google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bangun KMPD, Edi Susanto: Koperasi Jadi Motor Ekonomi Warga Bumiaji

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Pemerintah Desa Bumiaji mulai menata langkah penguatan ekonomi warga melalui pembentukan Koperasi Merah Putih Desa (KMPD). Kepala Desa Bumiaji, Edi Susanto, menegaskan koperasi ini dirancang sebagai instrumen konkret untuk membantu perekonomian masyarakat desa, khususnya petani yang menjadi mayoritas penduduk.

Edi menuturkan, kehadiran Koperasi Merah Putih bukan sekadar formalitas kelembagaan, melainkan upaya menjawab kebutuhan dasar warga yang selama ini kerap terkendala.

“Kenapa dibuat Koperasi Merah Putih? Ya untuk membantu perekonomian warga. Desa harus punya alat ekonomi sendiri,” ujarnya.

Pada tahap awal, KMDP Bumiaji akan difokuskan pada tiga sektor utama, yakni penyediaan sembako, pupuk, dan LPG. Ketiganya dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat dan aktivitas pertanian warga.

“Kami fokus dulu mempermudah penyediaan sembako, pupuk, sekaligus LPG,” kata Edi.

Ia mengakui, distribusi LPG di tingkat desa kerap menemui kendala, terutama pada waktu-waktu tertentu. Hal serupa juga terjadi pada pupuk, yang menjadi kebutuhan vital bagi petani.

“Pupuk ini memang sangat dibutuhkan. Mayoritas anggota KMDP adalah petani, jadi ini prioritas,” tegasnya.

Tak berhenti pada distribusi kebutuhan dasar, Edi menyebut koperasi ke depan diharapkan mampu menampung hasil pertanian warga Bumiaji. Dengan begitu, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak dan fluktuasi harga pasar.

“Sebisa mungkin nanti koperasi bisa menampung hasil pertanian warga,” ujarnya.

Terkait pengelolaan anggaran, Edi menjelaskan Koperasi Merah Putih berpeluang mengelola dana dengan nilai cukup besar, bahkan bisa mencapai Rp3 miliar hingga Rp6 miliar. Namun demikian, ia menekankan bahwa pengelolaan tersebut harus ditopang regulasi yang jelas dan tertata.

“Itu perlu regulasi yang betul-betul rapi. Tidak bisa asal jalan,” sebutnya.

Ia juga meluruskan pemahaman terkait alur anggaran. Menurut Edi, dana yang dimaksud tidak langsung dikelola secara teknis oleh desa, melainkan lebih bersifat dukungan pada aspek agnis atau kelembagaan, seperti penyediaan tempat dan sarana dasar.

“Anggaran itu murni ke agnis, desa hanya menyediakan tempat. Teknisnya tetap melalui dinas terkait,” jelasnya.

Edi berharap kehadiran Koperasi Merah Putih dapat menjadi pengungkit ekonomi desa sekaligus memperkuat kemandirian warga. Dengan koperasi, desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang mampu mengelola potensi ekonomi sendiri.

“Kalau koperasi ini berjalan baik, dampaknya langsung ke warga. Petani terbantu, kebutuhan pokok lebih mudah diakses, dan ekonomi desa bisa berputar di sini,” pungkas Edi.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *