google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Delapan Dekade PGRI: Guru dan Nasib Pendidikan Indonesia

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Setiap 25 November, Indonesia kembali meneguhkan salah satu fondasi terpenting dalam perjalanan bangsanya: penghormatan terhadap para guru. Tahun ini, peringatan Hari Guru Nasional ke-80 sekaligus HUT PGRI menjadi momentum untuk mengenang kembali jejak panjang perjuangan para pendidik sejak sebelum republik berdiri, serta tantangan dunia pendidikan yang masih membayangi hingga hari ini.

Akar Sejarah yang Tak Terpisahkan dari Perjuangan Bangsa

Dalam Pembukaan UUD 1945, salah satu tujuan utama berdirinya negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Prinsip ini bukan sekadar kalimat, melainkan amanat besar yang sejak awal diemban oleh para guru Indonesia. Di era kolonial, pendidikan menjadi ruang terbatas, diskriminatif, dan penuh sekat sosial. Namun dari ruang sempit itulah muncul kesadaran baru yang melahirkan elite terdidik, yang kemudian memelopori perjuangan kemerdekaan.

Pada 1912, para guru pribumi membentuk Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) sebagai organisasi guru pertama di tanah air. Mereka memperjuangkan hak guru Boemi Poetra, pemerataan akses pendidikan, serta sistem pembelajaran yang lebih layak bagi anak-anak pribumi. Meski dibayangi tekanan kolonial, semangat itu terus berlanjut dan melahirkan berbagai organisasi guru lain. Pada 1932, PGHB bermetamorfosis menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) perubahan nama yang mempertegas identitas nasional sekaligus simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Lahirnya PGRI dan Tekad Mengisi Kemerdekaan

Selama pendudukan Jepang, seluruh organisasi nasional dibubarkan. Namun semangat tidak pernah padam. Tepat 25 November 1945, tiga bulan setelah proklamasi, organisasi guru akhirnya bersatu dalam wadah baru bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Kongres pembentukannya bahkan dilakukan di tengah ancaman pemboman tentara Inggris, namun tekad kaum guru tak tergoyahkan.

Tiga tujuan besar ditetapkan:

  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Meningkatkan pendidikan berdasarkan prinsip kerakyatan.
  3. Membela hak dan nasib buruh, terutama guru.

Momentum pendirian PGRI inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional.

Tantangan Mutakhir: Mutu Pendidikan Belum Merata

Delapan dekade berlalu, tantangan pendidikan bergeser dari kolonialisme ke realitas global. Hasil PISA 2022 yang menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 80 negara memperlihatkan pekerjaan rumah yang masih besar. Ketimpangan akses pendidikan, kualitas guru yang belum merata, beban administrasi yang tinggi, kurikulum yang kerap berubah, hingga kesejahteraan guru yang belum optimal menjadi deretan tantangan yang belum selesai.

Di saat bersamaan, Indonesia menghadapi bonus demografi hingga 2040. Tanpa kualitas pendidikan yang kuat, peluang generasi emas dapat berubah menjadi bencana demografi.

Harapan Baru untuk Pendidikan Indonesia

Meski berbagai kendala masih dihadapi, peluang perbaikan terbuka lebar: tingginya partisipasi masyarakat dalam pendidikan, kemajuan teknologi informasi, program peningkatan kompetensi guru, serta keterlibatan dunia industri dalam pendidikan vokasi.

Pada peringatan Hari Guru Nasional ke-80 ini, para pendidik kembali memperteguh tekadnya dengan semboyan: “Guru Hebat, Indonesia Kuat.” Sebuah pesan bahwa masa depan bangsa bertumpu pada kualitas manusia yang ditempa dalam ruang-ruang belajar yang bermakna.

Selamat Hari Guru Nasional ke-80 bagi seluruh insan pendidik di Indonesia. Semangat untuk terus menerangi perjalanan bangsa.

Penulis: Sigit Pramono, S.Pd., M.A.P

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *