google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pegiat Bantengan Diminta Bersatu Lewat Paguyuban

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Mojokerto, iKoneksi.com – Kesenian Bantengan, warisan budaya khas Jawa Timur yang telah mengakar di kaki Gunung Welirang, kembali menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan daerah. Dalam sebuah sarasehan budaya yang digelar di Balai Diklat Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/6/2025), Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Mojokerto, Elia Joko Sambodo, menyampaikan saran penting kepada para pegiat seni Bantengan: berserikatlah dalam satu wadah organisasi.

Menurutnya, terbentuknya sebuah paguyuban atau organisasi kesenian Bantengan sangat penting, bukan hanya sebagai tempat berhimpun, tetapi juga untuk menyatukan suara dan arah perjuangan para seniman tradisi. Ia menekankan selama ini persoalan dalam kelompok seni kerap muncul karena tidak adanya koordinasi terpadu, yang membuat satu persoalan bisa menimbulkan berbagai perbedaan pendapat di lapangan.

“Saya menyarankan para pegiat seni berserikat dalam suatu organisasi sejenis paguyuban. Ini tentu agar tak ada benteng celeng dalam satu persoalan yang sama,” kata Joko, menggunakan istilah lokal yang menggambarkan perpecahan pendapat dalam kelompok.

Masalah Perizinan dan Larangan Pentas Malam

Dalam forum yang berlangsung hangat itu, Joko juga mendengarkan berbagai keluhan dari para pelaku seni. Salah satu yang paling menonjol adalah soal mahalnya biaya perizinan serta pelarangan pertunjukan Bantengan di malam hari. Larangan ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban, namun dinilai menghambat kreativitas para seniman.

Menanggapi hal tersebut, Joko menyatakan akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait agar solusi bisa ditemukan. Menurutnya, tidak tepat jika alasan keamanan menjadi dasar mutlak untuk melarang kesenian digelar di malam hari. Sebab, kesenian rakyat seperti Bantengan memiliki daya pikat tersendiri justru saat dimainkan pada waktu malam.

“Tentang aduan bapak tadi, maka akan dikoordinasikan. Sebagai wakil dari bapak semua, saya sudah memahami persoalannya. Tentang pentas di malam hari, itu tak bisa menjadi alasan keamanan lalu dilarang,” tegasnya.

Menjaga Ketertiban adalah Tanggung Jawab Bersama

Meski demikian, Joko juga mengingatkan keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat kepolisian. Ia menekankan para pegiat kesenian juga harus ikut bertanggung jawab dengan mengedukasi anggota kelompok masing-masing agar tetap menjaga ketertiban selama pementasan.

“Memang tugas kepolisian adalah kamtibmas. Namun masyarakat dan pegiat seni harus mengedukasi anggotanya agar tetap menjaga ketertiban,” tegasnya lagi.

Ajakan ini menjadi catatan penting bagi para pegiat seni Bantengan, bahwa eksistensi kesenian tidak hanya soal ekspresi budaya, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dalam menjaga suasana yang aman dan nyaman bagi semua pihak.

Bantengan, Warisan Budaya dari Kaki Gunung Welirang

Sebagai informasi, Bantengan telah diakui oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai kesenian rakyat yang berasal dari Desa Made, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Kesenian ini menggabungkan unsur mistis, tarian, silat, hingga musik tradisional yang dimainkan dalam nuansa spiritual dan meriah.

Desa Made yang berada di kaki Gunung Welirang dikenal sebagai tempat lahirnya kesenian ini. Namun dalam beberapa dekade terakhir, Bantengan menghadapi ancaman kepunahan karena perubahan zaman dan minimnya perhatian serius dari pemerintah.

Melalui sarasehan ini, harapan baru pun muncul. Bila para pegiat Bantengan bersatu dalam satu paguyuban, persoalan-persoalan teknis maupun administratif bisa ditangani bersama. Mereka juga bisa memiliki posisi tawar lebih kuat saat berhadapan dengan lembaga pemerintah atau aparat keamanan.

Persatuan Kunci Kelestarian Kesenian Rakyat

Joko menuturkan langkah membentuk paguyuban bukan sekadar formalitas. Dalam dunia seni tradisi, organisasi yang solid bisa menjadi payung pelindung, tempat berbagi ilmu, dan wadah regenerasi. Dari situ, seni Bantengan tidak hanya hidup sebagai pertunjukan, tapi juga sebagai identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

“Kini, bola ada di tangan para pegiat kesenian. Bersatu dalam wadah resmi bukan hanya demi memudahkan perizinan, tapi juga demi mewujudkan mimpi bersama: menjadikan Bantengan sebagai kesenian yang tidak sekadar dilestarikan, tetapi juga berkembang dan dihargai di tanah kelahirannya sendiri,” tutup Joko. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *