google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kadispangtan Kota Malang: Perkuat Peran Pangan Lokal Cegah Stunting

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Upaya menekan angka stunting di Kota Malang tidak hanya menjadi tanggung jawab satu organisasi perangkat daerah (OPD). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang mengambil peran strategis melalui penguatan ketahanan pangan keluarga berbasis urban farming yang terintegrasi.

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan intervensi yang dilakukan sejalan dengan arahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang untuk menjalankan program lintas sektor (crosscutting). Pendekatan ini menempatkan keluarga sebagai pusat pemenuhan gizi, khususnya bagi kelompok berisiko stunting.

“Fokus utama kami adalah menghadirkan sumber pangan bergizi langsung di tingkat rumah tangga hingga lingkungan RT dan RW. Urban farming menjadi strategi utama, karena mengintegrasikan budidaya tanaman, perikanan, dan peternakan skala perkotaan,” kata Slamet kepada iKoneksi.com, Kamis (11/12/2025).

Menurut Slamet, konsep pertanian kota memungkinkan keluarga memperoleh sayur mayur dan sumber protein hewani secara mandiri. Program ini dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi berkelanjutan, bukan sekadar intervensi jangka pendek.

“Pelaksanaan program tersebut berbasis pada Surat Keputusan (SK) Wali Kota tentang keluarga prioritas dan super prioritas penanganan stunting. Dalam SK tersebut tercantum data rinci, mulai dari alamat, identitas keluarga, hingga kebutuhan spesifik yang harus dipenuhi,” tutur Slamet.

“Dengan dasar SK itu, kami bisa menentukan wilayah prioritas dan jenis intervensi yang tepat. Jadi penanganannya lebih terarah dan sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya.

Dispangtan mencatat perkembangan urban farming di Kota Malang terus meningkat. Saat ini terdapat 115 kelompok urban farming yang tersebar di berbagai wilayah, dengan tren pertumbuhan setiap tahun.

“Untuk budidaya ikan nila dan lele, hampir seluruh 57 kelurahan sudah memiliki kelompok. Setiap tahun selalu ada kelompok baru yang terbentuk,” sebut Slamet.

Intervensi perikanan difokuskan pada ikan nila dan lele karena kandungan gizinya dinilai efektif dalam mendukung pemenuhan protein keluarga berisiko stunting. Sementara itu, sektor peternakan perkotaan diarahkan pada produksi telur sebagai sumber protein hewani yang mudah diakses.

“Selain menyediakan sarana produksi, Dispangtan juga memberikan pelatihan, pendampingan, serta monitoring rutin kepada kelompok-kelompok urban farming. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan sektor perhotelan, turut difasilitasi untuk memperkuat keberlanjutan program,” terangnya.

“Kami juga memiliki Ngalam Farmer Market sebagai ruang temu petani, peternak milenial, dan pembudidaya ikan. Produk urban farming bisa dihimpun dan dipasarkan di sana, termasuk peluang kerja sama dengan hotel melalui PHRI,” katanya.

Meski demikian, Slamet mengakui tantangan terbesar urban farming terletak pada konsistensi dan keberlanjutan pengelolaan kelompok.

“Hasilnya bisa dikonsumsi dan bernilai ekonomi. Tapi kuncinya kelompok harus tetap aktif. Ini yang terus kami dorong agar program benar-benar berdampak,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *