google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

DPRD Jatim Gaet Gen Z: Demokrasi Bukan Cuma 5 Tahun Sekali

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Pasuruan, iKoneksi.com – Demokrasi bukan hanya urusan bilik suara. Bagi generasi muda, terutama Gen Z, demokrasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Pesan inilah yang menjadi napas utama dalam kegiatan Squad Dewan bertema Suara Gen Z untuk Demokrasi” yang digelar oleh DPRD Provinsi Jawa Timur di Royal Senyiur Hotel, Pasuruan, Rabu (8/10/2025).

Acara ini menghadirkan puluhan pelajar, mahasiswa, dan komunitas muda dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka diajak berdialog langsung dengan para wakil rakyat untuk memahami esensi demokrasi dari perspektif yang lebih dekat, ringan, dan relevan dengan keseharian anak muda masa kini.

Demokrasi Bukan Sekadar Pemilu

Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur, Saifudin Zuhri, membuka forum dengan pernyataan yang menggelitik:

“Sebenarnya, demokrasi nggak cuma soal pemilu. Ini tentang hidup kita sehari-hari!,” kata Saifudin.

Saifudin menegaskan demokrasi sejati adalah soal partisipasi dan kesetaraan. Ia bahkan mengibaratkannya dengan hal yang sangat dekat dengan anak muda: grup chat kelas.

“Demokrasi itu kayak grup chat kelas. Semua boleh usul, semua berhak nyuarain pendapat, dan keputusan yang diambil seharusnya untuk kepentingan bersama,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Menurutnya, pemahaman semacam ini penting agar anak muda tidak menganggap demokrasi hanya hadir lima tahun sekali saat pemilu. Demokrasi sejatinya hadir di sekolah, kampus, komunitas, bahkan di ruang digital tempat Gen Z berinteraksi setiap hari.

Inti Demokrasi: Bebas, Setara, dan Berpartisipasi

Saifudin menyebutkan dalam forum yang dikemas santai namun berbobot itu, Saifudin menjabarkan tiga inti demokrasi yang seharusnya menjadi pegangan generasi muda.

Pertama, kebebasan berekspresi.

Anak muda, kata Saifudin, bebas menulis, bernyanyi, berpendapat di media sosial, atau membuat konten kreatif tanpa takut dibungkam selama dilakukan dengan tanggung jawab.

Kedua, kesetaraan.

Semua warga negara, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau identitas, memiliki hak yang sama dalam menentukan arah bangsa.

Ketiga, partisipasi aktif.

“Partisipasi nggak harus di panggung politik. Bisa di OSIS, karang taruna, komunitas lingkungan, atau bahkan lewat konten edukatif di media sosial,” tuturnya.

Gen Z: Bukan Sekadar Anak Muda, Tapi Agen Perubahan

Saifudin menekankan, generasi Z bukan hanya kelompok usia muda, melainkan kekuatan baru yang bisa mengguncang arah demokrasi Indonesia.

Ia menyebut empat karakter utama Gen Z yang membuat mereka punya peran penting:

  • Melek teknologi: Informasi berada di ujung jari mereka.
  • Kritis dan skeptis: Tidak mudah percaya hoaks dan lebih suka memeriksa fakta.
  • Kreatif dan inovatif: Selalu menemukan cara unik untuk menyuarakan pendapat.
  • Peduli isu sosial: Mulai dari lingkungan, kesetaraan gender, hingga kesehatan mental.

“Kalau karakter ini diarahkan untuk berpartisipasi secara positif, Indonesia punya harapan besar. Demokrasi kita bisa makin sehat,” ujarnya.

Tantangan Zaman: Hoaks, Polarisasi, dan Apatisme

Namun, Saifudin juga mengingatkan bahwa semangat Gen Z tidak boleh padam di tengah tantangan digital. Dunia maya, katanya, adalah medan tempur yang penuh jebakan.

Pertama, banjir hoaks dan misinformasi.
Sebelum membagikan informasi, ia mendorong anak muda untuk selalu memeriksa kebenaran melalui situs-situs pengecek fakta seperti turnbackhoax.id atau cekfakta.com.

Kedua, polarisasi politik.

“Jangan sampai beda pilihan bikin kita bermusuhan. Fokus pada gagasan, bukan pada kubu,” tegasnya.

Ketiga, apatisme politik.

Banyak anak muda yang merasa suaranya tidak berarti. Padahal, menurut Saifudin, golput justru membiarkan masa depan ditentukan oleh orang lain.

“Kalau kamu nggak memilih, kamu sedang menyerahkan masa depanmu ke orang lain,” tekannya.

Aksi Nyata Gen Z untuk Demokrasi

Di akhir sesi, peserta Squad Dewan diajak untuk membuat komitmen aksi nyata: mulai dari memastikan diri terdaftar sebagai pemilih, membuat konten edukatif tentang hak warga negara, hingga mengawasi janji-janji calon pemimpin setelah pemilu.

Saifudin juga mendorong kreativitas sebagai bentuk partisipasi politik baru.

“Ayo bikin poster, lagu, video TikTok, atau diskusi santai tentang demokrasi. Cara penyampaian boleh gaul, tapi pesannya harus kuat,” serunya.

Dengan semangat yang menyala, forum Squad Dewan diakhiri dengan seruan bersama Demokrasi bukan cuma lima tahun sekali, tapi setiap hari!”. Pesan itu bergema di ruang Royal Senyiur Hotel, seolah menjadi pengingat bahwa masa depan demokrasi Indonesia ada di tangan generasi muda generasi yang berani berpikir kritis, bersuara lantang, dan bertindak nyata. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *