google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pengamalan Pancasila Dinilai Tak Cukup Lewat Hafalan, Keteladanan Jadi Kunci

  • Bagikan
Direktur Pengukur Pelembagaan Pancasila, Hotrun Siregar, S.Sos., M.Si., dalam agenda Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (8/8/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)
banner 468x60
Direktur Pengukur Pelembagaan Pancasila, Hotrun Siregar, S.Sos., M.Si., dalam agenda Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (8/8/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)

Kota Malang, iKoneksi.com – Penguatan Pancasila dinilai tidak cukup dilakukan melalui hafalan butir-butir sila, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan keteladanan di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Direktur Pengukur Pelembagaan Pancasila, Hotrun Siregar, S.Sos., M.Si., dalam agenda Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (8/8/2026).

Hotrun mengatakan, pengamalan Pancasila dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, seseorang tidak harus menyatakan dirinya sedang mengamalkan Pancasila selama perilaku yang dilakukan mencerminkan nilai kebajikan, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama.

“Enggak perlu di juga misalnya saya berPancasila ya enggak perlu diucapkan begitu. Anda melakukan apa, mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan agama, budaya yang baik begitu ya itu Anda sudah berPancasila,” ujar Hotrun.

Ia menjelaskan, pendekatan penguatan Pancasila saat ini lebih diarahkan pada praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman tersebut berbeda dengan pendekatan pada masa sebelumnya yang lebih banyak menekankan hafalan.

Hotrun menyebut kurikulum yang dirancang saat ini lebih banyak memberikan ruang pada praktik dibandingkan hafalan. Ia menyampaikan bahwa sekitar 70 persen diarahkan pada praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, sedangkan sisanya berkaitan dengan pengetahuan.

“Jadi bukan hafalan. Ini lah metode BP-7 dulu saya kan dulu begini di zaman BP-7 itu enggak ada yang model begini caranya. Langsung sifatnya penataran itu makanya P4,” katanya.

Pentingnya praktik Pancasila juga menjadi perhatian mahasiswa dalam sesi diskusi. Agatha, mahasiswa Program Studi Akuntansi UM, menyoroti masih adanya perundungan, penyisihan, hingga diskriminasi terhadap orang yang memiliki latar belakang berbeda di lingkungan masyarakat maupun kampus.

Ia mempertanyakan pendekatan yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengurangi diskriminasi terhadap teman yang berbeda suku, agama, bahasa, budaya, maupun kondisi ekonomi.

“Bagaimana cara mahasiswa dapat menerapkan nilai Pancasila ketika menghadapi teman yang berbeda suku, agama, bahasa daerah, budaya, maupun kondisi ekonomi?” tanya Agatha.

Hotrun menekankan bahwa pengamalan nilai tersebut harus dimulai dari diri sendiri. Ketika menemukan tindakan yang tidak toleran, masyarakat juga memiliki peran untuk saling mengingatkan.

Menurutnya, generasi muda tidak perlu menjadikan perilaku orang lain sebagai alasan untuk berhenti melakukan kebajikan. Nilai Pancasila justru perlu hadir melalui tindakan yang dilakukan secara sadar tanpa bergantung pada siapa yang memberikan contoh.

“Di situlah kehadiran kita bahwa apa namanya berbuat dari kebajikan tadi itu karena kebajikan sifatnya begitu ya itu tidak diikat oleh atau dipengaruhi oleh orang di luar diri kita tapi harus kita mulai dari diri kita sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, mahasiswa lain, Panglima, menyoroti persoalan ketidaksesuaian antara nilai Pancasila yang diajarkan kepada mahasiswa dengan kondisi yang mereka lihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia mempertanyakan bagaimana mahasiswa dapat menjalankan peran sebagai agen perubahan ketika masih menemukan kebijakan maupun perilaku pihak yang dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai Pancasila.

“Maka kira-kira tanggapan apa dari Bapak-Bapak sendiri selaku pengayom Pancasila. Karena sampai per hari ini saya belum percaya bahwa Pancasila itu bisa direpresentasikan oleh bangsa kita sendiri,” ujar anglima.

Hotrun menilai kondisi tersebut justru memperlihatkan pentingnya keteladanan. Menurutnya, Pancasila tidak dapat hanya dibebankan kepada lembaga atau pemimpin, tetapi harus menjadi tanggung jawab setiap warga negara.

Dengan demikian, penguatan Pancasila melalui agenda Kuliah Kebangsaan tersebut diarahkan tidak sekadar menambah pemahaman mahasiswa mengenai Pancasila, tetapi mendorong mereka menerjemahkan nilai-nilainya melalui tindakan nyata di lingkungan masyarakat.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *