google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bekasi Kembali Dilanda Krisis Air Bersih, Sumur Warga Mulai Mengering

  • Bagikan
banner 468x60

Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Bekasi kembali memunculkan persoalan klasik, yakni krisis air bersih. Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari akibat sumur warga mengering dan minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat, krisis air bersih mulai dilaporkan warga sejak awal Juni 2026. Distribusi bantuan air bersih pun mulai dilakukan pada 10 Juni 2026 setelah pemerintah menerima laporan dari masyarakat di Kecamatan Serang Baru.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dody Supriadi, mengatakan bantuan tersebut merupakan distribusi air bersih pertama pada musim kemarau tahun ini.

“Bantuan air bersih ini merupakan distribusi perdana yang dilakukan pemerintah daerah pada musim kemarau tahun ini,” ujar Dody Supriadi di Cikarang, Rabu (10/6/2026).

Menurut BPBD, kekeringan pada tahap awal terjadi di Kampung Pasir Kupang dan Kampung Tegal Badak, Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru. Warga di dua lokasi tersebut mengeluhkan sumur yang mulai mengering setelah hujan tidak turun selama sekitar satu bulan. Sebagai langkah darurat, BPBD menyalurkan 10.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak.

Namun, kondisi tersebut tidak berhenti di satu wilayah. Memasuki akhir Juni hingga awal Juli 2026, jumlah daerah yang mengalami kesulitan air bersih terus bertambah. Pemerintah Kabupaten Bekasi mencatat sedikitnya 245.000 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah desa yang terdampak kekeringan.

Fenomena kekeringan sebenarnya bukan hal baru bagi Kabupaten Bekasi. Data BPBD menunjukkan wilayah ini hampir setiap tahun menghadapi persoalan serupa ketika musim kemarau datang. Pada 2023, misalnya, krisis air bersih sempat meluas hingga menjangkau 47 desa di 11 kecamatan. Saat itu, pemerintah bersama Perumda Tirta Bhagasasi menyalurkan lebih dari 7 juta liter air bersih kepada masyarakat.

Daerah yang paling sering terdampak berada di wilayah selatan dan timur Kabupaten Bekasi, seperti Kecamatan Serang Baru, Cibarusah, Bojongmangu, Cikarang Pusat, Pebayuran, Sukawangi, Babelan, Tarumajaya, Muaragembong, Setu, hingga Cabangbungin. Sebagian besar wilayah tersebut masih mengandalkan sumur sebagai sumber air utama sehingga sangat rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau berlangsung lebih lama.

Krisis air bersih tidak hanya menyulitkan masyarakat memperoleh air minum. Aktivitas memasak, mandi, mencuci, hingga sanitasi juga ikut terganggu. Di beberapa desa, warga bahkan harus mengantre untuk mendapatkan pasokan air dari mobil tangki BPBD atau membeli air bersih dengan harga yang lebih mahal dibandingkan hari biasa.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih agar bantuan dapat segera disalurkan. Selain itu, warga juga diminta menghemat penggunaan air selama musim kemarau berlangsung mengingat potensi kekeringan diperkirakan masih akan berlanjut apabila curah hujan tetap rendah.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan air bersih di Bekasi bukan hanya masalah musiman, tetapi juga berkaitan dengan ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Tanpa pengelolaan sumber daya air yang lebih baik serta perluasan jaringan layanan air bersih, ancaman krisis serupa berpotensi terus berulang setiap kali musim kemarau tiba.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *