google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Operasional Alun-Alun Merdeka Malang Diperkirakan Habiskan Rp 500 Juta

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Antusiasme masyarakat yang memadati Alun-Alun Merdeka Kota Malang pada hari pembukaan melampaui prediksi pemerintah kota. Kondisi tersebut mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang segera menyiapkan skema operasional, pengamanan, dan perawatan agar ruang publik ini tetap aman, tertib, dan berkelanjutan.

Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan awalnya pembukaan alun-alun direncanakan berlangsung terbatas setelah seremoni pembukaan oleh Wali Kota Malang. Namun, membludaknya warga yang datang sejak awal membuat konsep pembukaan berubah.

“Di luar prediksi kami. Rencananya setelah Pak Wali membuka banner, baru masyarakat masuk. Tapi karena yang datang dan mengantre banyak, atas arahan Pak Wali, masyarakat ikut dalam prosesi pembukaan dari awal sampai akhir,” ucap Raymond.

Raymond menyebutkan, satu minggu pertama pasca pembukaan akan menjadi masa evaluasi. DLH akan melakukan pemantauan menyeluruh untuk menentukan pola pengelolaan yang paling tepat, terutama pada area-area yang menjadi titik konsentrasi pengunjung.

Salah satu perhatian utama adalah area playground anak. DLH berencana menempatkan petugas khusus guna mengatur waktu bermain agar semua anak mendapat kesempatan yang adil.

“Nanti akan ada penjaga. Ada waktu bermain dan ada waktu bergantian. Supaya adil dan aman,” tuturnya.

Menariknya, menurut Raymond, kesadaran pengunjung sudah terlihat sejak hari pertama. Banyak orang tua dan anak-anak secara spontan memasuki area playground tanpa alas kaki, meski belum ada imbauan resmi.

“Itu justru bagus, karena kalau pakai alas kaki malah berbahaya, terutama di perosotan,” jelasnya.

Lonjakan pengunjung juga berdampak pada kebutuhan sumber daya manusia. DLH mengakui perlunya penambahan tenaga keamanan dan kebersihan, mengingat alun-alun kini menjadi ruang publik dengan intensitas kunjungan tinggi.

“Lingkungan hidup itu kerja rutin. Tapi dengan kondisi seramai ini, atas arahan Pak Wali, memang perlu tenaga tambahan,” terang Raymond.

Untuk sementara, DLH mengerahkan 20 personel yang dibagi dalam beberapa shift, mulai pagi hingga dini hari. Pengamanan dan kebersihan direncanakan berlangsung 24 jam, mengingat alun-alun bersifat terbuka dan belum memiliki jam tutup.

“Kita belum menentukan jam tutup karena memang tidak mungkin ditutup. Tapi khusus playground dan air mancur nanti akan kita atur jam operasionalnya,” lugasnya.

Operasional air mancur juga akan disesuaikan dengan waktu kegiatan ibadah di Masjid Jami’. Saat waktu salat atau kegiatan keagamaan berlangsung, air mancur akan dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan.

Dari sisi anggaran, DLH Kota Malang mengakui masih melakukan penghitungan. Namun, kebutuhan biaya operasional, perawatan, keamanan, dan kebersihan diperkirakan cukup besar.

“Perkiraan sementara bisa di angka Rp400 juta sampai Rp500 juta per tahun,” ungkap Raymond.

Ia menambahkan, kondisi infrastruktur pendukung seperti toilet juga membutuhkan perhatian. Sistem septic tank yang masih lama diperkirakan harus dikuras dua hingga tiga kali dalam setahun, dan ke depan diperlukan tambahan bak kontrol yang tentu memerlukan anggaran tambahan.

DLH juga membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk dalam bentuk branding dan dukungan pemeliharaan taman.

“Kalau brandingnya berkelanjutan, maka kerja samanya juga berkelanjutan. Bisa untuk perawatan atau perbaikan ke depan,” beber dia.

Raymond menegaskan, tujuan utama pengelolaan alun-alun bukan sekadar menjaga keindahan, tetapi memastikan ruang publik ini tetap aman, nyaman, bersih, dan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat dalam jangka panjang.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *