google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Riset UB Temukan Mikroplastik di DAS Brantas, Peneliti Desak Mitigasi Serius

  • Bagikan
Tim PSPK sedang melakukan pengambilan sampling air. ( Foto: Humas UB for iKoneksi.com )
banner 468x60

Malang, iKoneksi.com – Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait pencemaran mikroplastik di aliran Sungai Brantas. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu ditemukan mulai dari kawasan hulu hingga wilayah pesisir, menandakan pencemaran telah menyebar luas di ekosistem perairan.

Ketua tim riset mikroplastik dari Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) UB, Prof. Andi Kurniawan, menegaskan pemerintah perlu meningkatkan mitigasi mikroplastik, karena partikel ini sudah masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

“Penelitian dilakukan di sejumlah titik strategis yang mewakili aliran Sungai Brantas dari hulu hingga hilir. Pengambilan sampel dimulai dari mata air Brantas, berlanjut ke wilayah tengah aliran sungai, hingga mencapai muara. Kajian juga mencakup kawasan pesisir seperti Pulau Lusi dan Sendang Biru,” kata Andi.

Hasilnya menurut Andi, kandungan mikroplastik berbeda-beda di tiap lokasi dan waktu pengambilan sampel. Di aliran sungai, rata-rata ditemukan 2 hingga 8 partikel per liter air. Namun, jumlah tersebut meningkat tajam mendekati kawasan pantai.

“Temuan tertinggi kami mencapai sekitar 40 partikel per liter di wilayah pesisir,” jelas Andi.

Menurutnya, fakta bahwa mikroplastik ditemukan dari sumber mata air hingga laut menunjukkan pencemaran telah menjalar di seluruh rantai ekosistem perairan. Karena itu, upaya mitigasi dinilai semakin mendesak.

Ia menyoroti belum adanya standar baku mutu mikroplastik sebagai salah satu kendala pengendalian. Langkah awal yang disarankan adalah memperkuat perlindungan konsumen, misalnya dengan mengevaluasi standar kemasan air minum dan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat.

“Selain itu, pengawasan terhadap potensi masuknya bahan pencemar ke aliran sungai juga perlu diperketat,” tekan Andi.

Andi mendorong pemerintah untuk melengkapi regulasi perlindungan air dan lingkungan, termasuk perlindungan terhadap manusia dan hewan dari paparan mikroplastik.

Ia juga meminta dukungan dari sektor kesehatan, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk mendorong riset yang lebih mendalam tentang dampak mikroplastik terhadap kesehatan, meski saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan ambang batas resmi.

“PSPK UB sendiri terus memperkuat perannya dalam riset mikroplastik nasional. Sejak 2021, penelitian di bidang ini konsisten melibatkan mahasiswa, menghasilkan berbagai tesis dan publikasi ilmiah,” ungkap Andi.

Andi menambahkan, riset mikroplastik di UB juga terintegrasi dengan bidang ekologi mikroba, khususnya studi tentang biofilm. Lapisan mikroorganisme tersebut diketahui memiliki kemampuan alami menyerap partikel mikroplastik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi pencemaran di perairan.

“Melalui penelitian ini, PSPK UB berharap Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam agenda global terkait keamanan air dan mitigasi pencemaran mikroplastik, kandasnya,” tutup Andi.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *