google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Dari Medan ke Liga Belgia, Jejak Panjang Sihar Sitorus

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Nama Sihar Sitorus bukan sekadar deretan politisi di Senayan. Ia adalah sosok yang rekam jejaknya berlapis: politisi, pengusaha, sekaligus pegiat sepak bola. Kini, langkahnya yang membawa klub asal Belgia, FCV Dender, ke kasta tertinggi sepak bola Eropa membuka kembali perdebatan: mengapa potensi sebesar dirinya justru sulit berkembang di Indonesia?

Dari Klub Lokal hingga PSSI

Sihar telah lama malang melintang di sepak bola nasional. Ia membina sejumlah klub daerah, mulai dari Medan United FC, Pro Duta FC, hingga Nusaina FC. Pada 2008, ia bahkan mengambil alih kendali PSMS Medan, salah satu tim legendaris Indonesia.

Langkahnya berlanjut ketika dipercaya menjadi Ketua Komite Kompetisi PSSI pada 2011. Dedikasinya juga terpatri lewat perannya dalam lahirnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang percepatan pembangunan persepakbolaan nasional.

Namun, idealisme dan gagasan besarnya kerap terbentur realitas. Ekosistem sepak bola nasional yang penuh tarik-menarik kepentingan membuat langkahnya seperti berjalan di ruang yang sempit.

Keputusan Berani: Membeli Klub Belgia

Pada 2018, Sihar mengambil keputusan besar: membeli Football Club Verbroedering Dender Eendracht Hekelgem (FCV Dender), klub yang kala itu masih berkutat di Divisi 3 Liga Belgia. Alasannya sederhana namun tajam: ia ingin berkembang di ekosistem sepak bola yang sehat.

“Saya mencoba beberapa kali di sepak bola Indonesia dari berbagai sudut dan saya merasa sulit berkembang. Jadi saya berpikir mencoba di luar negeri, apakah ada perbedaan,” ungkap Sihar kepada Kompas.com (15/8/2025).

Tujuh tahun berselang, pilihannya terbukti tepat. FCV Dender kini berhasil menembus Jupiler Pro League, kasta tertinggi Liga Belgia.

“Orang Tepat di Ruang yang Salah”

Pengamat sepak bola Akmal Marhali menyebut Sihar sebagai “orang yang tepat di ruang yang salah”. Menurutnya, Sihar hadir ketika ekosistem sepak bola Indonesia masih jauh dari kata industri.

“Bang Sihar idealis, progresif, dan berintegritas. Tapi sistem di dalam negeri tidak mendukung. Baru ketika mengelola klub Belgia, idealismenya bisa diwujudkan: tata kelola keuangan rapi, bisnis berjalan, prestasi pun datang,” ujarnya.

Sentuhan Indonesia di Liga Belgia

Meski kini mengelola klub asing, Sihar tetap membawa jejak Indonesia ke Eropa. Salah satunya dengan merekrut Ragnar Oratmangoen, pemain diaspora yang kini memperkuat timnas Indonesia. Oratmangoen didatangkan pada Agustus 2024 setelah melalui proses scouting ketat.

Selain Oratmangoen, FCV Dender memiliki dua pemain lain yang berpotensi tampil di Piala Dunia 2026: Luc de Fougerolles (timnas Kanada) dan Benjamin Frederick (Nigeria). Kehadiran mereka semakin memperkuat reputasi Dender sebagai klub yang produktif melahirkan pemain potensial.

Visi Membawa Indonesia ke Level Global

Bagi Sihar, perekrutan pemain Indonesia bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari visinya: membawa talenta Nusantara ke pentas dunia. Ia menegaskan, kecepatan, kekuatan, pola pikir, serta keberanian menjadi kunci agar pemain Indonesia bisa menembus klub-klub luar negeri.

Akmal menilai langkah itu penting: “Apa yang dilakukan pengusaha seperti Sihar harus jadi tonggak. Klub-klub yang dimiliki orang Indonesia di luar negeri bisa menjadi pintu ekspor pemain kita.”

Harapan Pulang ke Tanah Air

Ketika ditanya apakah ia akan kembali ke sepak bola Indonesia, Sihar mengaku masih fokus membangun Dender. Namun, ia tidak menutup pintu untuk kembali jika ada kesempatan yang tepat.

“Untuk saat ini saya menikmati yang ada di Dender. Nanti kita lihat kalau ada tawaran atau proyek,” katanya.

Akmal berharap Sihar suatu saat bisa kembali ke Indonesia, bukan sebagai pengurus formal, tetapi sebagai konsultan atau mitra diskusi untuk membangun ekosistem sehat di Tanah Air.

“Sihar punya visi jauh ke depan. Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Kita butuh orang seperti dia untuk membawa sepak bola Indonesia naik kelas,” tegasnya.

Jejak yang Tak Bisa Dihapus

Perjalanan Sihar Sitorus dari Medan hingga ke Liga Belgia adalah bukti bahwa mimpi besar butuh ruang yang mendukung. Di tanah air, langkahnya terhambat ekosistem yang karut-marut. Namun di Eropa, ia bisa membuktikan diri: membangun klub kecil hingga bersaing di level tertinggi.

Kini, pertanyaan besar menggantung: apakah suatu saat Indonesia bisa menghadirkan ruang yang tepat bagi orang-orang sepertinya? (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *