google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Angka Stunting di Malang Melonjak, 27 Kampus Turun Tangan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Alarm darurat gizi kembali berbunyi di Kota Malang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat angka stunting pada 2024 melonjak hingga 22,4%. Angka ini naik tajam sekitar 5% dibanding tahun 2023 yang hanya berada di kisaran 17%. Lonjakan ini memantik keprihatinan sekaligus langkah cepat dari pemerintah daerah untuk mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, mengakui tren kenaikan ini menjadi tantangan serius.

“Kita tidak bisa diam. Stunting bukan sekadar soal gizi buruk, tapi menyangkut masa depan generasi,” ujarnya saat ditemui iKoneksi.com pada Selasa (12/8/2025).

27 Perguruan Tinggi Dilibatkan

Menjawab ancaman ini, Pemkot Malang mengambil langkah tidak biasa: menggandeng 27 perguruan tinggi untuk terlibat dalam penanganan stunting melalui program Kampus Bergerak Peduli Stunting atau Kabar Penting. Langkah ini mengandalkan kekuatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu pilar.

Husnul menjelaskan, kolaborasi ini bukan sekadar seremonial, tetapi benar-benar akan melibatkan kampus dalam pembinaan, pendampingan, dan pemantauan di lapangan.

“Setiap perguruan tinggi akan fokus di dua hingga tiga wilayah binaan dari total 57 kelurahan di Kota Malang. Mereka akan membentuk pola kerja bersama, terutama kampus yang berbasis kesehatan,” katanya.

Dua Bulan Sekali Dievaluasi

Program ini akan berjalan dengan sistem evaluasi berkala setiap dua bulan sekali, hingga akhir tahun. Harapannya, langkah ini bisa menurunkan angka stunting secara signifikan pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025, dengan target berada di kisaran 14% hingga 17%.

“Tidak hanya itu, Dinkes juga menyiapkan sistem kolaborasi di wilayah binaan. Di sana akan hadir organisasi profesi seperti dokter, bidan, dan perawat yang bekerja bersama mahasiswa tingkat akhir. Fokusnya adalah edukasi pola asuh dan pembinaan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan,” beber Husnul.

Tenaga Lapangan Diperkuat

Husnul mengakui selama ini tenaga kesehatan di lapangan, khususnya di Posyandu, masih terbatas. Kehadiran mahasiswa diharapkan bisa menutup celah tersebut.

“Kampus akan mengirim mahasiswa semester akhir yang sudah memiliki bekal pengetahuan tentang kasus stunting. Mereka akan bekerja langsung dengan warga, memberi edukasi, hingga mendampingi keluarga balita,” jelasnya.

Kolaborasi ini diharapkan Husnul tidak hanya mengatasi kasus yang ada, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru melalui penguatan kesadaran gizi sejak dini.

Pekerjaan Rumah Besar

Kenaikan 5% dalam setahun menjadi sinyal keras bahwa penanganan stunting di Kota Malang membutuhkan strategi baru. Meski target penurunan hingga 17% tergolong ambisius, pemerintah optimistis bahwa dengan dukungan perguruan tinggi dan tenaga kesehatan, angka tersebut bisa dicapai.

“Ini kerja besar. Tapi kalau semua pihak bergerak bersama, hasilnya akan terasa,” tegas Husnul.

“Dengan melibatkan 27 kampus dan menggerakkan ratusan mahasiswa di 57 kelurahan, Kota Malang kini menaruh harapan besar pada generasi muda untuk ikut menyelamatkan masa depan generasi berikutnya dari ancaman stunting,” tukas Husnul. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *