google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pematangsiantar Kembali Gagas PTN di Tengah Tantangan Moratorium

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Setelah genap 100 hari masa kerja pertama Wali Kota Wesly Silalahi dan Wakil Wali Kota Herlina, wacana pendirian Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Pematangsiantar kembali menggeliat. Wacana ini sejatinya bukan barang baru, namun kini menemukan momen strategis untuk digerakkan kembali—meski tantangan yang dihadapi jauh dari ringan.

Langkah awal ditempuh Pemerintah Kota (Pemko) melalui rencana pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) khusus yang akan mengawal proses pendirian PTN. Kepala Bappeda Pematangsiantar, Dedi Idris Harahap, menegaskan bahwa upaya ini telah dijalankan meskipun harus bersabar menunggu pencabutan moratorium pendirian PTN oleh pemerintah pusat.

“Strategi pembentukan tim Pokja masih tersendat karena moratorium dari pusat. Namun kami tetap berkoordinasi dengan Kemendikbudristek dan kementerian lain untuk menjajaki kemungkinan mendirikan perguruan tinggi kedinasan di Siantar,” kata Dedi saat dikonfirmasi iKoneksi.com, Senin (7/6/2025).

Ia menambahkan, koordinasi juga melibatkan Dinas Pendidikan serta Kementerian Dalam Negeri agar langkah ini tetap berjalan meski belum masuk tahap konkret pendirian institusi.

Siantar dan Jejak Kota Pelajar yang Memudar

Gagasan menghadirkan PTN di Pematangsiantar tidak semata persoalan fasilitas pendidikan tinggi.

“Lebih dari itu, hal ini berkaitan erat dengan upaya mengembalikan identitas lama kota ini sebagai “Kota Pelajar”, sebuah julukan yang akrab melekat sejak era 1950-an hingga 1990-an,” jelas Dedi.

Pengamat Pendidikan Kota Pematangsiantar, Bismar Sibuea, menyoroti urgensi langkah tersebut. Ia menyatakan dalam beberapa dekade terakhir, posisi Pematangsiantar sebagai pusat pendidikan telah tergerus. Kota-kota lain seperti Sibolga dan Balige telah melesat jauh berkat sekolah-sekolah unggulan dan kehadiran investor pendidikan.

“Siantar kini tidak punya daya tarik pendidikan seperti dulu. Banyak pelajar cerdas kita justru memilih keluar kota demi mengakses sekolah unggulan,” kata Bismar.

Menurutnya, kondisi ini menyebabkan fenomena brain drain dari Siantar, di mana potensi terbaik daerah memilih meninggalkan kampung halaman demi kesempatan pendidikan yang lebih baik.

Harapan Baru: Sinergi, Regulasi, dan Keberanian

Meski demikian, Bismar melihat peluang baru bagi kebangkitan Pematangsiantar. Ia menilai kota ini masih memiliki modal sosial, budaya, dan intelektual yang kuat. Salah satu langkah konkret yang disarankannya adalah membentuk Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang pendidikan yang menjadi fondasi kebijakan jangka panjang.

“Kalau ada keseriusan dari pemerintah kota, ditambah dukungan tokoh masyarakat dan alumni Siantar yang sukses, kita bisa bangun konsep pendidikan unggulan yang terukur dan berkelanjutan,” tegasnya.

Bismar juga menekankan perlunya pendekatan multidisiplin yang menggabungkan potensi lokal, sumber daya alam, budaya, dan partisipasi aktif masyarakat. Menurutnya, dengan sinergi yang solid, pendirian PTN bukan mustahil terjadi, bahkan bisa menjadi tonggak penting untuk menjadikan Pematangsiantar sebagai destinasi pendidikan unggulan di Sumatera Utara.

“Pertanyaannya sekarang: mampukah Pemko merespons dengan langkah nyata dan berani?” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *