google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tragedi di Masjid Sibolga: Ketika Tempat Ibadah Kehilangan Rasa Kemanusiaan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Sibolga, iKoneksi.com — Tragedi memilukan mengguncang Kota Sibolga, Sumatera Utara. Seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya (21) kehilangan nyawanya setelah dikeroyok hingga tewas di Masjid Agung Sibolga hanya karena tidur di serambi tempat ibadah tersebut. Kejadian yang seharusnya tak pernah terjadi di ruang sakral itu kini menyisakan duka mendalam dan pertanyaan besar: masihkah masjid menjadi tempat yang inklusif dan penuh kasih?

Kekerasan di Rumah Ibadah

Peristiwa tragis itu terjadi pada Jumat (31/10/2025) malam. Arjuna, seorang nelayan muda, datang ke Masjid Agung Sibolga untuk beristirahat sejenak di serambi depan. Namun niat sederhana itu justru berujung malapetaka. Sejumlah warga yang berada di lokasi menolak kehadirannya, mengusir, dan melakukan kekerasan hingga korban tidak sadarkan diri.

Arjuna sempat dilarikan ke RSUD Dr. F.L. Tobing Sibolga, namun nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (1/11/2025).

“Kami tidak akan mentolerir tindakan kekerasan, apalagi yang terjadi di lingkungan rumah ibadah,” tegas Kasatreskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E. Silaban, kepada wartawan.

Polisi bertindak cepat. Lima pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Chandra Lubis (38), Rismansyah Efendi Caniago (30), Zulham Piliang (57), Hasan Basri (46), dan Syazwan Situmorang (40).

Kelima tersangka dijerat Pasal 338 subsider Pasal 170 ayat 3 KUHPidana tentang pembunuhan. Khusus Syazwan Situmorang, penyidik menambahkan Pasal 365 ayat 3 KUHPidana karena diketahui mengambil uang korban sebesar Rp 10 ribu.

Polisi menegaskan peristiwa ini murni kriminal, bukan kasus keagamaan.

“Tidak ada larangan beristirahat di masjid. Motif para pelaku karena tersinggung pada korban yang dianggap tidak mengindahkan larangan mereka,” ucap Rustam menegaskan.

Keluarga Minta Keadilan

Kabar kematian Arjuna menyayat hati keluarganya di Simeulue, Aceh. Mereka menuntut agar para pelaku dijatuhi hukuman berat.

“Itu terlalu sadis, tidak ada rasa kemanusiaan mereka, terlalu brutal. Kalau bisa, kalau pun tidak hukuman mati, ya, seumur hidup,” ujar Kausar Amin (38), paman korban, dengan suara bergetar.

Keluarga Arjuna kini menaruh harapan besar kepada penegak hukum agar keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.

Masjid dan Krisis Inklusivitas

Tragedi ini memantik refleksi yang lebih dalam. Bukan hanya tentang tindakan kekerasan, tapi juga pergeseran makna masjid dalam kehidupan sosial umat.

Antropolog dari Universitas Indonesia, Amanah Nurish, menilai insiden ini memperlihatkan penyempitan fungsi masjid yang kian kehilangan wajah inklusifnya.

“Pergeseran fungsi ini terpengaruh dari bertumbuhnya fanatisme sempit dalam memahami agama. Ditambah, masjid sering menjadi ruang kekuasaan lokal bagi sebagian pihak yang kemudian membatasi masjid sebagai ruang yang lebih terbuka,” ujar Amanah kepada iKoneksi.com, Selasa (4/11/2025).

Menurutnya, masjid seharusnya menjadi tempat yang menyambut siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, bukan sebaliknya. Ketika rumah ibadah berubah menjadi ruang eksklusif dan penuh kecurigaan, di situlah akar kekerasan mulai tumbuh.

Pukulan bagi Nilai Kemanusiaan

Kasus ini menjadi cermin gelap di tengah masyarakat yang kian sensitif terhadap perbedaan. Kekerasan di ruang ibadah tempat yang seharusnya menjadi simbol kedamaian memperlihatkan kerapuhan nilai kemanusiaan di level paling dasar.

Arjuna Tamaraya hanyalah seorang nelayan muda yang ingin beristirahat. Namun, di tengah ruang suci, ia justru kehilangan nyawa.

Kini, kelima pelaku telah mendekam di tahanan dan terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Namun bagi keluarga korban, kehilangan itu tak akan pernah bisa ditebus.

Seruan untuk Kembali pada Esensi Masjid

Tragedi di Masjid Agung Sibolga menjadi peringatan moral bagi masyarakat Indonesia. Bahwa masjid, gereja, vihara, dan rumah ibadah lainnya seharusnya menjadi ruang pemersatu, bukan tempat diskriminasi atau kekerasan.

Kita diajak untuk merenungkan kembali: masihkah ruang-ruang suci itu memelihara cinta kasih, atau justru dijaga oleh tembok ketakutan dan kecurigaan?

Sebab, ketika tempat ibadah kehilangan rasa kemanusiaan, bukan hanya korban seperti Arjuna yang gugur, tetapi juga nurani kita sebagai bangsa.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *