google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saat Kreativitas Bertemu Batas Ekonomi dalam Pendidikan Seni

  • Bagikan
Arsip Yuk Belajar Seni 2026
banner 468x60

Kota Surakarta, iKoneksi.com — Belajar seni masih menjadi kemewahan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di tengah biaya kursus tari, musik, melukis yang tidak selalu terjangkau, kesempatan mengembangkan minat dan bakat seni kerap bergantung pada kondisi ekonomi. Akibatnya, akses terhadap pendidikan seni belum dapat dinikmati secara merata oleh semua kalangan. Hal ini disampaikan Founder Yuk Belajar Seni, Ridya Nisa saat ditemui iKoneksi.com

“Padahal, seni merupakan bagian dari pendidikan yang berperan dalam mengembangkan kreativitas, kemampuan berekspresi, serta kepekaan sosial. Namun dalam praktiknya, pendidikan seni sering kali ditempatkan sebagai pelengkap dibandingkan kebutuhan utama,” ucap dia.

Menurut Ridya di tengah kondisi tersebut, sejumlah komunitas mulai hadir sebagai alternatif dengan menyediakan ruang belajar seni yang lebih terbuka bagi berbagai kalangan. Salah satunya adalah “Yuk Belajar Seni”, komunitas yang fokus utamanya menyebarkan pendidikan seni yang lebih inklusif bagi anak-anak dan masyarakat.

“Kehadiran komunitas ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan seni masih cukup besar, terutama bagi mereka yang selama ini tidak memiliki akses terhadap kelas atau pelatihan formal,” jelas dia.

Arsip Jejak Kawrtuh, Komunitas Yuk Belajar Seni 2025

Ridya menyebutkan sebagai contoh konkret pada komunitas ini terdapat program Jejak Kawruh, yaitu program mengajar seni kepada anak anak di desa yang masih minim pendidikan. Melalui program ini anak-anak tidak hanya dikenalkan pada mata pelajaran akademik, tetapi juga diberi ruang untuk mengenali kemampuan diri melalui seni. Sejumlah orang tua mengaku baru menyadari potensi anak mereka setelah melihat keberanian, kreativitas, dan kemampuan berekspresi yang muncul selama mengikuti kegiatan. Seni menjadi sarana untuk menemukan minat dan jati diri yang sebelumnya belum pernah mendapat ruang untuk berkembang.

“Tidak hanya bagi anak-anak, komunitas ini juga membuka peluang bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Salah satu relawan Yuk Belajar Seni, misalnya, berhasil mengembangkan kemampuan yang diperoleh selama berkegiatan hingga mendirikan sanggar seni sendiri. Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada berbagai kesempatan profesional di bidang seni dan pendidikan. Kisah tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan seni tidak hanya berdampak pada pengembangan kreativitas, tetapi juga dapat membuka jalan bagi peningkatan keterampilan, kesempatan kerja, hingga pemberdayaan masyarakat,” terang dia.

Arsip JumArt, Komunitas Yuk Belajar Seni 2026

Ia menilai pendidikan seni seharusnya dapat diakses oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang ekonomi. Menurutnya, banyak masyarakat memiliki minat dan potensi di bidang seni, tetapi tidak memiliki kesempatan belajar yang memadai. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama dalam pendidikan seni bukan semata-mata kurangnya minat masyarakat, melainkan masih terbatasnya akses yang tersedia. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah komunitas mulai hadir sebagai ruang belajar alternatif yang lebih terbuka bagi berbagai kalangan.

“Fenomena ini sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih besar mengenai posisi pendidikan seni di Indonesia. Ketika pelajaran akademik terus menjadi fokus utama, ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui seni masih belum memperoleh perhatian yang setara. Padahal, kemampuan berpikir kreatif, berkomunikasi, dan berkolaborasi menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang kehidupan,” bebernya.

Ridya mengungkapkan komunitas belajar seni memang bukan solusi tunggal atas persoalan akses pendidikan. Namun, kehadirannya menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk belajar dan berkarya seharusnya tidak ditentukan oleh kemampuan ekonomi semata.

“Pendidikan seni bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan bagian dari hak belajar yang layak diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *