google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Krisis Air di Kota Batu Memanas, Nurochman Turun Redam Konflik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Wali Kota Batu, Nurochman, turun langsung memimpin forum sosialisasi rencana pemanfaatan Sumber Genengan di Kelurahan Temas, Rabu (8/4/2026). Pertemuan ini menjadi titik krusial di tengah mencuatnya kekhawatiran warga soal potensi dampak distribusi air terhadap sektor pertanian.

Bertempat di Rumah Dinas Wali Kota, forum tersebut mempertemukan Perumdam Among Tirto dengan petani, takmir masjid, serta tokoh masyarakat dari sejumlah wilayah terdampak. Di tengah situasi yang sensitif, Nurochman memilih pendekatan terbuka: mendengar langsung suara masyarakat sebelum kebijakan diputuskan.

“Saya ingin memastikan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kebijakan seperti ini tidak boleh sepihak, harus berdasarkan fakta lapangan,” tegasnya.

Krisis Air Jadi Pemicu

Rencana pemanfaatan sebagian debit Sumber Genengan muncul sebagai solusi teknis atas menurunnya suplai air di Tandon Beji, yang berdampak pada krisis air di wilayah Pendem dan sekitarnya. Namun di sisi lain, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran petani. Mereka menilai, pengambilan debit air berpotensi mengganggu irigasi sawah yang selama ini bergantung pada sumber tersebut.

Dalam forum itu, warga bahkan mengoreksi data teknis yang disampaikan, menyebut luas lahan terdampak mencapai sekitar 22 hektare.

Nurochman Minta Uji Lapangan

Menanggapi hal tersebut, Nurochman langsung menginstruksikan Perumdam untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia meminta dilakukan simulasi dan uji coba lapangan secara transparan guna mengukur dampak pengambilan air sebesar 4 hingga 7 liter per detik terhadap kebutuhan irigasi dan fasilitas umum, termasuk Masjid Putih.

“Kalau hasil simulasi menunjukkan adanya gangguan pada pertanian atau kebutuhan masyarakat, maka rencana ini tidak boleh dilanjutkan,” tegas Cak Nur sapaan akrabnya.

Tegaskan Prioritas Petani

Dalam arahannya, Nurochman menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama dalam visi pembangunan Kota Batu. Ia bahkan secara terbuka menyatakan siap bertanggung jawab jika kebijakan yang diambil berpotensi merugikan masyarakat.

“Saya menjamin produktivitas pertanian tetap jadi prioritas. Kita tidak boleh mengorbankan petani,” seru dia.

Perbaikan Infrastruktur Jadi Sorotan

Selain isu distribusi air, forum tersebut juga menyoroti kondisi infrastruktur pendukung. Sejumlah warga mengeluhkan jalur irigasi yang terganggu akibat pembangunan fasilitas umum. Menanggapi hal itu, Cak Nur langsung memerintahkan Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan normalisasi sungai serta perbaikan jaringan irigasi.

Langkah ini dinilai Cak Nur penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem sumber air secara menyeluruh.

Cari Titik Temu

Di akhir pertemuan, Cak Nur menekankan persoalan air bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut hajat hidup banyak orang. Ia menyebutkan pentingnya mencari titik temu antara kebutuhan air perkotaan dan keberlangsungan pertanian.

“Ketersediaan air minum dan kedaulatan air petani sama-sama penting. Kita harus cari jalan tengah dengan musyawarah dan keterbukaan,” tukas politisi PKB itu.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *