google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Menguak Sejarah Taman Balekambang Solo, Hadiah Cinta untuk Dua Putri Mangkunegaran Dahulu

  • Bagikan
Patung Partini, Taman Balekambang Surkarta (Fathimah Azzah/iKoneksi.com)
banner 468x60

Kota Surakarta, iKoneksi.com — Taman Balekambang menjadi salah satu ruang publik sekaligus destinasi wisata sejarah yang paling terkenal di Solo. Di balik rimbunnya pepohonan dan area rekreasi yang ramai dikunjungi masyarakat, taman ini menyimpan kisah panjang yang berawal dari hadiah seorang ayah kepada dua putrinya pada masa Mangkunegaran. 

 

Taman Balekambang dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya) Mangkunegara VII. Awalnya, kawasan seluas sekitar 10 hektare ini diperuntukkan sebagai hadiah bagi dua putrinya, yaitu GRAy (Gusti Raden Ayu) Partini Husein Djayadiningrat dan GRAy Partinah Sukanta. Nama “Partini Tuin” dan “Partinah Bosch” bahkan pernah digunakan untuk menyebut bagian-bagian taman tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada keduanya.

 

Pada awal berdirinya, Balekambang digunakan sebagai taman keluarga kerajaan. Kawasan ini dirancang sebagai tempat beristirahat dengan suasana alami yang sejuk, lengkap dengan pepohonan besar, kolam dan area terbuka. Keberadaannya mencerminkan perpaduan antara konsep taman modern pada masa kolonial dengan nilai budaya Jawa yang berkembang di lingkungan Pura Mangkunegaran. 

 

Seiring waktu, fungsi taman berubah. Balekambang tidak lagi menjadi ruang privat keluarga bangsawan, melainkan dibuka untuk masyarakat umum. Perubahan ini menjadi taman sebagai ruang sosial yang dinikmati oleh banyak orang, mulai dari warga lokal hingga wisatawan yang datang ke Solo.

Patung Partini, Taman Balekambang Surkarta
(Fathimah Azzah/iKoneksi.com)

Selain nilai sejarahnya, Balekambang juga dikenal sebagai pusat kegiatan seni dan budaya. Berbagai pertunjukan, festival, dan kegiatan edukasi sering diselenggarakan di kawasan ini. Kehadirannya memperkuat peran taman sebagai ruang publik yang tidak hanya berfungsi untuk rekreasi, tetapi juga pelestarian budaya.

 

Upaya revitalisasi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir telah menghidupkan kembali daya tarik Balekambang. Berbagai fasilitas diperbarui tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat pada kawasan tersebut. Hasilnya, taman ini tetap relevan bagi generasi masa kini sekaligus menjadi pengingat jejak sejarah Mangkunegaran di Solo.

 

Taman Balekambang Surakarta, 2026
(Fathimah Azzah/ iKoneksi.com)

 

Hingga saat ini, Taman Balekambang tidak hanya menjadi paru-paru kota, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah yang bermula dari sebuah hadiah keluarga kerajaan. Cerita ini menjadikan Balekambang lebih dari sekedar tempat wisata, melainkan bagian penting dari identitas budaya dan sejarah Kota Solo. 

 

Sumber: Dinas Pariwisata Kota Surakarta; Pengelola Taman Balekambang Surakarta

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *