google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Prabowo Bantah Jadi Presiden Boneka Jokowi

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Isu matahari kembar yang mencuat di awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali memanas setelah sejumlah menteri berbondong-bondong bersilaturahmi ke rumah Joko Widodo (Jokowi) saat Lebaran. Spekulasi bahwa Prabowo hanyalah ‘presiden boneka’ yang dikendalikan Jokowi pun berkembang liar di ruang publik. Namun, Prabowo tak tinggal diam. Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Senin (5/5/2025), ia menyampaikan bantahan keras dan lugas yang menepis tudingan tersebut.

Tegas Bantah Jadi Presiden Boneka

Presiden Prabowo Subianto secara langsung membantah dirinya dikendalikan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Dalam forum resmi Sidang Kabinet Paripurna yang berlangsung di Kantor Presiden, Prabowo menyatakan bahwa dirinya adalah pemimpin penuh, bukan boneka yang digerakkan oleh orang lain.

“Saya dibilang presiden boneka. Dikatakan saya dikendalikan oleh Pak Jokowi. Seolah Pak Jokowi setiap malam menelepon saya. Saya katakan itu tidak benar,” kata Prabowo dengan nada tegas.

Pernyataan ini menyasar langsung pada spekulasi yang beredar bahwa Jokowi masih memegang kendali politik di balik layar, terutama karena putranya, Gibran Rakabuming Raka, kini menjadi Wakil Presiden mendampingi Prabowo.

Konsultasi Bukan Berarti Diperintah

Prabowo tidak membantah dirinya kerap berdiskusi dan berkonsultasi dengan Jokowi. Namun, ia menekankan bahwa hal itu bukan berarti dirinya tidak memiliki otoritas sebagai presiden. Konsultasi dilakukan karena menghormati pengalaman Jokowi sebagai pemimpin Indonesia selama 10 tahun.

“Saya berkonsultasi karena beliau punya pengalaman. Tapi saya juga berkonsultasi dengan Presiden SBY, Ibu Megawati. Kalau bisa, saya juga akan berkonsultasi dengan Bung Karno, Pak Harto, atau Gus Dur,” ucap Prabowo, disambut tawa hadirin.

Ia menegaskan, berdiskusi dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya adalah bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa mereka, bukan tanda bahwa dirinya dikendalikan.

Pujian untuk Jokowi Bukan Bentuk Kepatuhan

Dalam sidang yang sama, Prabowo juga melontarkan pujian terhadap prestasi Jokowi, terutama dalam menjaga inflasi nasional. Ia mengaku mengagumi bagaimana Jokowi dapat menstabilkan ekonomi dengan pendekatan praktis dan pengalaman langsung sebagai kepala daerah.

“Pengalaman beliau sebagai wali kota mungkin yang membuat beliau memahami bagaimana mengelola inflasi. Ini hal yang tidak diajarkan di Harvard atau MIT,” ucap Prabowo sambil menepis anggapan pujiannya dilandasi hubungan pribadi atau kehadiran Gibran di sebelahnya.

Menurut Prabowo, pengakuan terhadap prestasi pendahulunya adalah bagian dari budaya kenegaraan yang sehat, bukan sinyal bahwa ia patuh secara politik.

Isu Matahari Kembar dan Silaturahmi Menteri

Isu tentang dua matahari dalam pemerintahan mencuat setelah sejumlah menteri kabinet Prabowo, termasuk Budi Gunadi Sadikin dan Wahyu Trenggono, bersilaturahmi ke kediaman Jokowi dan bahkan menyebutnya sebagai bos. Momen ini terjadi saat Lebaran dan memicu spekulasi bahwa loyalitas sebagian menteri masih terpecah.

Menanggapi hal ini, Menteri Sekretaris Negara sekaligus juru bicara Presiden, Prasetyo Hadi, membantah keras. Menurutnya, silaturahmi tidak bisa dijadikan dasar untuk membangun narasi adanya dua pusat kekuasaan.

“Silaturahmi itu bagian dari budaya kita. Jangan kemudian disalahtafsirkan seolah ada matahari kembar,” kata Prasetyo.

Jokowi Tegaskan Hanya Ada Satu Pemimpin

Mantan Presiden RI, Jokowi sendiri juga telah menegaskan dirinya tidak ikut campur dalam roda pemerintahan yang kini dipimpin Prabowo.

“Saya sudah sampaikan berulang kali, tidak ada matahari kembar. Matahari itu hanya satu, yaitu Presiden Prabowo Subianto,” tegas Jokowi saat ditemui di Menteng, Jakarta, (22/4/2025).

Pernyataan ini memperkuat posisi Prabowo sebagai pemegang kendali penuh atas pemerintahan, meskipun hubungan baik antara keduanya tetap terjaga.

Prabowo Libatkan Jokowi dan SBY di Proyek Strategis

Menariknya, dalam beberapa kegiatan peresmian proyek strategis seperti peluncuran Badan Pengelola Investasi Danantara atau peresmian bullion bank (bank emas), Prabowo secara terbuka mengundang Presiden Jokowi dan SBY sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.

“Kalau ada program yang jasanya sebelumnya besar, presiden sebelumnya harus dihadirkan,” ujar Prabowo dalam peresmian bank emas di Jakarta, Februari lalu.

Politik Terbuka atau Panggung Simbolik?

Bantahan Prabowo, dukungan dari Jokowi, serta narasi dari para pembantu presiden tampaknya menjadi strategi untuk memadamkan kegaduhan isu presiden boneka. Namun, publik masih menyimpan rasa penasaran: apakah hubungan Prabowo-Jokowi benar-benar simetris dan sehat? Ataukah ini bagian dari panggung simbolik yang sengaja dirancang untuk menjaga stabilitas politik? (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *