google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kisah Mahasiswa KKN dan Dilema Sound Horeg di Tengah Masyarakat

  • Bagikan
banner 468x60

Jawa Timur, iKoneksi.com – Apa jadinya jika mahasiswa yang awalnya anti terhadap musik jedag-jedug ala sound horeg, justru berakhir ikut berjoget pargoy di acara karnaval? Inilah kisah nyata yang dialami Vanesa (23), seorang mahasiswa asal Jakarta, bersama rekan-rekannya saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa di Jawa Timur. Perjalanan mereka bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa, melainkan sebuah pengalaman budaya yang mengubah perspektif dan bahkan menggoyahkan prinsip.

Kejutan Awal di Desa KKN

Sejak awal penempatan, Vanesa membayangkan akan KKN di desa pelosok dengan banyak keterbatasan. Harapannya, ia dan rekan-rekannya bisa membantu menyelesaikan persoalan warga, memberi edukasi, atau setidaknya memantik inovasi. Namun, yang ia dapat justru di luar ekspektasi.

Desa yang dituju ternyata sudah cukup modern. Akses jalan bagus, sinyal kuat, dan infrastruktur tidak tertinggal. Tapi yang mengejutkan bukan soal fasilitas, melainkan budaya hiburan lokal: warga sangat menggandrungi sound horeg. Suatu bentuk hiburan musik keras dengan speaker raksasa dan alunan musik remix jedag-jedug yang sering dianggap “jamet” oleh masyarakat urban.

Shock Budaya: Sound Horeg Tiap Hari

Tak butuh waktu lama bagi Vanesa untuk menyadari suara dentuman musik bukan hal asing di desa tersebut. Saban sore, warga berkumpul untuk latihan joget pargoy dan battle sound horeg menjelang perayaan 17 Agustus. Bahkan pagi hari pun tak luput dari dentuman itu. Mau tidak mau, Riksa dan rekan-rekannya harus belajar berdamai dengan keadaan.

“Saya pikir hanya ramai saat karnaval. Ternyata latihan pun ditonton ramai-ramai. Warga tua muda semua menikmati,” ungkap Vanesa, masih tak percaya.

Saat Mahasiswa KKN Ikut Joget Pargoy

Puncak dari kejutan budaya itu adalah ketika Karang Taruna mengajak mahasiswa KKN untuk ikut tampil dalam karnaval. Takut menolak karena bisa dianggap tak sopan atau anti-sosial, mereka pun mengangguk pasrah. Beberapa bahkan sampai belajar joget pargoy, sementara yang lain memilih mengambil peran di belakang layar: jadi pembuat konten dokumentasi.

“Dulu kami anti banget sama sound horeg. Sekarang malah ikut joget. Ironis banget sih,” kata Vanesa sambil tertawa getir.

Ia mengaku sempat merasa malu saat menceritakan hal ini ke teman KKN-nya yang berada di desa lain.

Respon dari teman-temannya? Tak lain adalah olok-olok dan cap “jamet anyaran” alias pendatang baru di dunia perjametan. Label itu melekat, dan mereka hanya bisa menanggapi dengan tawa dan rasa tidak percaya.

Fatwa MUI, Ditertawakan Warga

Dalam rasa ingin tahu yang makin besar, Riksa sempat iseng bertanya kepada anggota Karang Taruna soal fatwa haram yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur terhadap sound horeg. Alih-alih diskusi serius, warga justru menanggapi dengan gelak tawa.

“Lha, MUI itu tahu apa? Tahunya cuma horam-haram, horam-haram,” celetuk salah satu warga.

Beberapa warga bahkan menantang balik: jika sound horeg dianggap haram karena keras dan bikin gaduh, bagaimana dengan konser musik, pengajian akbar, atau salawat bersama yang juga menggunakan pengeras suara besar?

Bagi mereka, sound horeg bukan sekadar hiburan. Ini adalah momen kebahagiaan, ruang berkumpul, bahkan sumber rezeki. Pedagang makanan laris manis saat karnaval, dan penyedia jasa sound system seperti Brewog Audio bisa meraup puluhan juta rupiah dari satu kali acara.

“Pernah kacanya pecah? Ya, mereka malah bangga. Tepuk tangan karena bisa undang sound sekuat itu,” kata Wahyu Ahmad, pemilik penyedia jasa sound horeg, kepada iKoneksi.com.

Mereka yang Diam, Tapi Tak Setuju

Namun di balik hiruk pikuk musik dan semangat warga, Vanesa menemukan sisi lain. Ternyata masih ada sebagian kecil warga yang tidak suka dengan budaya sound horeg. Sayangnya, mereka memilih diam. Suara mereka tenggelam di tengah mayoritas yang begitu mencintai dentuman itu.

“Kami lega juga sih tahu ternyata bukan cuma kami yang miris,” jelas Vanesa.

Antara Adaptasi dan Dilema

Kisah Vanesa dan rekan-rekannya menjadi potret nyata bagaimana mahasiswa KKN tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis masyarakat, tetapi juga harus beradaptasi dengan realitas sosial dan budaya setempat. Ketika idealisme bertemu kenyataan, kompromi sering kali menjadi satu-satunya jalan.

“Meski terpaksa ikut berjoget dan berbaur, pengalaman ini memberi pelajaran penting: bahwa tidak semua hal bisa diubah dalam waktu singkat. Kadang, yang bisa dilakukan hanyalah mendengarkan, memahami, dan mengambil peran sekecil apa pun untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri sepenuhnya. Dan ya, kadang itu berarti ikut joget pargoy di tengah dentuman sound horeg,” tukas Vanesa. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *