google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Inflasi Terkendali, Ekonomi Malang Raya Makin Stabil

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Bank Indonesia (BI) Malang menunjukkan taringnya dalam menjaga stabilitas ekonomi regional, khususnya pengendalian inflasi di Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo. Dalam pernyataan resmi pertengahan 2025, Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Febrina, menegaskan keberhasilan ini bukanlah kerja individu, melainkan buah dari sinergi kuat antara BI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

Inflasi Masih Terkendali di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Kota Malang pada Juni 2025 tercatat sebesar 0,38% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,11% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, Kota Probolinggo mencatat inflasi 0,37% (mtm) dan 2,21% (yoy). Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% ± 1%.

“Ini pencapaian yang patut kita syukuri, apalagi di tengah tekanan global terhadap harga pangan dan energi,” kata Febrina.

Menurutnya, stabilitas harga ini menunjukkan efektivitas kolaborasi lintas sektor serta respons cepat terhadap fluktuasi harga di lapangan.

Penyumbang Inflasi dan Strategi Penekanan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah tersebut, dengan andil 0,31% (mtm). Komoditas seperti cabai rawit, kacang panjang, telur ayam ras, emas perhiasan, dan bawang merah mengalami kenaikan harga, terutama karena meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Iduladha dan terbatasnya pasokan akibat masa tanam baru.

Namun, BI Malang bersama TPID dan pemerintah daerah berhasil meredam laju inflasi dengan berbagai strategi. Komoditas seperti bawang putih, bensin, pisang, jeruk, dan tarif ojek online mengalami penurunan harga yang signifikan dan menjadi penyeimbang tekanan inflasi.

“Kalau tidak ada penurunan pada beberapa komoditas ini, inflasi bisa jauh lebih tinggi. Ini bukti bahwa kerja bersama memberikan hasil nyata,” ujar Febrina.

Langkah Strategis Pengendalian Inflasi

Febrina mengungkapkan keberhasilan menahan inflasi di wilayah BI Malang tak lepas dari sejumlah langkah strategis, antara lain:

  1. Operasi Pasar Murah dan Pemantauan Harga:
    BI dan pemerintah daerah rutin menggelar pasar murah dan melakukan sidak harga di pasar-pasar tradisional. Langkah ini memastikan stok bahan pokok tetap tersedia dan harga tidak melonjak drastis.
  2. Rapat Koordinasi Rutin TPID:
    Rapat mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri dan TPID digunakan untuk memetakan dinamika harga dan merumuskan respons kebijakan yang tepat.
  3. Kerja Sama Antar Daerah (KAD):
    Kolaborasi dengan daerah penghasil pangan seperti Kabupaten Blitar untuk pasokan telur dan jagung menjadi kunci menjaga stabilitas pasokan dan harga.
  4. Program 4K dari BI:
    BI Malang terus memperkuat program 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif. Ini menjadi pilar pengendalian inflasi yang teruji.
  5. Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP):
    Program ini menjadi motor penggerak utama dalam mengatasi fluktuasi harga pangan, terutama untuk komoditas strategis yang kerap memicu inflasi tinggi.

Konsumsi Tetap Kuat, Optimisme Masyarakat Terjaga

Menariknya, meski inflasi ada, konsumsi masyarakat tetap tumbuh. Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) pada Mei 2025 menunjukkan kenaikan sebesar 3,34% (mtm). Indeks keyakinan konsumen juga tetap berada pada level optimis.

“Artinya, masyarakat kita masih punya daya beli dan tetap percaya pada kestabilan ekonomi. Ini penting untuk jaga momentum pertumbuhan,” terang Febrina.

Sinergi Jadi Kunci Utama

Febrina juga menekankan bahwa pengendalian inflasi harus terus dijalankan dengan sinergi dan komunikasi yang baik antara pusat dan daerah.

“Kalau distribusi lancar dan pasokan cukup, inflasi bisa dikendalikan. Kuncinya adalah sinergi dan inovasi yang berkelanjutan,” sebutnya.

Selain menjaga kestabilan harga, BI Malang juga fokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Indeks pemberdayaan masyarakat terus membaik, menandakan bahwa kesenjangan ekonomi perlahan menurun dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dinamika ekonomi meningkat.

Menurut Febrina dengan inflasi yang terjaga, daya beli yang stabil, serta sinergi kuat antara BI dan pemerintah daerah, Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo semakin siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang kolaboratif dan responsif mampu menciptakan kestabilan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ekonomi bisa tumbuh sehat jika inflasi terkendali dan masyarakat terlayani. Kami akan terus bergerak, bersinergi, dan menjaga kepercayaan publik,” pungkas Febrina. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *