google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Banyu Biru Dorong RRI Jadi Garda Terdepan Penangkal Hoaks dan Bencana

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Surabaya, iKoneksi.com – Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, menegaskan bahwa Radio Republik Indonesia (RRI) perlu memperkuat jati dirinya bukan sekadar sebagai media penyampai informasi publik, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menghadapi bencana, menangkal hoaks, dan menjalin kemitraan dengan generasi muda di era digital.

Pernyataan ini disampaikan Banyu Biru dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/9/2025), menyusul maraknya kerusuhan di sejumlah daerah di Jawa Timur pada akhir Agustus lalu.

Menurutnya, kerusuhan yang terjadi di Surabaya, Kediri, dan Madiun itu menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh arus informasi terhadap stabilitas sosial.

“Kerusuhan itu tidak lepas dari derasnya hoaks, disinformasi, dan misinformasi yang beredar. Kalau tidak ada kontrol dan informasi yang benar, situasinya bisa semakin mengerikan. Di sinilah pentingnya peran RRI dengan multiplatform-nya,” ujarnya dengan tegas.

RRI Sebagai Pilar Stabilitas Informasi dan Mitra Pemerintah

Banyu Biru menilai RRI memiliki posisi strategis sebagai media publik nasional. Dalam situasi krisis, bencana alam, maupun konflik sosial, masyarakat membutuhkan sumber informasi yang akurat, menenangkan, dan mempersatukan.

“Kalau ada bencana, listrik padam, sinyal internet hilang, dan media sosial tak bisa diakses, yang masih bisa kita dengar adalah radio. Di saat-saat seperti itulah RRI harus berada di garis depan menyampaikan informasi darurat maupun instruksi resmi dari pemerintah,” paparnya.

Ia menegaskan RRI harus memperkuat kapasitasnya sebagai media siaga bencana, baik melalui jaringan siaran darat maupun digital. Keberadaan RRI di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) juga menjadikannya sebagai jembatan komunikasi vital antara pemerintah dan masyarakat di seluruh pelosok negeri.

Menjangkau Generasi Muda Lewat Inovasi Digital

Selain peran kebencanaan, Banyu Biru juga menyoroti pentingnya relevansi RRI di mata generasi muda. Di tengah derasnya penetrasi media sosial, RRI perlu bertransformasi agar tidak ditinggalkan oleh pendengar muda.

“Anak muda haus informasi cepat, kredibel, dan interaktif. RRI bisa masuk lewat podcast, live streaming, program musik, atau konten edukasi digital,” kata politisi muda dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Menurutnya, RRI harus tampil modern tanpa kehilangan karakter khasnya sebagai media publik yang berwibawa dan berintegritas.

“Jangan sampai anak muda merasa radio itu kuno. Justru RRI harus tampil modern, tapi tetap berkarakter,” serunya.

Upaya ini juga sejalan dengan agenda transformasi digital lembaga penyiaran publik, yang ditujukan untuk memperluas jangkauan audiens sekaligus memperkuat literasi media di kalangan masyarakat luas.

Menjaga Persatuan Lewat Gelombang Suara

Lebih jauh, Banyu Biru menekankan peran RRI tidak hanya sebatas penyiar informasi, tetapi juga penjaga integrasi nasional. Dengan jaringan siaran yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, RRI memiliki kekuatan untuk memperkuat rasa persatuan dari Sabang sampai Merauke.

“Radio itu perekat bangsa. Integrasi nasional akan lebih kuat kalau RRI serius menjalankan misinya,” ujarnya.

Ia berharap ke depan RRI bisa menjadi media yang tidak hanya bicara, tetapi juga beraksi menyebarkan nilai kebersamaan, toleransi, dan cinta tanah air di tengah tantangan polarisasi sosial dan banjir informasi.

Pengamat: RRI Jawa Timur Punya Peran Strategis

Pandangan senada disampaikan oleh Immanuel Yosua, pemerhati penyiaran dan Komisioner KPID Jawa Timur 2016–2025. Ia menilai bahwa RRI di Jawa Timur memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas sosial dan politik regional.

“Selain jangkauan teknisnya yang luas, RRI punya modal sosial sebagai media terpercaya. Saat terjadi kerusuhan atau bencana, masyarakat butuh sumber informasi yang kredibel,” ujarnya.

Sebagai Koordinator Mitra Publik Indonesia (MPI), lembaga yang fokus pada keterbukaan dan diseminasi informasi, Immanuel menambahkan bahwa RRI harus lebih adaptif terhadap kultur masyarakat lokal di Jawa Timur yang beragam mulai dari Arek, Mataraman, Madura hingga Pandalungan.

“Kalau RRI mampu mengelola konten sesuai kultur daerah, maka ia bisa menjadi rujukan utama dan penguat stabilitas sosial di masa depan,” tegasnya.

RRI di Persimpangan Digitalisasi dan Tanggung Jawab Publik

Pernyataan Banyu Biru dan pengamat penyiaran ini menjadi peringatan penting bagi lembaga publik di era disrupsi informasi. Ketika masyarakat semakin rentan terhadap kabar palsu dan polarisasi opini, RRI harus hadir sebagai jangkar kebenaran yang menenangkan publik, bukan sekadar menyampaikan berita.

“Dengan kekuatan jaringan nasional dan sejarah panjang sebagai media perjuangan, RRI kini dihadapkan pada tugas besar yaitu menjadi benteng informasi yang kredibel di tengah dunia digital yang serba cepat.
Bila mampu beradaptasi dan berinovasi, RRI tak hanya akan bertahan tetapi juga akan kembali menjadi ikon kepercayaan publik Indonesia,” pungkas Banyu Biru. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *