dan kebijakan institusi,” sebutnya.

Akhirul menegaskan keterbukaan ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menjaga kebebasan akademik.

“Kami terbuka terhadap kritik. Semua berhak menyampaikan pandangan secara ilmiah dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Akademisi Soroti Demokrasi, Ekonomi hingga Kebebasan Pers

Diskusi berkembang ke isu yang lebih luas, termasuk kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan. Para akademisi menyoroti pentingnya menjaga prinsip kedaulatan rakyat dalam setiap kebijakan publik. Mereka menilai, suara masyarakat harus menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan negara.

“Selain itu, persoalan ekonomi dan kebebasan pers juga menjadi perhatian serius. Dinamika global dan tekanan internal dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas sosial jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Masih banyak pekerjaan rumah bangsa ini. Karena itu, suara akademisi harus terus hadir sebagai kontrol sosial,” seru Akhirul.

Dari Puisi hingga Musik, Refleksi Dibungkus Humanis

Tidak hanya orasi Akhirul membeberkan, kegiatan ini juga menghadirkan ekspresi seni seperti pembacaan puisi dan pertunjukan musik dari mahasiswa. Sentuhan ini memberikan nuansa reflektif yang lebih humanis dan menyentuh.

“UPT Laboratorium Pancasila UM memastikan, hasil diskusi dan orasi akan dirangkum menjadi pandangan akademik yang disebarluaskan ke publik. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan gagasan kampus, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap isu kebangsaan,” lugasnya.

Akhirul menegaskan mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan politik.

“Mahasiswa adalah bagian dari masa depan bangsa. Mereka harus peka, kritis, dan berani bersuara. Kegiatan ini menjadi agenda perdana dan direncanakan berlangsung rutin setiap tahun sebagai ruang konsolidasi pemikiran akademik,” tukasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *