google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Joyogrand Merjosari Jadi Teladan Kampung Hijau di Kota Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Warga RW 08 Perumahan Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, menunjukkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan bisa menjadi gerakan nyata yang berdampak luas.

Di bawah kepemimpinan Ketua RW Wahyu Bawana Nawaksara, kawasan perumahan ini tak hanya sekadar tempat tinggal, tetapi telah menjelma menjadi komunitas yang hidup dengan semangat pelestarian lingkungan. Melalui partisipasinya dalam Lomba Kampung Bersinar 2025 yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Joyogrand mempertegas komitmennya mendukung misi Pemkot dalam mewujudkan Ngalam Rijik, Ngalam Seger gerakan menuju kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Wahyu menuturkan dari sekian banyak program lingkungan yang diinisiasi warga, Gerakan 1.000 Biopori menjadi yang paling menonjol. Setiap rumah tangga di Joyogrand diajak untuk membuat lubang resapan biopori di halaman mereka masing-masing. Hasilnya, selain membantu meningkatkan daya serap air tanah, langkah sederhana ini juga mengurangi risiko banjir saat musim hujan dan menjaga ketersediaan air di musim kemarau. Tak hanya soal teknis lingkungan, program ini menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif warga terhadap alam sekitar.

“Kami ingin menunjukkan bahwa peduli lingkungan bukan slogan, tapi gaya hidup yang harus kita jalani bersama,” kata Wahyu.

Namun, kepedulian warga Joyogrand tak berhenti di urusan air. Mereka juga menggagas program Sedekah Sampah Jadi Berkah, sebuah gerakan sosial yang mengubah limbah anorganik menjadi sumber kebaikan. Setiap warga mengumpulkan sampah rumah tangga, memilahnya, lalu menjual hasil daur ulangnya. Dana yang terkumpul digunakan untuk kegiatan sosial dan pemberdayaan lingkungan. Dari sini, warga belajar bahwa menjaga bumi dapat berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan lingkungan bersih, warga pun berdaya.

“Kehidupan sehari-hari di Joyogrand juga tak lepas dari semangat hemat energi dan efisiensi sumber daya. Warga membiasakan diri menggunakan air bekas wudhu atau cucian untuk menyiram tanaman. Di malam hari, beberapa titik penerangan jalan sudah beralih menggunakan energi surya (solar cell), langkah cerdas yang menekan konsumsi listrik sekaligus mengurangi jejak karbon. Upaya kecil ini membuktikan bahwa gaya hidup ramah lingkungan bisa diterapkan secara sederhana tanpa harus menunggu kebijakan besar dari pemerintah,” jelas Wahyu.

Menurut Wahyu, seluruh gerakan ini tumbuh dari kesadaran bersama. Tak ada paksaan, melainkan keinginan tulus warga untuk menjadikan Joyogrand sebagai kawasan percontohan eco-living di perkotaan.

“Kami ingin menjadikan Joyogrand bukan hanya perumahan yang indah dipandang, tetapi juga lingkungan yang tangguh dan ramah bumi,” terangnya dengan tegas.

Wahyu menyebutkan semangat gotong royong yang menyatu dengan inovasi berkelanjutan inilah yang membuat Joyogrand mencuri perhatian publik. Setiap kegiatan lingkungan di sana dikelola dengan partisipasi aktif warga mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mereka percaya bahwa menjaga bumi bukan tugas segelintir orang, tetapi tanggung jawab bersama yang harus diturunkan lintas generasi.

“Kini, RW 08 Joyogrand bukan sekadar peserta lomba, melainkan simbol perubahan di tingkat akar rumput. Keikutsertaannya dalam Lomba Kampung Bersinar bukan hanya untuk meraih gelar juara, melainkan sebagai bentuk nyata komitmen warga terhadap masa depan Kota Malang. Dalam setiap biopori yang digali dan setiap botol plastik yang dikumpulkan, tersimpan semangat besar: menjadikan Malang benar-benar Ngalam Rijik, Ngalam Seger kota yang bersih, segar, dan membanggakan warganya,” tandas Wahyu.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *