google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mahasiswa UB Gagas Industri Biru Mikroalga, Menuju Energi Bersih Dunia

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menorehkan langkah berani menuju masa depan energi dan ekonomi global yang lebih berkelanjutan. Melalui gagasan inovatif bertajuk Sistem Alga Generatif Terintegrasi untuk Bioetanol, Pengolahan Air Limbah, dan Akuakultur (SAGARITA+), mereka memperkenalkan konsep industri biru berbasis mikroalga yang mengintegrasikan berbagai sektor strategis dari energi, pangan, kesehatan, hingga pariwisata edukatif.

Gagasan ini tidak hanya menawarkan solusi atas krisis energi dunia, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi ekonomi biru yang memanfaatkan potensi besar laut Indonesia secara berkelanjutan.

Lahir dari Kesadaran Energi dan Lingkungan

Ketua tim, Vincenzio Jocelino, menjelaskan bahwa ide SAGARITA+ berangkat dari keresahan terhadap masalah klasik dunia: energy trilemma, yaitu bagaimana menghadirkan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan secara bersamaan.

“Indonesia punya garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer dan potensi energi matahari yang sangat besar. Laut kita bukan hanya sumber ikan, tapi juga bisa menjadi ruang produksi energi dan pangan melalui mikroalga,” kata Vicenzio.

Menurutnya, dengan memanfaatkan mikroalga sebagai bahan baku utama, Indonesia berpotensi menjadi pionir global dalam transisi energi bersih.

“Mikroalga mampu tumbuh cepat, menyerap karbon dioksida lebih efektif dibanding hutan tropis, dan menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi mulai dari bioetanol, protein, hingga bioplastik,” tuturnya.

SAGARITA+: Integrasi Industri Masa Depan

Melalui pendekatan SAGARITA+, tim mahasiswa UB menawarkan konsep kawasan industri lepas pantai terpadu yang menggabungkan riset, produksi, dan rekreasi dalam satu ekosistem biru. Kawasan ini dirancang menjadi pusat produksi mikroalga skala besar yang dapat diolah untuk berbagai kebutuhan industri:

  • Bioenergi: Lipid mikroalga dapat diolah menjadi biodiesel dan bioetanol sebagai sumber energi bersih pengganti bahan bakar fosil.
  • Pangan dan Kesehatan: Mikroalga kaya akan protein, omega-3, dan antioksidan, menjadikannya bahan potensial untuk suplemen dan makanan fungsional.
  • Agrikultur: Limbah mikroalga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan pakan ternak, mendorong pertanian ramah lingkungan.
  • Polimer Ramah Lingkungan: Senyawa polisakarida dari mikroalga dapat dikembangkan menjadi bioplastik, mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi.
  • Pariwisata Edukatif: Kawasan industri ini juga dirancang menjadi wisata sains yang memperkenalkan energi hijau dan konsep ekonomi biru kepada publik.

“Dengan SAGARITA+, mikroalga bukan hanya sumber bioenergi, tapi juga basis industri multi-sektor yang berkelanjutan,” jelas Vincenzio.

Menjawab Tantangan Ekonomi Global

Selain menyasar transisi energi bersih, SAGARITA+ juga digagas sebagai jawaban atas tantangan ekonomi global. Dengan membangun kawasan ekonomi khusus berbasis mikroalga, tim berharap bisa menciptakan lapangan kerja baru, mendorong diversifikasi industri, dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi biru dunia.

“Kami ingin Indonesia bukan hanya jadi konsumen energi bersih, tapi juga produsen dan inovatornya,” terang Vincenzio.

Ia menegaskan, keberhasilan ide ini membutuhkan kolaborasi multi-pihak antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat pesisir.

“Dengan sinergi yang tepat, Indonesia dapat melahirkan prototipe kawasan industri masa depan yang hijau, biru, dan mandiri energi,” sebutnya.

Apresiasi dari Pimpinan Universitas Brawijaya

Gagasan brilian ini mendapat apresiasi dari pimpinan UB. Dr. Ir. Mochamad Bagus Hermanto, S.TP., M.Sc., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UB, menilai ide SAGARITA+ sebagai konsep yang matang dan komprehensif.

“Ini ide yang sangat kuat dan aplikatif. Tinggal bagaimana tim mampu mengomunikasikannya secara optimal di PIMNAS nanti, baik melalui poster maupun presentasi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menilai SAGARITA+ bukan hanya inovasi untuk kompetisi, tetapi juga proyek yang memiliki nilai strategis nasional.

“Karya ini berpotensi dikembangkan lebih jauh agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Inilah kontribusi nyata UB dalam membangun solusi berkelanjutan bagi bangsa,” ungkapnya.

Dari UB untuk Dunia: Menuju Pilar Ekonomi Biru

Menurut Setiawan SAGARITA+ menjadi salah satu karya unggulan yang ditampilkan dalam Ekspo PKM Box PIMNAS X PMWF FTP 2025 di Universitas Brawijaya, Jumat (3/10/2025). Salah satu hasil utama dari proyek ini adalah blueprint berjudul “SAGARITA+: Kawasan Ekonomi Khusus Terintegrasi Kultivasi Mikroalga Lepas Pantai untuk Menjadikan Indonesia Pilar Ekonomi Biru Dunia.”

“Blueprint tersebut menegaskan visi besar tim: menghadirkan peradaban baru berbasis energi bersih dan ekonomi biru berkelanjutan, di mana laut Indonesia bukan lagi ruang pasif, tetapi jantung inovasi masa depan. Dengan SAGARITA+, para mahasiswa UB bukan hanya sedang berkompetisi di ajang ilmiah, tetapi tengah menulis babak baru masa depan Indonesia masa depan yang hijau, biru, dan penuh harapan,” tandasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *