google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Di Balik Tugas Relawan Medis UMM di Bencana Sumatra

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com — Menghadapi penyintas banjir bandang yang kehilangan rumah dan anggota keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang akrab disapa Dana itu terjun langsung memberikan pendampingan psikososial kepada korban banjir bandang di Sumatra Barat sepanjang Desember 2025.

Dana merupakan relawan dalam program tanggap bencana Universitas Muhammadiyah Malang yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek). Program ini berfokus pada layanan medis dan pemulihan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana.

Dalam misi tersebut, Dana dipercaya menjadi bagian dari tim psikososial. Tugas utamanya mendampingi penyintas yang mengalami gangguan mental akibat trauma pascabencana, mulai dari kecemasan berat hingga gangguan panik.

“Saya turun langsung ke masyarakat untuk mengidentifikasi gejala trauma dan gangguan mental yang mereka alami setelah banjir bandang,” kata Dana.

Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi titik awal Dana berhadapan langsung dengan realitas dampak bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang menampung penyintas asal Kecamatan Palembayan, wilayah yang masuk zona merah dengan tingkat kerusakan paling parah.

Menurut Dana, sebagian besar penyintas kehilangan tempat tinggal bahkan anggota keluarga. Cerita tentang rumah yang rata dengan tanah dan keluarga yang tidak selamat menjadi gambaran umum kondisi psikologis para korban.

“Mereka datang dengan luka fisik, tetapi yang paling berat adalah luka emosional akibat kehilangan,” tuturnya.

Dana menjelaskan pendampingan dilakukan melalui asesmen psikologis, konseling, teknik relaksasi, hingga pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua pekan. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-masing penyintas.

Mayoritas pasien mengalami kecemasan akut, gangguan panik, serta tekanan emosional yang mendalam. Meski demikian, Dana melihat ketangguhan luar biasa dari para korban untuk tetap bertahan di tengah situasi sulit.

“Sebagian besar adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi semangat hidup mereka masih sangat kuat,” ujarnya.

Pengalaman paling membekas bagi Dana terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi, Lubuk Basung. Di lokasi itu, ia mendengar kisah seorang ayah yang berjuang menyelamatkan istri dan anaknya dari terjangan galodo.

“Ada seorang ayah yang memilih mengorbankan dirinya agar keluarganya selamat. Ia bahkan melukai diri demi bisa keluar dari jeratan banjir setelah mendengar pertanyaan anaknya, ‘Ayah setelah ini kita mau ke mana?’ Cerita itu benar-benar mengguncang saya,” jelasnya.

Dana mengakui, meski telah menjalani stase kejiwaan selama pendidikan koas, pengalaman lapangan ini memberikan pembelajaran yang jauh lebih mendalam. Ia harus menyeimbangkan empati sebagai manusia dan profesionalisme sebagai calon dokter.

“Ini pengalaman yang tidak tergantikan dalam perjalanan saya menjadi dokter,” seru Dana.

Dana berharap program kolaborasi UMM dan KemendiktiSaintek yang berfokus pada layanan medis dan psikososial dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas. Ia menilai dukungan psikologis sama pentingnya dengan penanganan fisik dalam proses pemulihan pascabencana.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *