google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Minyak Jelantah MBG Jadi Komoditas Ekspor Bernilai Tinggi

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata memiliki nilai ekonomi yang tak terduga. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa minyak goreng bekas hasil dapur-dapur MBG kini dijual dua kali lipat lebih mahal karena menjadi komoditas ekspor untuk bahan bakar ramah lingkungan.

Dadan menjelaskan minyak jelantah tersebut ditampung para pelaku usaha, diolah, lalu diekspor sebagai bahan baku bioavtur. Salah satu pengguna utamanya adalah maskapai internasional Singapore Airlines.

“Jelantahnya tidak dibuang. Ditampung oleh para entrepreneur dan kemudian diekspor dengan harga dua kali lipat. Salah satu penggunanya adalah Singapore Airlines,” kata Dadan kepada iKoneksi.com di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (19/11/2025).

Ia menjelaskan, Singapore Airlines tengah mengembangkan citra sebagai maskapai berwawasan lingkungan. Maskapai itu berkomitmen menggunakan avtur berbahan bio minimal 1 persen sebagai bagian dari strategi pengurangan jejak karbon.

“Singapore Airlines ingin mendeklarasikan diri sebagai maskapai ramah lingkungan, dan 1 persen avturnya berbahan bio,” ucap Dadan.

Menurut Dadan, potensi bisnis minyak jelantah dari MBG sangat besar. Satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng setiap bulan. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen berubah menjadi minyak jelantah yang siap diolah kembali.

“Satu SPPG memakai 800 liter minyak goreng per bulan, dan 70 persennya menjadi minyak jelantah,” tuturnya.

Dengan jumlah SPPG yang terus bertambah, volume minyak jelantah yang dapat dipasok Indonesia mencapai jutaan liter per bulan. BGN menilai ini membuka peluang besar bagi industri bioavtur nasional yang tengah digencarkan pemerintah.

“Dari 30.000 SPPG dikali 550 liter, berapa juta liter per bulan yang bisa digunakan untuk bioavtur. Dengan program makan bergizi, potensi itu sudah mulai terasa,” sebut Dadan.

Selain bernilai ekonomi, pengelolaan minyak jelantah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pengolahan energi terbarukan di Tanah Air, sekaligus mengurangi limbah dapur berskala besar.

Dadan menambahkan, hingga saat ini telah beroperasi 15.363 SPPG yang tersebar di 38 provinsi. Layanan tersebut berhasil menjangkau 44,3 juta penerima manfaat program MBG lebih dari separuh total anak Indonesia.

“Sudah melayani 44,3 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Itu artinya 53 persen hak anak Indonesia telah kita penuhi,” ujarnya.

Pemerintah, kata Dadan, terus mengejar pemenuhan hak gizi anak-anak hingga akhir tahun sebagai bagian dari target utama MBG.

“Dengan semakin kuatnya infrastruktur SPPG dan manfaat berantai dari pengelolaan minyak jelantah, program MBG dinilai tak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan industri energi bersih,” tukas Dadan.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *