google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BGN Buka Pintu untuk Usulan Dapur Sekolah Program MBG

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Upaya pemerintah meningkatkan gizi anak Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang. Kali ini, usulan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti tentang penerapan konsep school kitchen atau dapur sekolah dalam program MBG mulai mendapat sambutan positif.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, menyatakan pihaknya terbuka terhadap ide tersebut, selama sekolah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mengelolanya dengan baik.

“Nggak apa-apa nanti kita matching. Nanti di daerah tertinggal itu kita matching, asal ada sekolahnya mampu, kita enggak ada masalah,” ujar Nanik dalam gelar wicara “Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa Melalui Program MBG” di Antara Heritage Center, Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Pernyataan itu menandai sinyal positif dari BGN bahwa konsep dapur sekolah dapat menjadi bagian dari sistem penyediaan makanan bergizi di sekolah-sekolah, terutama bagi siswa di daerah terpencil.

Gagasan School Kitchen untuk Gizi Anak Bangsa

Usulan school kitchen dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti bertujuan untuk menjadikan sekolah sebagai pusat penyedia makanan sehat bagi siswanya. Skema ini dinilai lebih efisien, transparan, serta mendukung edukasi gizi dan kemandirian sekolah dalam memenuhi kebutuhan pangan anak-anak.

Dalam konsep ini, dapur sekolah akan berfungsi sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menggantikan sistem dapur MBG yang selama ini dikontrak melalui mitra penyedia. Dengan begitu, sekolah dapat langsung memantau kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada siswa.

Namun, pelaksanaannya tentu membutuhkan infrastruktur, SDM, serta pengawasan yang ketat agar tidak mengulang kegagalan masa lalu.

Pelajaran dari Kegagalan Konsep Serupa

Nanik mengakui, ide dapur sekolah bukan hal baru. Beberapa daerah sempat mencoba model serupa, namun tidak berjalan sesuai harapan.

“Masalahnya sampai saat ini, ada yang pernah dicoba di Bogor, kantin nih ada beberapa yang mengelola. Ternyata gara-gara pemiliknya berantem, malah makanannya juga keracunan. Di Lampung juga pernah dicoba,” ungkapnya.

Kegagalan di masa lalu, kata Nanik, menjadi pelajaran berharga agar ke depan sistem pengawasan, koordinasi, dan manajemen dapur sekolah lebih matang. Ia menegaskan, BGN tidak menutup diri terhadap inovasi apa pun yang dapat memperkuat pelaksanaan MBG, selama tetap mengutamakan keamanan pangan dan kelayakan operasional.

Model Mitra Mandiri dan Dukungan Daerah 3T

Saat ini, pelaksanaan program MBG menggunakan dua model utama: mitra mandiri dan dapur pemerintah daerah/desa.
Pada model mitra mandiri, pihak swasta atau lembaga masyarakat membangun dan mengelola dapur secara independen, sementara BGN melakukan pengawasan dan memberikan dukungan pendanaan melalui mekanisme kontrak jangka panjang.

“Mitra mandiri itu semua yang membangun dapurnya adalah mitra. Tapi nanti di wilayah 3T ada dapur-dapur yang dibangun oleh pemerintah daerah atau pemerintah desa. Nanti disewa oleh BGN empat tahun di depan, itu kita bayarkan di muka,” jelas Nanik.

Skema ini dirancang untuk menjamin keberlanjutan program di daerah yang belum memiliki infrastruktur memadai, sekaligus mendorong partisipasi pemerintah daerah dalam menyediakan sarana gizi anak.

Nanik juga menambahkan, jika sekolah memiliki kapasitas dan kesiapan, tidak menutup kemungkinan konsep school kitchen diterapkan secara paralel.

“Kalau memang sekolahnya mampu, why not? Nggak masalah. Kita mix nanti,” ujarnya menegaskan.

Sinergi Antara BGN dan Kemendikdasmen

Nanik memastikan, koordinasi antara BGN dan Kemendikdasmen sudah berjalan baik. Ia menegaskan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti merupakan bagian dari tim koordinasi lintas kementerian yang menangani implementasi program MBG.

Sebelumnya, Abdul Mu’ti mengusulkan agar dapur MBG diintegrasikan dengan fasilitas sekolah agar pengawasan mutu gizi dan keamanan pangan lebih optimal. Usulan tersebut juga sudah disampaikan secara langsung kepada Kepala BGN Dadan Hindayana.

Dalam pernyataannya, Abdul Mu’ti menekankan bahwa school kitchen hanya akan diterapkan di sekolah yang siap secara sarana, SDM, dan manajemen. Ia tidak ingin program yang mulia ini terganggu oleh pelaksanaan yang terburu-buru.

Membangun Generasi Sehat Melalui Kolaborasi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui intervensi gizi di usia sekolah. Dengan sinergi lintas kementerian dan pendekatan inovatif seperti school kitchen, diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan gizi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pola makan sehat.

Langkah BGN membuka ruang kolaborasi dengan Kemendikdasmen menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan gizi anak bangsa kini menempuh jalur yang lebih integratif. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

“Kami terbuka pada semua usulan yang sejalan dengan tujuan meningkatkan gizi anak bangsa,” pungkas Nanik.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *