google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pokja Batu Desak Pembatasan Lahan Investasi, Wali Kota Sepakat Jaga Hijau Kota

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kota Batu, suara refleksi dan keprihatinan datang dari Kelompok Kerja (Pokja) Kota Batu. Dalam sebuah sarasehan yang digelar di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Senin (14/10), Pokja menyoroti ancaman terhadap lahan hijau yang semakin menyempit akibat maraknya investasi di sektor konstruksi.

Mereka menegaskan, jika tak segera dikendalikan, Kota Batu bisa kehilangan jati dirinya sebagai kota sejuk, asri, dan berkarakter pedesaan pegunungan.

Kegelisahan Pokja: Batu Mulai Kehilangan Ruang Hijau

Ketua Presidium Pokja Peningkatan Status Kota Batu, Andrek Prana, menjadi sosok yang paling vokal dalam forum tersebut. Dengan nada cemas, ia menyinggung peningkatan minat investor yang kian tinggi untuk menanam modal di Kota Batu, terutama di bidang properti dan pariwisata.

“Lahan yang bisa digunakan untuk bermukim hanya 40 persen, sementara 60 persen lainnya merupakan lahan hutan,” ujarnya.

Andrek menilai, tren pembangunan hotel, vila, dan perumahan mewah yang terus meningkat berpotensi menggerus ruang hijau yang selama ini menjadi identitas dan daya tarik utama Kota Batu. Bila tidak ada batas tegas, katanya, wajah Batu akan berubah dari kota agraris sejuk menjadi kawasan beton yang padat dan kehilangan nilai ekologisnya.

Ia menegaskan, para pendiri Kota Batu (founding fathers) dulu memperjuangkan otonomi daerah ini agar bisa berdiri sebagai kota yang mengutamakan keasrian, keseimbangan lingkungan, dan kearifan lokal. Oleh karena itu, semangat itu harus dijaga.

“Pembangunan memang perlu, tapi jangan sampai merusak identitas dan keseimbangan alam yang sudah diwariskan oleh para pendiri kota,” tegas Andrek.

Desakan Pembatasan Investasi: Demi Menjaga Nuansa Pedesaan

Dalam forum tersebut, Pokja meminta Pemerintah Kota Batu (Pemkot) segera membuat aturan pembatasan lahan investasi, terutama bagi sektor-sektor yang berpotensi menimbulkan eksploitasi ruang terbuka hijau.

Tujuannya sederhana: menjaga nuansa pedesaan, udara sejuk, dan daya tarik wisata alam yang menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat Batu.

Andrek juga menyoroti pentingnya kebijakan pembangunan yang lebih terarah. Menurutnya, tidak semua lahan di Batu harus dijadikan kawasan bisnis atau hunian elite. Harus ada peta tata ruang yang jelas dan tegas, agar setiap proyek pembangunan selaras dengan visi kota wisata hijau yang berkelanjutan.

“Kalau tidak dibatasi sejak sekarang, kita bisa kehilangan identitas. Batu bukan sekadar kota wisata, tapi rumah bagi pertanian, budaya, dan kesejukan,” sebutnya.

Respons Wali Kota Nurochman: Selaras dengan Cita-cita Para Tokoh

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Batu Nurochman atau akrab disapa Cak Nur menyatakan sepakat dengan pandangan Pokja. Ia menilai bahwa arah kebijakan pembangunan Batu harus kembali ke cita-cita awal, yakni menjaga keseimbangan antara pertanian, pariwisata, dan pelestarian lingkungan.

“Semua rekomendasi Pokja akan menjadi atensi penting dalam perumusan kebijakan kami. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kami butuh dukungan seluruh elemen masyarakat,” tegas Cak Nur.

Ia juga menyebut, Pemkot Batu saat ini tengah mengembangkan konsep smart integrated farming serta program petani muda berjaya sebagai langkah konkret menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah arus urbanisasi.

Menurutnya, investasi memang diperlukan, namun tidak boleh mengorbankan keseimbangan alam. Ia memastikan setiap izin investasi harus mematuhi peta lahan hijau dan analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang ketat.

“Investasi harus sejalan dengan kelestarian. Tidak boleh ada pembangunan yang mengabaikan aspek lingkungan,” ujar Cak Nur.

Menatap Batu ke Depan: Membangun Tanpa Merusak

Diskusi hangat antara Pokja dan Pemkot Batu ini menjadi momentum penting dalam menentukan arah masa depan Kota Batu. Di usia yang ke-24, Batu dihadapkan pada pilihan besar: menjadi kota modern yang tetap hijau, atau menjadi kota beton yang kehilangan kesejukan dan jiwanya.

Andrek berharap, suara yang mereka suarakan bukan sekadar peringatan, melainkan pengingat moral bagi semua pihak agar pembangunan tidak melupakan warisan ekologis dan sosial yang menjadi dasar berdirinya kota ini.

Cak Nur pun menutup forum dengan komitmen tegas: Batu harus tumbuh dengan bijak.

“Kami tidak akan membiarkan kota ini kehilangan keseimbangannya. Batu harus maju tanpa kehilangan hijaunya,” tandasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *