google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Luhut Desak Purbaya Suntik Rp50 Triliun ke INA, Dorong Dua Mesin Ekonomi Baru

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, kembali mencuri perhatian publik. Dalam forum ekonomi bertajuk “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth” di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis (16/10), Luhut meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk segera menyuntik dana Rp50 triliun ke Indonesia Investment Authority (INA) lembaga investasi negara yang berfungsi sebagai sovereign wealth fund.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Menurut Luhut, INA harus menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional yang berjalan beriringan dengan Danantara, lembaga baru yang mengelola dividen BUMN dan berinvestasi secara mandiri. Kombinasi keduanya, kata dia, akan menjadi “dua mesin pertumbuhan ekonomi” yang mempercepat laju pembangunan menuju target ambisius: pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Dorongan Dana Segar untuk Mendorong Investasi

Dalam pidatonya, Luhut menyampaikan pandangan ekonominya secara lugas. Ia menilai pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup besar untuk memperkuat INA tanpa membebani APBN secara langsung.

“Kalau kita tarik investasi Rp50 triliun ke INA setiap tahun dari dana yang masih sisa di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp491 triliun yang Rp200 triliun sudah ditaruh ke perbankan itu kalau kita leverage bisa mencapai Rp1.000 triliun dalam lima tahun ke depan. Itu angka yang sangat besar,” kata Luhut dengan tegas.

Luhut menyoroti saldo anggaran lebih (SAL) yang selama ini mengendap di BI. Dana tersebut, menurutnya, seharusnya dimanfaatkan untuk mempercepat investasi dan pembangunan infrastruktur jangka panjang.

“Dengan peran aktif INA, Indonesia bisa menarik modal asing lebih besar dan menggerakkan proyek-proyek strategis nasional tanpa bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri,” ucapnya.

Sinkronisasi Dua Lembaga: INA dan Danantara

Luhut menggambarkan INA dan Danantara sebagai dua lembaga yang saling melengkapi. INA, yang berfokus pada investasi strategis dengan mitra global, membutuhkan dukungan modal negara secara rutin agar tetap agresif di pasar internasional. Sementara Danantara akan berperan sebagai pengelola aset domestik melalui investasi berbasis dividen BUMN.

“Kita akan punya dua engine of growth yang luar biasa. Satu INA, satu lagi Danantara,” tegas Luhut.

Ia menilai jika keduanya dikelola dengan tata kelola yang baik dan dukungan fiskal yang stabil, maka ekonomi Indonesia bisa tumbuh jauh di atas rata-rata kawasan.

Purbaya dan ‘Mazhab Baru’ Pengelolaan Uang Negara

Menariknya, Luhut juga memuji langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang telah menempatkan Rp200 triliun dana pemerintah ke lima bank BUMN sebagai bagian dari strategi menggairahkan sektor riil. Menurutnya, kebijakan itu mencerminkan keberanian dan pandangan ekonomi baru yang lebih berani menyalurkan uang negara untuk mendorong pertumbuhan langsung.

“Saya lihat Menteri Keuangan yang baru ini (Purbaya), dia mendorong betul mazhab-nya sendiri untuk mengguyur market. Itu langkah yang sangat bagus,” puji Luhut.

Ia menambahkan, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil meski belum signifikan karena proses ekonomi membutuhkan waktu.

“Injeksi Rp200 triliun ini sudah mulai kelihatan dampaknya. Tapi ya tentu tidak instan. Kita ini kadang seperti makan cabai, begitu digigit langsung pedas. Ekonomi tidak begitu, ini proses,” katanya disambut tawa para peserta forum.

Strategi Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Luhut menegaskan dorongan pendanaan ke INA bukan hanya untuk memperkuat lembaga investasi negara, tetapi juga untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan dua lembaga penggerak INA dan Danantara Luhut yakin ekonomi nasional akan lebih adaptif terhadap tantangan global. Dana yang selama ini “tidur” di BI, katanya, harus mulai “bekerja” untuk rakyat.

“Kita tidak bisa terus simpan uang di bank sentral sementara sektor riil kekurangan likuiditas. Kalau SAL dimanfaatkan dengan bijak, INA bisa jadi alat percepatan ekonomi yang luar biasa,” serunya.

Menurutnya, dengan leverage investasi yang kuat, Indonesia berpotensi menarik hingga Rp1.000 triliun dalam lima tahun. Modal ini akan mendorong investasi besar di bidang energi hijau, infrastruktur, digitalisasi, dan ketahanan pangan.

Menutup Rapat, Membuka Arah Baru

Pernyataan Luhut sore itu bukan sekadar usulan teknis fiskal. Di baliknya, tersirat dorongan politik-ekonomi yang kuat untuk membentuk arah baru kebijakan investasi nasional. Pemerintah, kata dia, harus berani keluar dari pola lama: menimbun uang negara, sementara roda ekonomi melambat.

“Indonesia tidak boleh takut mengambil langkah besar. Kalau INA dan Danantara jalan bersama, ekonomi kita akan melesat,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *