google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

FIB UB Dorong Inovasi Budaya Lewat Jejaring UNESCO Global

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam pengembangan budaya dan kolaborasi global. Pada Jumat (21/11/2025), fakultas ini resmi mencatat sejarah melalui penyelenggaraan International Workshop bertema From Heritage to Innovation: Empowering Cultural-Based Creative Industries.” Acara bergengsi ini berlangsung di Aula A FIB UB dengan menggandeng UNESCO serta menghadirkan tokoh akademik dan praktisi dari Tiongkok, Thailand, dan Korea Selatan.

Momentum ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UB, tetapi juga memperkuat posisi Kota Malang yang baru saja dinyatakan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities of Media Arts 2025. Workshop ini menjadi pintu masuk bagi percepatan inovasi kreatif berbasis budaya yang terhubung secara langsung dengan jejaring global.

Budaya sebagai Akar Inovasi: Arah Baru FIB UB

Dalam sambutan pembuka, Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menegaskan internasionalisasi tidak berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa langkah global harus dibangun dari kekuatan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Internasionalisasi bukan berarti meninggalkan akar, melainkan memperkenalkan kekayaan lokal kepada dunia dengan cara yang relevan, kreatif, dan berdampak,” kata Sahiruddin.

Ia memandang Kota Malang sebagai ruang inspiratif bagi industri kreatif berbasis budaya, dengan potensi desa-desa di Malang Raya yang kini sedang dipetakan untuk dijadikan bagian dari program sister village. Konsep ini dirancang untuk menghubungkan desa-desa budaya di Indonesia dengan desa-desa di Tiongkok dan Korea Selatan melalui jejaring UNESCO. Langkah ini diyakini menjadi strategi penting untuk menjaga identitas, memperkuat ekonomi kreatif lokal, dan membuka peluang pertukaran budaya secara berkelanjutan.

Peresmian UNESCO Work Station: Babak Baru Kolaborasi Global

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., turut memberikan sambutan sekaligus meresmikan berdirinya UNESCO Work Station di FIB UB. Unit baru ini dirancang menjadi pusat kolaborasi internasional dalam bidang media arts, warisan budaya, dan kajian lintas disiplin.

Dalam paparannya, Prof. Widodo memberi apresiasi atas konsistensi FIB dalam memimpin studi budaya dan seni.

“FIB telah lama menunjukkan keunggulan dalam kajian budaya, seni, linguistik, dan media. Komitmen mereka terhadap keterlibatan budaya global menjadikan FIB mitra strategis bagi UNESCO,” ujarnya.

Peresmian ini menjadi penanda keseriusan UB untuk mewujudkan visi Globalizing UB, yaitu memperluas jejaring internasional dengan mengangkat budaya sebagai fondasi intelektual dan identitas institusi.

Pelajaran dari Dunia: Transformasi Warisan Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi

Salah satu sesi paling dinantikan adalah presentasi dari Prof. Dr. Yong (Hardy) Xiang, UNESCO Chair on Creativity and Sustainable Development in Rural Areas sekaligus Dekan Institute for Cultural Industries, Peking University.

Dalam materinya “Creative Empowerment of Cultural Heritage,” Prof. Hardy menguraikan empat jalur pemberdayaan budaya yang telah berhasil diterapkan Tiongkok, yaitu:

  1. Teknologi
  2. Gaya hidup
  3. Fesyen
  4. Media sosial

Keempat jalur ini terbukti mampu mengubah warisan budaya menjadi kekuatan ekonomi, identitas nasional, sekaligus pusat inovasi kreatif.

Menurut Yong, Indonesia memiliki peluang luar biasa untuk mengadopsi pendekatan tersebut. Ia menilai kekayaan budaya Indonesia mulai dari batik, wayang kulit, hingga ukiran tradisional dapat menjadi sumber inovasi global jika dikelola dengan strategi integratif berbasis edukasi, digitalisasi, komunitas, dan kemitraan internasional.

Penguatan Jejaring dan Masa Depan Industri Kreatif Budaya Malang

Workshop kemudian berlanjut dengan diskusi panel yang mempertemukan para peserta dari berbagai negara. Mereka membahas tantangan, strategi, dan peluang kolaborasi dalam membangun industri kreatif berbasis budaya di era digital.

Widodo menyebutkan momentum ini menjadi bukti FIB UB tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga pada misi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring budaya global.

“Melalui kerja sama erat dengan UNESCO, universitas ternama Asia, serta komunitas budaya lokal, FIB UB mendorong terbangunnya ekosistem inovasi yang berakar pada tradisi, namun melangkah dengan pendekatan modern dan berkelanjutan,” terang Widodo.

Workshop ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang yang mencakup riset, pertukaran akademik, pembangunan desa kreatif, hingga diplomasi budaya lintas negara.

“Dengan langkah yang semakin terukur dan dukungan berbagai mitra, FIB UB bersiap menjadikan Jawa Timur khususnya Malang sebagai salah satu pusat rujukan industri kreatif berbasis budaya di tingkat global,” tutup Widodo.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *