google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sarasehan Pendidikan Gmni Malang Soroti Transformasi dan Inklusivitas

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Suasana hangat nan intelektual menyelimuti Kafe Pustaka pada Jumat, (2/5/2025). Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang menggelar sarasehan pendidikan bertajuk Membangun Pendidikan Masa Depan: Transformasi, Inklusivitas, dan Digitalisasi. Acara ini menghadirkan para tokoh penting dalam bidang hukum, politik, dan pendidikan sebagai narasumber utama.

Sebuah tema yang berat, namun terasa dekat. Tema ini bukan sekadar slogan akademik, tetapi refleksi dari realitas pendidikan Indonesia hari ini yang tengah berupaya bangkit dan berbenah di tengah tantangan zaman. Di balik judul sarasehan itu, tersimpan semangat besar untuk menjadikan pendidikan Indonesia lebih adil, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Subagyo: Pendidikan Tak Bisa Lagi Didekati dengan Cara Lama

Sarasehan dimulai dengan keynote speech dari Dr. Subagyo, Ketua Persatuan Alumni GMNI Kota Malang. Dalam paparannya, Subagyo menekankan pendidikan Indonesia harus segera meninggalkan pola-pola usang yang sudah tidak relevan dengan zaman.

“Pendidikan kita tidak bisa lagi didekati dengan cara-cara lama. Dunia berubah cepat, dan pendidikan harus menyesuaikan diri jika tidak ingin tertinggal,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya transformasi pendidikan, terutama dalam hal kurikulum, metode pengajaran, dan orientasi pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran yang sekadar menghafal dan menyalin tidak lagi relevan.

“Dunia hari ini membutuhkan siswa yang mampu berpikir kritis, adaptif, dan punya kesadaran sosial,” ucap Subagyo.

Subagyo juga menyinggung betapa pentingnya inklusivitas. Pendidikan yang baik bukan hanya bisa diakses oleh segelintir orang.

“Kalau pendidikan masih menjadi hak istimewa, maka kita gagal sebagai bangsa. Pendidikan adalah hak semua anak bangsa, tanpa terkecuali,” ujarnya lugas.

Zulham Akhmad Mubarok: Momentum Berpikir Ulang Tentang Arah Pendidikan

Pembukaan sarasehan dilakukan oleh Zulham Akhmad Mubarok, anggota DPRD Kabupaten Malang, yang juga dikenal sebagai tokoh muda progresif. Dalam opening speech-nya, Zulham menyampaikan Hari Pendidikan Nasional seharusnya dijadikan momentum untuk berpikir ulang tentang ke mana arah pendidikan Indonesia akan dibawa.

“Sering kali kita memperingati Hardiknas hanya sebagai seremoni. Padahal ini harusnya jadi momen mengevaluasi dan merumuskan langkah konkret,” ucap Zulham.

Ia menyoroti ketimpangan akses pendidikan, terutama di daerah-daerah pinggiran Kabupaten Malang yang masih kesulitan mengakses fasilitas dasar pendidikan.

“Jangan sampai digitalisasi pendidikan justru memperlebar jurang antara yang punya akses dan yang tidak. Transformasi itu harus menyeluruh dan adil,” tegasnya.

Zulham mendorong adanya kebijakan yang berpihak pada pemerataan, termasuk dukungan terhadap sekolah inklusi, pelatihan digital bagi guru, dan penguatan infrastruktur teknologi pendidikan di wilayah pedesaan.

Tantri Bararoh: Digitalisasi Harus Tetap Berpihak pada Manusia

Sebagai pembicara utama, Tantri Bararoh, anggota DPRD Kabupaten Malang, menekankan pentingnya digitalisasi pendidikan yang tetap berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, teknologi bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk memperkuat relasi antara guru, siswa, dan masyarakat.

“Kita jangan sampai terjebak dalam euforia teknologi. Digitalisasi tidak boleh menjauhkan pendidikan dari nilai-nilai kepekaan sosial, gotong royong, dan empati,” jelas Tantri.

Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan guru yang berkelanjutan agar mereka tidak gagap teknologi. Tantri mengingatkan bahwa masih banyak guru di daerah yang belum paham bagaimana menggunakan teknologi pembelajaran secara efektif. Selain itu, Tantri juga mendorong keterlibatan mahasiswa dan organisasi kepemudaan seperti GMNI untuk menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat.

“Kalian adalah bagian dari transformasi. Jangan hanya menunggu kebijakan, tapi juga menciptakan gerakan,” ujarnya penuh semangat.

Kolaborasi Adalah Kunci

Menurut ketua DPK GMNI Multatuli UM, Defa sarasehan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia politik, akademisi, dan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengurai benang kusut pendidikan Indonesia. Tidak ada satu pihak pun yang bisa menyelesaikan persoalan pendidikan sendirian. Dibutuhkan sinergi yang kuat, ide-ide segar, dan aksi nyata di lapangan.

“Di tengah derasnya arus perubahan zaman, sarasehan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan teknologi, tetapi juga tentang keberpihakan, kemanusiaan, dan masa depan yang lebih setara,” tutup Defa. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *