google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Gunung Sampah Mengancam, DLH Kota Malang Siapkan Revolusi Energi dari TPA

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Tumpukan sampah di Kota Malang kian hari kian menggunung. Volume limbah yang dihasilkan warga kini mencapai sekitar 730 ton per hari angka yang mencerminkan betapa beratnya beban lingkungan perkotaan yang terus tumbuh. Dari total tersebut, lebih dari 500 ton dibuang ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Supit Urang, sementara sisanya dikelola melalui TPS3R, TPST, dan Pusat Kelola Desa (PKD).

Fenomena ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Malang. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi bergantung pada sistem pembuangan akhir semata. Kini, fokus diarahkan pada pengelolaan langsung dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.

Mengubah Pola Pikir Warga: Sampah Dimulai dari Rumah

Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, menyebut strategi utama pemerintah saat ini adalah mengubah perilaku masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai sejak dari rumah dengan memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah organik maupun anorganik.

“Kami terus mengedukasi masyarakat agar memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. Dengan begitu, volume sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan secara signifikan,” kata Raymond kepada iKoneksi.com, Selasa (4/11/2025).

Sebagai bentuk dukungan konkret, DLH telah menyalurkan bantuan komposter kepada warga dan mendirikan bank sampah di berbagai kelurahan. Melalui pelatihan yang digelar, peserta dibekali pengetahuan teknis mulai dari cara komposting, pembuatan eco-enzyme, hingga daur ulang limbah rumah tangga.

“Tak hanya teori, warga juga mendapatkan peralatan pendukung seperti sarung tangan, komposter portabel, serta pupuk cair berbasis mikroorganisme agar mereka bisa langsung mempraktikkan teknik pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Langkah Besar: Ubah Sampah Jadi Energi

Namun upaya pemerintah tidak berhenti di level masyarakat. DLH Kota Malang kini tengah menyiapkan proyek besar yang berpotensi menjadi tonggak sejarah pengelolaan sampah di Jawa Timur — yakni pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Supit Urang.

Proyek ini tidak hanya akan mengurangi volume sampah yang menumpuk, tetapi juga menghasilkan energi listrik ramah lingkungan melalui teknologi modern yang didukung oleh World Bank. Selain itu, Pemkot Malang berencana mengembangkan sistem Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri,” beber Raymond.

Raymond menjelaskan bahwa sistem RDF mampu memanfaatkan limbah kering seperti plastik dan kertas untuk dijadikan bahan bakar bagi pabrik semen atau pembangkit listrik, sehingga memiliki nilai ekonomi dan energi yang tinggi.

“Kami juga sedang mengkaji penggunaan insinerator untuk mempercepat proses pengurangan volume sampah secara signifikan,” ucapnya.

Jika proyek ini terealisasi, TPA Supit Urang bukan lagi sekadar tempat pembuangan akhir, tetapi akan menjadi pusat energi baru terbarukan (EBT) yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Melahirkan Generasi Peduli Lingkungan

Kegiatan edukatif dan pelatihan yang digelar DLH juga menjadi tindak lanjut dari hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan dan tematik. Tujuannya sederhana, tapi strategis: melahirkan kader muda peduli lingkungan yang dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan kota bersih dan hijau.

“Kami percaya bahwa perubahan besar tidak akan terjadi tanpa keterlibatan masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas warga menjadi bagian penting dari visi Malang menuju Kota Cerdas dan Berkelanjutan,” tukasnya.

Raymond menegaskan bahwa program ini juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas hijau, akademisi, hingga pelaku usaha yang berorientasi pada ekonomi sirkular.

Optimisme Menuju Kota Tanpa Sampah

Meski tantangannya besar, DLH Kota Malang optimistis langkah-langkah strategis ini akan membawa perubahan nyata. Dengan kombinasi antara edukasi, inovasi teknologi, dan kolaborasi masyarakat, Pemkot yakin mampu menekan timbunan sampah sekaligus menciptakan peluang baru di sektor energi dan lingkungan.

“Visi besar ini sejalan dengan komitmen Kota Malang untuk menjadi kota hijau dan berdaya guna, di mana setiap sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi sumber daya bernilai tinggi. Jika rencana pembangunan PSEL dan RDF berjalan mulus, Malang berpotensi menjadi kota percontohan pengelolaan sampah modern di Indonesia. Dari tumpukan sampah yang semula menjadi masalah, kini muncul peluang emas: mengubah limbah menjadi energi, dan masalah menjadi masa depan,” tandasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *