google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Rektor UB Setujui Kajian SPPG, Mahasiswa Layangkan Penolakan

  • Bagikan
Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat UB, Malang, Selasa (09/06/2026)
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com– Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat UB, Selasa (09/06). Mereka memprotes keterlibatan kampus dalam penyusunan kajian akademik dan rencana pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah spanduk dan bergantian menyampaikan orasi. Mereka menilai langkah kampus terlibat dalam perencanaan SPPG berpotensi menggeser fungsi perguruan tinggi dari institusi pendidikan menjadi pelaksana proyek pemerintah.

Salah satu peserta aksi, Muhammad Rafi Azzamy, menyebut persoalan yang dipersoalkan mahasiswa bukan sekadar keterlibatan UB dalam pengelolaan SPPG. Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah penggunaan instrumen akademik kampus untuk mendukung kebijakan yang dinilai masih menyisakan banyak persoalan.

“UB menggunakan sumber daya risetnya untuk membantu kekuasaan. Padahal sejak awal program ini sudah menuai berbagai kritik,” ujarnya.

Mahasiswa juga mengkritik proses penyusunan kajian yang dinilai tertutup dan tidak melibatkan sivitas akademika secara luas. Mereka menganggap keputusan strategis yang menyangkut arah institusi seharusnya dibahas melalui forum terbuka.

Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan kepada rektorat. Pertama, meminta transparansi penuh seluruh dokumen, proses, dan hasil kajian akademik terkait rencana pengelolaan SPPG. Kedua, mendesak digelarnya forum deliberasi terbuka yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebelum keputusan diambil.

Ketiga, mahasiswa meminta UB menyatakan sikap institusional berdasarkan evaluasi empiris terhadap berbagai persoalan yang pernah muncul dalam pelaksanaan SPPG nonkampus, seperti kasus keracunan, dugaan korupsi, hingga persoalan ketenagakerjaan. Keempat, mereka menuntut rektorat menunda seluruh keputusan final terkait pendirian SPPG sampai seluruh tuntutan tersebut dipenuhi.

Koordinator aksi, Muhammad Arifin Iqbal, mengatakan mahasiswa tidak pernah dilibatkan dalam proses diskusi yang dilakukan kampus dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Padahal, menurutnya, mahasiswa merupakan bagian utama dari sivitas akademika yang terdampak oleh kebijakan kampus.

“Kami tidak pernah diajak ke meja yang sama untuk membahas hal ini. Kajian dilakukan atas nama universitas, tetapi tanpa melibatkan universitas yang sesungguhnya,” tegasnya.

Iqbal juga menilai kampus mulai menunjukkan sikap antikritik karena berbagai masukan dari mahasiswa tidak mendapat ruang yang cukup. Ia mengaku kecewa lantaran sejumlah akademisi dari kampus lain telah menyatakan perguruan tinggi tidak semestinya terlibat langsung dalam pengelolaan SPPG, sementara UB justru membuka peluang untuk terlibat.

Hingga aksi berakhir, pihak Rektorat UB belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan yang disampaikan mahasiswa.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *