google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Petani Hingga Pelaku UMKM Curhat Soal Pupuk Dan Pemberdayaan UMKM di Rumah Aspirasi Patar Panjaitan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com — Persoalan distribusi pupuk, pembinaan usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dinilai belum tepat sasaran kembali mencuat. Sejumlah warga bermarga Siregar dan Sinaga menyampaikan langsung keluhan tersebut kepada Anggota Komisi I DPRD Kota Pematangsiantar, Patar Panjaitan, dalam audiensi yang digelar di Rumah Aspirasi Patar Panjaitan.

Dalam pertemuan itu, warga menyoroti lemahnya pemberdayaan petani dan pelaku UMKM di tingkat akar rumput. Mereka menilai banyak program bantuan belum menyentuh kebutuhan riil masyarakat, terutama petani kecil dan pelaku usaha produktif di sektor pertanian.

Patar Panjaitan mengatakan, keluhan warga berangkat dari pengalaman dan kapasitas yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat.

“Mereka ini bukan tidak punya kemampuan. Pak Sinaga mantan karyawan Bank BNI, sementara Pak Siregar aktif di kelompok-kelompok tani. Artinya, sumber daya manusianya ada,” kata Patar.

Belajar dari Pengalaman Filipina

Dalam audiensi tersebut, warga membandingkan model pemberdayaan petani di Indonesia dengan pengalaman di Filipina. Di negara tersebut, kelompok-kelompok petani baik di sektor padi, palawija, maupun peternakan memiliki wadah yang kuat, legal, dan terorganisasi, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanpa harus memulai dari nol.

“Mereka menyampaikan, kelompok tani dan UMKM di masyarakat itu sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana negara atau pemerintah hadir memberikan legalitas, akses alat, bibit unggul, dan dukungan operasional,” ujar Patar.

Menurutnya, warga tidak meminta bantuan cuma-cuma. Yang diharapkan adalah skema kerja sama dan pemberdayaan, agar usaha yang sudah berjalan bisa naik kelas.

Distribusi Pupuk dan Alsintan Jadi Sorotan

Salah satu keluhan utama yang disampaikan warga adalah soal distribusi pupuk yang kerap tidak tepat sasaran. Selain itu, bantuan alsintan dinilai belum menjangkau petani yang benar-benar membutuhkan.

“Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya bantuan, tapi bagaimana mekanisme penyalurannya. Banyak petani kesulitan mengakses pupuk, bibit unggul, dan mesin pertanian karena tidak terkoordinasi dengan baik,” tutur Patar menirukan keluhan warga.

Ia menambahkan, persoalan tersebut berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan keberlanjutan UMKM berbasis pertanian.

Dorong Kolaborasi dan Legalitas Kelompok

Menanggapi aspirasi itu, Patar menyatakan siap menjembatani komunikasi warga dengan pemerintah daerah dan dinas terkait. Ia menyebut akan menyandingkan gagasan warga dengan Dinas Pertanian Kota Pematangsiantar, termasuk membuka peluang akses bibit unggul secara gratis dan pengadaan mesin pertanian melalui skema koperasi.

“Kalau pupuk atau usaha pupuk, nanti bisa kita pikirkan mesinnya. Tapi harus jelas siapa yang mengelola, bentuk UMKM-nya apa, dan legalitasnya bagaimana,” terang Patar.

Patar juga membuka kemungkinan kolaborasi lintas sektor, termasuk melalui organisasi dan jaringan yang ada, agar pemberdayaan masyarakat berjalan berkelanjutan.

Rumah Aspirasi Jadi Ruang Diskusi Warga

Ia menegaskan, Rumah Aspirasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat menerima keluhan, tetapi juga ruang diskusi dan perumusan solusi bersama.

“Sekretariat ini bisa dipakai warga untuk berdiskusi, menyusun konsep, dan menyatukan kelompok-kelompok tani maupun UMKM,” sebut Patar.

Menurutnya, pendekatan pemberdayaan harus berbasis potensi yang sudah ada, bukan sekadar pola bantuan sesaat.

“Bukan karena mereka tidak mampu, tapi bagaimana meningkatkan derajat produktivitas baik pertanian, UMKM, maupun peternakan,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *