google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bahasa Indonesia Menggema di UNESCO, Pidato Abdul Mu’ti Jadi Sejarah Dunia

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Bahasa Indonesia resmi berkumandang di forum tertinggi dunia dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya dalam Bahasa Indonesia di Sidang Umum ke-43 UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, Selasa (4/11/2025).

Momen ini menjadi tonggak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di panggung internasional. Setelah puluhan tahun menjadi bahasa pemersatu bangsa, kini Bahasa Indonesia menjelma menjadi simbol identitas global, diakui secara resmi oleh UNESCO sebagai bahasa kerja ke-10 di dunia.

Pidato Bersejarah di Negeri Samarkand

Dalam sidang yang dihadiri ratusan delegasi negara anggota UNESCO, Abdul Mu’ti tampil percaya diri. Mengawali pidatonya, ia tidak langsung berbicara soal kebijakan atau pendidikan. Ia membuka dengan pantun, warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO sejak 2020.

“Bunga selasih mekar di taman, petik setangkai buat ramuan.
Terima kasih saya ucapkan, atas kesempatan menyampaikan pernyataan,” kata Mu’ti.

Tepuk tangan menggema di ruang sidang. Bagi banyak delegasi, pantun itu menjadi perkenalan yang indah dengan khasanah budaya Nusantara.

“Pantun bukan sekadar pembuka pidato, tetapi simbol kekayaan budaya bangsa yang telah mendapat pengakuan dunia,” ujar Mu’ti.

Dalam pidatonya, Mu’ti menyampaikan apresiasi mendalam kepada UNESCO dan seluruh negara anggota atas dukungan mereka yang telah mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja resmi pada Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris, 20 November 2023.

Bahasa Indonesia: Dari Pemersatu Bangsa Menjadi Bahasa Dunia

Mu’ti menegaskan Bahasa Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai alat pemersatu bangsa. Di negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, 700 bahasa daerah, dan 1.300 kelompok etnik, bahasa ini berperan sebagai jembatan komunikasi, pengetahuan, dan persaudaraan.

“Pada hari ini, Bahasa Indonesia kembali mengukuhkan eksistensinya di dunia internasional sebagai jembatan pengetahuan antarnegara,” ujarnya tegas.

“Dari Jakarta ke Samarkand, kota bersejarah nan menawan.
Jika manusia bergandeng tangan, dunia indah penuh kedamaian,” lugasnya.

Pantun itu menutup pidato dengan pesan universal tentang perdamaian dan persatuan nilai-nilai yang sejalan dengan semangat UNESCO.

Pengakuan Dunia yang Membanggakan

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyebut peristiwa ini sebagai momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ia menilai, kehadiran Bahasa Indonesia di forum resmi UNESCO bukan hanya bentuk pengakuan simbolik, tetapi juga hasil dari kerja keras diplomasi kebahasaan yang panjang.

“Alhamdulillah, hari ini momen bersejarah bagi Bangsa Indonesia dapat kita saksikan bersama. Bahasa negara kita berkumandang di forum resmi internasional, Sidang Umum UNESCO 2025,” ujarnya saat dihubungi iKoneksi.com di Jakarta.

Hafidz menambahkan, pidato Abdul Mu’ti disampaikan tepat pukul 12.00 WIB dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi UNESCO, memperlihatkan ke dunia bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui setara dengan bahasa-bahasa besar lain seperti Inggris, Arab, Prancis, dan Mandarin.

Jejak Diplomasi Bahasa yang Panjang

Hafidz menuturkan dalam Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris pada 2023, para delegasi dunia secara konsensus menyetujui Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO. Resolusi itu menandai puncak perjuangan diplomasi budaya Indonesia yang dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu.

Pengakuan ini menurut Hafidz tidak hanya memperluas peran Bahasa Indonesia di forum internasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ranah diplomasi budaya dan pendidikan global.

“UNESCO menilai, keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja akan membantu memperluas akses informasi bagi negara anggota, memperkuat komunikasi lintas budaya, serta menegaskan prinsip keberagaman bahasa dunia,” sebut Hafidz.

Simbol Identitas dan Optimisme Bangsa

Bagi Indonesia, pengakuan ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan juga panggilan untuk terus memperjuangkan eksistensi Bahasa Indonesia di kancah global. Bahasa ini kini tidak hanya menjadi alat komunikasi nasional, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan pendidikan yang memperkuat citra bangsa.

Dengan gaya diplomatis yang menawan dan sentuhan pantun yang menyejukkan, Abdul Mu’ti tidak hanya berbicara untuk bangsa Indonesia tetapi juga menegaskan kepada dunia bahwa bahasa adalah jembatan perdamaian dan pengetahuan.

Di Samarkand, kota bersejarah yang pernah menjadi pusat peradaban dunia, Bahasa Indonesia kini tercatat dalam sejarah baru. Ia bukan lagi sekadar bahasa kebanggaan bangsa, melainkan bahasa yang diakui dunia. Dari Samarkand, Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa dunia,” tutup Hafidz.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *