google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Lapasila UM Teguhkan Budaya Akademik Humanis, Kolaboratif, dan Inklusif

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan atmosfer akademik yang sehat dan berdaya saing. Melalui UPT Pusat Laboratorium Pancasila (Lapasila), kampus yang dikenal sebagai “The Learning University” ini menggelar Pelatihan Pengembangan Karakter Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) dengan tema “Mewujudkan Budaya Akademik Humanis, Kolaboratif, dan Inklusif.”

Acara berlangsung di Aula Perpustakaan C3.206, Lantai 2 Universitas Negeri Malang, Kamis (14/8/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh dosen dan tendik lintas fakultas, menandai pentingnya membangun kultur akademik yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga kualitas hubungan antarmanusia di dalam kampus.

Kepala Lapasila: Kampus Harus Memanusiakan Manusia

Kepala Lapasila UM, Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si, menegaskan pendidikan tinggi di era modern tidak bisa lagi dipahami sebatas pencetak lulusan unggul dalam aspek kognitif dan keterampilan teknis. Lebih dari itu, universitas harus mampu menghadirkan ekosistem akademik yang memanusiakan manusia.

“Universitas adalah pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus nilai-nilai kehidupan. Karena itu, budaya akademik yang kita bangun harus berlandaskan pada kemanusiaan (humanis), kerja sama lintas fungsi (kolaboratif), dan keterbukaan terhadap keberagaman (inklusif),” katanya.

Menurut Akhirul, dosen dan tendik bukan hanya pelaksana fungsi administratif atau akademik semata. Mereka adalah agen perubahan budaya sekaligus penjaga kualitas interaksi yang terjadi di kampus. Dengan demikian, karakter dosen dan tendik berperan langsung dalam menentukan kualitas budaya kerja yang sehat.

Humanis, Kolaboratif, dan Inklusif Sebagai Pilar Kampus

Dalam paparannya, Akhirul merinci tiga pilar utama yang diusung dalam pelatihan tersebut:

  1. Budaya Humanis
    Mengedepankan penghormatan pada harkat dan martabat individu. Praktiknya bisa berupa komunikasi yang empatik, kepedulian terhadap kesejahteraan sivitas akademika, hingga penanaman nilai etika dalam setiap tindakan.
  2. Semangat Kolaboratif
    Kerja sama lintas elemen kampus bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Sinergi diperlukan untuk menghadapi tantangan institusional, mengakselerasi penelitian, dan memperkuat pengabdian masyarakat. Kolaborasi juga menjadi fondasi terciptanya inovasi yang berdaya guna.
  3. Lingkungan Inklusif
    Universitas modern harus mampu menyediakan ruang interaksi yang aman, adil, dan bebas dari diskriminasi. Inklusivitas tidak hanya terkait akses fisik, tetapi juga penerimaan atas perbedaan sosial, budaya, agama, gender, maupun pola pikir.

“Dengan membangun kultur inklusif, kampus akan menjadi tempat tumbuh kembang yang sehat bagi setiap individu, tanpa rasa terpinggirkan,” terang Akhirul.

Transformasi Budaya Organisasi UM

Menurut Akhirul pelatihan pengembangan karakter ini dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang UM dalam memperkuat budaya kerja kampus. Bagi Lapasila, langkah ini penting untuk menyongsong tantangan global di mana perguruan tinggi dituntut tidak hanya melahirkan sarjana yang cerdas, tetapi juga berkarakter.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin membentuk insan akademik yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas tinggi. Harapannya, nilai-nilai humanis, kolaboratif, dan inklusif bisa benar-benar diinternalisasi dan diwujudkan dalam kehidupan kampus sehari-hari,” tegas Akhirul.

Harapan ke Depan

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta yang menilai topik pelatihan selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dosen dan tendik membutuhkan ruang refleksi untuk memperkuat kembali nilai-nilai dasar kehidupan akademik yang terkadang tergerus oleh rutinitas administratif.

Akhirul berharap, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga menginspirasi transformasi budaya organisasi.

“Dengan karakter akademik yang lebih humanis, kolaboratif, dan inklusif, UM optimistis dapat memperkuat peran sebagai perguruan tinggi penggerak kemajuan peradaban,” tutup Akhirul. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *