google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pemuda Tewas Dianiaya di Masjid Sibolga, Diduga Hanya karena Tidur

  • Bagikan
Pengeroyokan seorang pemuda hingga tewas yang terjadi di Masjid Agung Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menjadi viral, Sabtu (1/11/2025).
banner 468x60

Kota Sibolga, iKoneksi.com – Niat baik seorang pemuda untuk sekadar beristirahat di dalam masjid berujung maut. Arjuna Tamaraya (21), tewas secara tragis setelah dianiaya sekelompok orang di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Jumat dini hari (31/10/2025) sekitar pukul 03.30 WIB dan sempat terekam kamera hingga viral di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar luas, terlihat Arjuna berdiri di teras masjid dengan wajah bingung, dikelilingi sekitar lima pria dewasa. Tak berselang lama, para pelaku menghajar korban bertubi-tubi. Tendangan ke arah kepala membuat Arjuna terjatuh tak berdaya. Salah seorang pelaku bahkan menyeret tubuhnya dengan kasar hingga ke halaman masjid. Aksi biadab itu terjadi di rumah ibadah  tempat yang seharusnya menjadi simbol kedamaian dan perlindungan.

Awal Konflik di Masjid

Kasat Reskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E. Silaban, menceritakan kronologi tragedi ini bermula dari niat sederhana korban untuk beristirahat di masjid. Namun pelaku utama, ZP alias A (57), melarangnya tanpa alasan jelas. Larangan itu ternyata disertai emosi.

“Beberapa saat kemudian, pelaku melihat korban tetap beristirahat di dalam masjid tanpa izinnya. Merasa tersinggung, ZP memanggil empat orang lainnya untuk menghajar korban,” ungkap Rustam.

Yang seharusnya bisa diselesaikan dengan ucapan baik, justru berubah menjadi amarah yang tak terkendali. Kelima pelaku lantas memukuli Arjuna di dalam masjid. Setelah korban tak berdaya, mereka menyeretnya ke luar hingga kepalanya terbentur anak tangga. Salah satu pelaku bahkan melempar buah kelapa ke arah korban yang sudah tergeletak lemah.

“Korban juga dipijak dan dilempar menggunakan buah kelapa hingga mengalami luka parah di bagian kepala,” kata Rustam.

Tragisnya lagi, salah satu pelaku, SS (40), diduga sempat mengambil uang Rp10 ribu dari saku celana korban.

Tewas dalam Kondisi Mengenaskan

Setelah disiksa hingga tak sadarkan diri, Arjuna ditemukan oleh marbot masjid di area parkir. Ia segera dilarikan ke RSUD FL Tobing Sibolga. Namun nyawanya tak tertolong. Pihak rumah sakit menyatakan korban meninggal dunia pada pukul 05.55 WIB karena luka berat di kepala akibat penganiayaan.

“Berdasarkan hasil penyelidikan, korban meninggal akibat luka parah di kepala yang diakibatkan kekerasan bersama-sama,” ujar Rustam.

Jenazah Arjuna kemudian diserahkan ke pihak keluarga dan dimakamkan setelah dilakukan autopsi di RSUD FL Tobing Sibolga.

Polisi Bergerak Cepat

Tak butuh waktu lama, jajaran Polres Sibolga bergerak cepat mengusut kasus tersebut. Dua pelaku, ZP alias A (57) dan HB alias K (46), ditangkap pada hari yang sama di sekitar lokasi kejadian. Sementara SS (40) dibekuk keesokan harinya saat berusaha melarikan diri ke Pandan, di Jalan Lintas Sibolga–Padangsidimpuan KM 13.

“Dari tangan para pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk rekaman CCTV dan buah kelapa yang digunakan dalam aksi brutal itu. Para pelaku dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan atau Pasal 170 Ayat (3) KUHP tentang kekerasan bersama-sama yang menyebabkan kematian. Untuk SS, ada tambahan Pasal 365 Ayat (3) KUHP karena mencuri uang dari korban,” tegas Rustam.

Bukan Marbot, Hanya Warga Sekitar

Kasi Humas Polres Sibolga, AKP Suyatno, memastikan para pelaku bukan pengurus masjid, melainkan warga sekitar.

“Bukan marbot, mereka masyarakat sekitar situ. Korban dan pelaku tidak saling mengenal,” katanya.

Ia menduga penganiayaan dipicu oleh rasa tidak senang pelaku terhadap korban yang tidur di masjid.

“Pelaku merasa keberatan ada orang asing tidur di masjid. Saat korban tetap melanjutkan istirahatnya, mereka memanggil kawan-kawannya dan langsung melakukan kekerasan,” ujarnya.

Aksi yang Mengoyak Nurani

Kematian Arjuna Tamaraya meninggalkan luka mendalam di hati banyak orang. Publik menilai, tak ada alasan yang dapat membenarkan tindak kekerasan di rumah ibadah. Apalagi hanya karena hal sepele seperti tidur di masjid.

“Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat tentang hilangnya empati dan ketenangan di ruang publik yang seharusnya suci. Sebuah tempat yang mestinya menjadi sandaran bagi mereka yang lelah, justru menjadi saksi bisu kebrutalan manusia,” tekan Suyatno.

Suyatno memastikan penyidikan kasus ini terus berlanjut hingga semua pelaku lain yang terlibat tertangkap dan dijatuhi hukuman setimpal.

“Kematian Arjuna bukan sekadar kabar duka, tapi juga peringatan keras bahwa intoleransi dan kekerasan, sekecil apa pun alasannya, tidak bisa dibiarkan hidup di ruang ibadah yang mestinya damai,” tutupnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *